gowa

Mengulik Sejarah di Makassar..

Jarum jam mulai menunjuk ke angka 12, namun matahari pun tak muncul juga. Dari pagi hingga siang, Makassar dibasahi oleh tetesan air hujan. Bukan curahan hujan besar memang, tapi cukup mengganggu kami untuk menjelajahi kota ini. Rencana untuk nge-backpack pun gagal total, dengan terpaksa kami harus menyewa mobil untuk berkeliling. Ketika itu kami dihadapkan dua pilihan yaitu menunggu hujan yang sudah hampir 5 jam tidak berhenti, sedangkan kami cuma punya satu hari di Makassar (besok sudah harus pindah kota lagi) atau menggunakan cadangan biaya tak terduga kami untuk menyewa mobil dengan harga yang tidak murah. Belum terpikirkan apakah akan ada kesempatan kembali ke kota ini untuk kedua kalinya, jadi marilah kami hajar sekarang.

Info penting : Objek wisata di Makassar terletak saling berjauhan. Apabila ditempuh dengan angkutan umum harus nyambung lagi dengan angkutan lain, selain tidak efektif, metode ini sangat rawan nyasar. Jangan harap di sini ada penyewaan motor, karena sama sekali tidak ada. Ketika menyewa mobil pun, kami harus mendatangi sebuah kantor tour agent terlebih dahulu. Dari kantor itulah kami mendapatkan sebuah mobil Karimun sewa dengan supir. Kami mencoba untuk me-lobi tour agent tersebut untuk mengurangi harganya karena kami tidak membutuhkan supir, kami mempunyai peta dan masing-masing mempunyai sim A. Tetapi mereka menjawab, “disini bukan Bali, jadi tidak bisa menyewa mobil dengan lepas kunci.” Lepas kunci maksudnya menyewakan mobil tanpa supir. Waktu pun terus berjalan, semakin lama kami berpikir semakin banyak waktu yang terbuang. Akan lebih rugi lagi, kalau akhirnya menyewa mobil itu juga, tetapi waktunya semakin sedikit (karena mobil harus dikembalikan sebelum kantor tutup). Apa mau dikata, namanya juga biaya tak terduga, yasudah digunakan untuk penyewaan mobil tak terduga ini saja.

Setelah melihat peta, kami mulailah mengatur tempat mana dahulu yang kami datangi agar semuanya sejalan. Kami putuskan ke Makam Pangeran Diponegoro terlebih dahulu. Kenapa ke sana? Hm, rasanya pertanyaan yang lebih tepat adalah kenapa Pangeran Diponegoro sampai bisa dimakamkan di Sulawesi Selatan, padahal beliau berasal dari tanah Jawa. Cerita singkatnya, ketika masa kolonial Belanda, perlawanan Pangeran Diponegoro membuat dirinya ditangkap. Beliau sempat berpindah sel pengasingan hingga akhirnya ditempatkan di Fort Rotterdam pada tahun 1834. Ketika wafat, beliau dimakamkan di tanah Sulawesi, namum dengan kuburan tetap menggunakan bentuk kuburan orang Jawa. Di sini tidak diwajibkan membayar tiket masuk, tetapi kami memberikan uang seadanya kepada seorang penjaga (masih keturunan Pangeran Diponegoro) yang merawat dan menjaga makan tersebut.

Continue Reading →