– South Sulawesi

SELAYAR : “Salah Pulau kah?”

Gara-gara salah “memandang” pulau, akhirnya kami bisa sampai di pulau ini. Cerita awalnya, sebelum terbang ke Sulawesi sebenarnya kami sudah pernah membaca bahwa ada sebuah pulau bernama Selayar yang letaknya dekat dengan Tanjung Bira. Nah awalnya Selayar ini tidak ada dalam itinerary sehingga kami pun tidak mencari tau informasi mengenai pulau ini. Tapi karena posisi penginapan kami saat di Tanjung Bira yang menghadap langsung ke laut, terlihat dengan jelas sebuah “pulau” di seberang lautan sana. Akhirnya karena pulau itu letaknya terlihat sangat dekat, kami pun berubah pikiran dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke pulau tersebut.

“Itu pulau di seberang sana, Selayar kan ya?”

“Ya ampun, sedekat ini ya ternyata. Yuk, cobain ke sana, deket ini kok”

“Paling juga cuma setengah jam sudah nyampe ke seberang”

“Iyah, tanggung banget ya, toh sekalian udah sampai sini”

“Oke, yuk kita ke sana. Berangkatttt..”

Continue Reading →

Tanjung Bira, di Ujung Selatan Sulawesi Selatan..

Main ke Sulawesi tapi belum ke pantai, rasanya kurang afdol ya? Biar makin mantap, kami pun memilih satu pantai  untuk dicicipi. Yes, hanya satu pantai saja, dan itu pantai terbaik menurut survey kami yaitu Pantai Bira.

Memang ya, untuk mendapatkan hasil terbaik itu, diperlukan perjuangan terlebih dahulu. Karena butuh 4,5 jam dari Makassar untuk menuju Bira.

Di Makassar, kami menuju ke terminal Malengkeri. Di terminal itu terdapat mobil travel (mobil pribadi ber-plat nomor kuning) dengan rute Malengkeri – Bulukumba. Yang ajaib adalah isi penumpangnya harus 10 orang dong. Padahal mobilnya hanya sejenis Suzuki APV atau Toyota Kijang. Jika belum penuh 10 orang, mobil ini tidak akan berangkat. Belum lagi kalau penumpangnya ada yang size-nya agak besar, oalah selamat berhimpit-himpitan selama 4 jam lebih deh.

Ternyata tidak hanya kapasitas mobil ini saja yang ajaib, tetapi kelakuan driver-nya pun tak kalah mencengangkan. Bayangkan  setiap ada mobil lewat dari arah berlawanan, dia selalu meng-klakson mobil tersebut. Padahal menurut saya, mobil tersebut tidak salah apa-apa loh. Coba hitung ada berapa mobil yang lewat setiap menitnya dan driver itu selalu meng-klaksonnya sepanjang perjalanan. Perjalanan 4 jam yang harusnya bisa digunakan untuk tidur siang, eh terpaksa harus dipakai untuk mendengarkan “teetttttt..teeeeetttt!!” Belum lagi, gaya nyetir-nya yang seperti pembalap. Coba kalian bayangkan situasinya: berhimpitan di dalam mobil, sambil setengah ugal-ugalan nyetirnya ditambah dengan iringan klakson selama 4 jam non-stop. Fiuh! Benar-benar super sabar ini mah. Haha. Semoga ini cuma kami saja yang lagi sial, agar kalian tidak mengurungkan niatnya untuk ke sini ya.

Tapi ternyata ada sisi positifnya juga loh. Di mobil ini, kami bertemu seorang ibu yang menawarkan rumahnya jikalau nanti kami butuh penginapan sepulangnya dari Bira. Ah, baiknya ibu ini. Belum lagi, beliau juga bersedia menemani kami untuk berkeliling Makassar loh. Ah sayangnya kami udah keburu explore Makassar sehari sebelum kami ke sini, bu. Kata si ibu, beliau kagum banget sama kami karena masih muda untuk berani berkeliling. Ciye!

Begitu sampai Bulukumba rasanya lega pol. Saya langsung melakukan perenggangan. Duh, merasakan kesunyian rasanya benar-benar anugerah, saya trauma sesaat dengan bunyi klaskson saat itu. Haha.

Nah, di Bulukumba kami malah bingung nih mau nyambung pake angkot apa ke Bira? Setelah tanya sana-sini, kami pun melanjutkan perjalanan dengan angkot berwarna kuning yang ongkosnya sebesar Rp 2.000. Tapi ternyata angkot itu tidak mengantarkan kami sampai ke Bira sehingga kami harus nyambung dengan angkot lain untuk sampai ke Bira. Masalah terbesarnya adalah angkot menuju Bira hanya ada sampai jam 5 sore, sedangkan saat kami tiba di sana sudah jam 5.30. Nah loh, bagaimana ini? Melihat kami kebingungan, ibu-ibu dalam angkot pun berusaha memberi saran kepada kami. Tapi mereka ngomongnya pake bahasa lokal dong, kami cuma bisa bengong mendengarkannya.

Terus  tiba-tiba ada supir ojek yang mendekati angkot dan coba menawarkan jasanya pada kami. Tapi tukang ojek itu ngomongnya juga pakai bahasa lokal, jadinya kami juga bingung mau jawab apa. Haha. Sampai akhirnya ada ibu yang tadinya diam pun ikutan bicara. Ibu ini bisa bahasa Indonesia dengan lancar ternyata loh, kenapa dari tadi diam aja bu? Akhirnya setelah diterjemahkan oleh si ibu, kami pun setuju untuk naik ojek menuju Bira.

Continue Reading →

Bermain dan Nongkrong di Makassar..

Lanjutan dari cerita sebelumnya nih. Setelah puas belajar sejarah, nah sekarang waktunya bermain. Yuk!

Ketika menjelang gelap, akhirnya kami putuskan untuk mencoba wahana permainan baru di Makassar, namanya Trans Studio Theme Park. Ini merupakan taman bermain hiburan seperti Universal Studio tapi tidak outdoor, melainkan indoor karena berada dalam bangunan yang mirip seperti shopping mall. Di dalamnya dibagi menjadi 4 kawasan tema yaitu Studio Central, Lost City, Magic Corner dan Cartoon City. Masing-masing kawasan tersebut berisi wahana yang berkaitan dengan tayangan Trans Tv maupun Trans 7 seperti Si Bolang, Jelajah, Dunia Lain dll. Namun, ada juga wahana lainnya seperti cinema 4D.

Continue Reading →

Mengulik Sejarah di Makassar..

Jarum jam mulai menunjuk ke angka 12, namun matahari pun tak muncul juga. Dari pagi hingga siang, Makassar dibasahi oleh tetesan air hujan. Bukan curahan hujan besar memang, tapi cukup mengganggu kami untuk menjelajahi kota ini. Rencana untuk nge-backpack pun gagal total, dengan terpaksa kami harus menyewa mobil untuk berkeliling. Ketika itu kami dihadapkan dua pilihan yaitu menunggu hujan yang sudah hampir 5 jam tidak berhenti, sedangkan kami cuma punya satu hari di Makassar (besok sudah harus pindah kota lagi) atau menggunakan cadangan biaya tak terduga kami untuk menyewa mobil dengan harga yang tidak murah. Belum terpikirkan apakah akan ada kesempatan kembali ke kota ini untuk kedua kalinya, jadi marilah kami hajar sekarang.

Info penting : Objek wisata di Makassar terletak saling berjauhan. Apabila ditempuh dengan angkutan umum harus nyambung lagi dengan angkutan lain, selain tidak efektif, metode ini sangat rawan nyasar. Jangan harap di sini ada penyewaan motor, karena sama sekali tidak ada. Ketika menyewa mobil pun, kami harus mendatangi sebuah kantor tour agent terlebih dahulu. Dari kantor itulah kami mendapatkan sebuah mobil Karimun sewa dengan supir. Kami mencoba untuk me-lobi tour agent tersebut untuk mengurangi harganya karena kami tidak membutuhkan supir, kami mempunyai peta dan masing-masing mempunyai sim A. Tetapi mereka menjawab, “disini bukan Bali, jadi tidak bisa menyewa mobil dengan lepas kunci.” Lepas kunci maksudnya menyewakan mobil tanpa supir. Waktu pun terus berjalan, semakin lama kami berpikir semakin banyak waktu yang terbuang. Akan lebih rugi lagi, kalau akhirnya menyewa mobil itu juga, tetapi waktunya semakin sedikit (karena mobil harus dikembalikan sebelum kantor tutup). Apa mau dikata, namanya juga biaya tak terduga, yasudah digunakan untuk penyewaan mobil tak terduga ini saja.

Setelah melihat peta, kami mulailah mengatur tempat mana dahulu yang kami datangi agar semuanya sejalan. Kami putuskan ke Makam Pangeran Diponegoro terlebih dahulu. Kenapa ke sana? Hm, rasanya pertanyaan yang lebih tepat adalah kenapa Pangeran Diponegoro sampai bisa dimakamkan di Sulawesi Selatan, padahal beliau berasal dari tanah Jawa. Cerita singkatnya, ketika masa kolonial Belanda, perlawanan Pangeran Diponegoro membuat dirinya ditangkap. Beliau sempat berpindah sel pengasingan hingga akhirnya ditempatkan di Fort Rotterdam pada tahun 1834. Ketika wafat, beliau dimakamkan di tanah Sulawesi, namum dengan kuburan tetap menggunakan bentuk kuburan orang Jawa. Di sini tidak diwajibkan membayar tiket masuk, tetapi kami memberikan uang seadanya kepada seorang penjaga (masih keturunan Pangeran Diponegoro) yang merawat dan menjaga makan tersebut.

Continue Reading →

Cerita Spesial Perjalanan Ke Toraja..

Ternyata ketika dalam perjalanan menuju Toraja, bus saya melewati Pare-pare. Selama ini, saya tidak mempunyai bayangan apapun mengenai kota ini.

Ternyata Pare-pare adalah kota yang terletak di pinggir laut. Tetapi karena tempat duduk kami di sebelah kanan, sedangkan laut tersebut di sebelah kiri, memberikan pemandangan yang berbeda. Coba bayangkan ketika bus tersebut melaju sepanjang pinggir pantai, tetapi bukan suasana seperti Bali yang rasakan. Itulah memberikan kesan tersendiri bagi saya.

Continue Reading →