Travel Notes

Selayar : “Salah Pulau kah?”


2012
05.05

Gara-gara salah “memandang” pulau nih, akhirnya kami bisa sampai di pulau ini. Awal ceritanya begini nih, sebelum terbang ke Sulawesi, sebenarnya kami udah tahu kalau ada sebuah pulau bernama Selayar yang letaknya dekat dengan Tanjung Bira. Nah, sebenarnya Selayar ini tidak ada dalam itinerary kami, sehingga kami pun tidak mencari tau informasi mengenai pulau ini. Tapi, karena posisi penginapan (Tj. Bira) kami yang menghadap ke arah “pulau” di seberang lautan sana, akhirnya kami pun berubah pikiran.

“Eh, itu pulau di seberang sana Selayar kan ya?”

“Ya ampun, sedekat ini ya ternyata. Yuk, cobain ke sana, deket ini kok”

“Paling juga cuma setengah jam, udah nyampe ke seberang”

“Iyah, tanggung banget ya, toh sekalian udah sampai sini”

“Okay, yuk kita ke sana. Berangkatttt..”

Besoknya, kami pun ke pelabuhan untuk beli tiket ferry menuju Selayar. Okay, tiket penyeberangan Bira-Lamatata seharga Rp.19.000 (Januari 2010) sudah di tangan nih. Kami pun segera kembali ke penginapan untuk packing dan makan siang. Nah, pas momen makan siang inilah sebuah fakta terungkap. Di restoran itu terpajang sebuah peta Tanjung Bira dan sekitarnya. Di situ, barulah kami sadar, bahwa pulau seberang yang selama ini kami kira Pulau Selayar, ternyata pulau yang berbeda dong. Haha. Entah apa nama pulau di seberang itu, yang pasti itu bukanlah Selayar. Dan ternyata Selayar itu masih jauh di selatan lagi, kawan. Fiuh! Kami shock campur ketawa pas melihat peta itu. Haha.

“Bagaimana dong, nih?”

“Yasudah, toh sebelumnya niat ke Selayar udah bulat kan. Udah, hajar aja !!”

“Okelah, udah terlajur basah begini. Haha”

Sekitar jam 2.30, ferry kami pun bergerak meninggalkan Bira. Penyebrangan ini memakan waktu 2,5 – 3 jam. Ketika kami tiba di pelabuhan Selayar, kami benar-benar bingung total. Karena ternyata tipikal kehidupan di pulau ini, berbeda banget sama pulau-pulau lain yang pernah kami kunjungi selama ini. Kalau pulau itu biasanya setiap deket pelabuhan atau pantai pasti banyak rumah penduduk kan ya? Atau setiap ada pantai, sedikitnya ada 1 rumah yang dijadikan homestay lah. Tapi, di pantai depan mata kami sekarang, tidak ada satu rumah pun dong. Semuanya hanya air, pasir dan pohon kelapa. “Hah, gimana ini, mesti kemana ini?” Langit pun semakin gelap, dan kami masih belum punya tujuan.

Okay, dengan cepat kami langsung buka buku sakti berinisial “LP” untuk mencari informasi tentang pulau ini. Di situ tertulis bahwa main town di pulau ini adalah kota Benteng. Kami pun segera bertanya sana sini, bagaimana cara menuju Benteng. Semakin lama pelabuhan ini pun semakin gelap dan sepi, sedangkan kami masih sibuk mencari bantuan. Huff, akhirnya ada satu kondektur bus yang berkata, “ayo, kalau mau ke Benteng, masih ada bangku di belakang.”

Kami pun segera naik ke bus tersebut. Busnya sesak banget. Di bagian belakang bus pun telah penuh dengan tas-tas penumpang yang tumpang tindih, termasuk tas kami juga ada di situ. Eits, bukan hanya tas, ternyata ada kotak yang isinya anak ayam hidup di tumpukan paling atas. Dan sialnya lagi, kotak itu letaknya persis di belakang kepala saya. Sepanjang perjalanan, telinga saya akan diiringi dengan suara mungil ayam-ayam kecil ini, yang sejak awal sudah ber “cuit cuit cuit.” Haha.

Akhirnya, bus pun mulai bergerak. Hm, semua orang di dalam bus nampaknya adalah penduduk lokal pulau ini, cuma kami saja yang pendatang. Sepanjang perjalanan, hanya pohon kelapa dan bakau yang terlihat. Sudah hampir 1 jam lebih, kami belum juga melihat rumah penduduk. Ya ampun, udah gelap banget dan belum ada tanda-tanda kehidupan, benar-benar bikin gak tenang.

Sekitar jam 7 malam, saya baru melihat rumah-rumah penduduk. Bukannya senang, saya pun malah makin horror liatnya. Kok, pada gelap sih rumahnya? Yang anehnya, cuma beberapa rumah saja yang ada lilinnya, yang lainnya pada gelap gulita. Wih, makin campur aduk aja ini perasaan saya.

Satu per satu penumpang pun turun dari bus sesuai dengan tujuan mereka. Dan, setiap ada penumpang yang ingin mengambil tasnya di belakang, si kondektur mengeluarkan semua tas keluar bus, barulah penumpang itu memilih mana tasnya di luar. Setelah selesai, satu per satu tas itu di”lempar”kan masuk lagi. Begitulah seterusnya, setiap ada penumpang turun. Saya hanya berharap jangan sampai tas saya tertinggal di luar, karena tas saya berwarna hitam semua. Hiks.

Ah, akhirnya saya mulai melihat cahaya lampu di rumah-rumah itu. Rasanya benar-benar lega. Haha. Walau begitu, kami masih bingung nih, sebenernya kami tuh mau turun dimana sih? Lalu kami pun teringat nama penginapan yang direkomen oleh orang yang gak sengaja ketemu di ferry tadi. Akhirnya, kami pun bertanya kepada kondektur tentang penginapan itu. Untungnya si kondektur itu tau dimana letaknya. Kondektur itupun bercerita kalau rumah-rumah penduduk yang gelap tadi itu dikarenakan sedang adanya pemadaman listrik sementara. Oalah, hahaha ada-ada aja!

Keesokan paginya, saya pun memutuskan untuk jalan-jalan pagi berkeliling kota. Pagi itu, angin benar-benar kencang, ombak pun terdengar keras menghajar tembok penahan di sepanjang pantai. Hah, pantai? Salah deh, sepanjang mata memandang tidak terlihat ada pantai tuh. Sepanjang tepian sudah diberi tembok penahan (seperti di Ancol) semua untuk menahan terjangan ombak.

Bingung mencari TIC (tourist information centre) atau dinas pariwisatanya? Dan kebetulan di depan saya ada sebuah kantor polisi, saya pun coba bertanya di sana.

Saya : “Pak, punya peta wisata Selayar gak?”

Polisi : “Oh, ada. Ayo sini duduk dulu, petanya sedang diambil di dalam”

(hampir setengah jam, petanya pun tak kunjung datang)

Saya : “Pak, kalau petanya gak ada, gak apa-apa kok. Hehe”

Polisi : “Ada kok, sedang di print. Kebetulan kami sedang kehabisan”

Saya : “Oh, baiklah”

Dan gak lama kemudian, seorang polisi datang dan menyodorkan sebuah kertas kepada saya. Heh? Apa ini? Yah ini memang peta sih, tapi ini peta geografis Pak Polisi, mirip peta atlas. Terus, karena skalanya kecil, garis jalan pun gak keliatan, buat apa coba? Haduh.

Dari hasil ngobrol dengan polisi tersebut, akhirnya saya tau bahwa saya sedang berada di sebelah barat pulau ini. Dan kalau untuk wisata, di sebelah timur ada sebuah dive operator milik orang asing. Untuk menuju sana, katanya kami harus memutar pulau ini dan memakan waktu yang lama. Lalu, begitu saya tanya objek wisata lainnya di pulau ini. Mereka pun tidak tahu apa-apa sama sekali. Jadi, gak ada apa-apa nih di sini? Yakin, pak polisi?

Saya benar-benar bingung jadinya, dan memutuskan untuk lanjut ke Toraja saja ah. Karena gak tau juga mau ngapain di pulau ini (mengingat sebenarnya Selayar tidak ada dalam itinerary kami kan ya? Haha.)

Ya ampun, tidak hanya susah untuk menuju kota ini, untuk meninggalkannya jauh lebih susah lagi. Tidak ada bus ke pelabuhan pagi itu, sedangkan kami harus mengejar ferry siang. Lalu, bagaimana cara penumpang lainnya mencapai ferry coba? Aneh banget sih.

Akhirnya, dengan saran dari orang penginapan, kami pun naik becak menuju pasar. Di pasar kami mencoba untuk menyewa mobil barang untuk ke pelabuhan. Ternyata gak semua mobil mau mengantarkan kami, kalaupun mau harga sampai 700ribuan. Wow!

Okay, akhirnya kudu pake strategi nih. Okay, yang pria mending ngumpet dulu. Kalau urusan begini bagian wanita yang turun tangan. Haha. Saya sendirian nyoba nyamperin sebuah mobil barang, dengan pasang muka polos yang kebingungan mau ngejar ferry. Si sopir pun luluh. Haha, yes!! Akhirnya, saya berhasil dapat harga 300ribu. Harga paling murah dari sepanjang tawar menawar sebelumnya, karena jarak Benteng-Pelabuhan memang jauh sih dan mobil itu harus balik lagi ke kota kan.

Betapa amat sangat leganya begitu duduk di dalam ferry. Walau saya tidak dapat “hasil” apa-apa di sini, tapi ini pengalaman paling tak terlupakan. Traveling ke tempat yang antah berantah gara-gara salah nebak pulau! Haha.

Tapi sekarang (April 2012), saya benar-benar menyesal tidak dive di Selayar, apalagi setelah beberapa kali membaca artikel Selayar di majalah diving. Lain waktu Selayar tidak hanya menjadi bagian dalam itinerary, tapi tujuan utama trip. Selayar tunggu kedatanganku lagi ya!

 © kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Tanjung Bira, di Ujung Selatan Sulawesi Selatan..


2012
04.18

Main ke Sulawesi tapi belum ke pantai rasa kurang afdol ya? Biar mantap, kami pun memilih satu pantai  untuk dicicipi. Yapp, satu pantai saja, dan itu pantai terbaik menurut survei kami. Setelah browsing sana sini, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat ke Tanjung Bira.

Memang ya, untuk mendapatkan hasil terbaik itu, diperlukan perjuangan terlebih dahulu. Karena dibutuhkan 4,5 jam dari Makassar untuk menuju Bira.

Di Makassar, kami menuju ke terminal Malengkeri. Di terminal itu, terdapat mobil travel (mobil pribadi ber-plat nomor kuning) dengan rute Malengkeri – Bulukumba. Setiap orangnya dikenakan ongkos sebesar Rp 40.000. Terus yang ajaibnya adalah isi penumpangnya harus 10 orang dong. Padahal mobilnya hanya sejenis Suzuki APV atau Toyota kijang. Jika belum penuh 10 orang, mobil ini tidak akan berangkat. Belum lagi kalau penumpangnya ada yang size-nya agak besar, oalah selamat berhimpit-himpitan selama 4 jam lebih, kawan.

(more…)

Bunaken, the Best Wall Dives..


2012
04.10

Setelah 5 tahun diving sana sini, akhirnya tahun ini saya memutuskan untuk nyemplung di marine park yang namanya udah terkenal dimana-mana sejak 20 tahunan lalu. Yap, apalagi kalau bukan Bunaken. Alasan dulu belum mau ke sini, karena saya lebih pilih eksplor dive spot yang jauh-jauh dulu. Apalagi waktu masih mahasiswa, makin ramean kan makin murah jatuhnya. Haha, otak mahasiswa emang ya. Nah, kalau Bunaken terbang sendiri juga gak jadi masalah kan? Selain mudah diakses, dive operator pun sudah menjamur di sana dan informasinya pun mudah didapat via internet. Pokoknya kalau ke Bunaken, gampang bangetlah, buddies.

Bunaken emang terkenal banget dengan wall dive nya. Kalau pernah dive di Menjangan, pasti kebayang deh seperti apa wall dive itu. Buat yang belom kebayang wall dive, mudahnya ngebayangin tembok yang ditumbuhi oleh coral. Jadi, coral-nya bukan menghampar di dasar, tetapi berada di samping kita. Dan, kebanyakkan dasarnya emang jauh di bawah sana, jarang bisa melihat dasarnya walau sudah di kedalaman 25 meter.

(more…)

Muck Diving at Lembeh Strait..


2012
03.10

Awal-awal jadi diver, saya suka banget ama terumbu karang. Setiap melihat hamparan coral, girangnya minta ampun. Namun, lama-lama bosan juga, masa diving kemana-mana yang dilihat cuma coral  lagi dan lagi. Lalu, mulailah saya beralih ke ikan dan mamalia air raksasa, seperti Manta, Hiu, Mola-mola hingga Whale Shark. Rasanya, benar-benar takjub jika berhadapan langsung dengan mereka ini. Apalagi jika ketemunya yang segerombolan seperti barracuda atau giant tuna udah gede, panjang pula, rame lagi. Antara seru, takjub tambah takut-takut dikit kalau dikeroyok mereka. Haha.

Yah, siapa yang sangka sih, akhirnya saya dapat kesempatan untuk menjadi warga Raja Ampat. Tiap hari bisa diving sepuasnya. Yang awalnya ketemu manta atau hiu adalah suatu momen langka, sejak saya pindah ke Raja Ampat hampir setiap nyemplung pasti ketemu mereka. Yang tadinya, setiap ketemu mereka pasti saya sibuk moto, sekarang cuma main mata aja ama mereka. Hehe.

Dulu saya pernah mendengar beberapa kali info mengenai Lembeh. Tapi begitu tau itu diving di tempat yang isinya pasir semua, ih apa serunya (itulah yang ada di otak saya dahulu). Namun, semakin lama saya di Raja Ampat, semakin banyak info mengenai makhluk laut juga yang saya dapat. Dan ternyata makhluk laut di Lembeh itu unik dan aneh banget, belum pernah saya liat sebelumnya. Ok, ini saatnya nyobain diving tanpa hamparan coral dan gerombolan ikan-ikan nih, hanya ada padang pasir yang berwarna gelap. Dive di tempat seperti ini nama muck diving, kawan.

Begitu sampai di Manado, saya langsung putuskan akan lebih fokus diving di Lembeh daripada di Bunaken. Sampai-sampai saya diving 4 x sehari di Lembeh, termasuk night dive juga. Mau orang bilang apa tentang indahnya Bunaken, tapi bagi saya (warga ber-KTP Raja Ampat) punya pendapat tersendiri dengan kata “indah”. Mulai sombong nih, hahaha.

(more…)

Explore Weh Island


2012
01.23

Hm, Pulau Weh, Aceh tenyata benar-benar surga atas bawah. Pesona eloknya dimulai dari daratan yang kaya akan pantai menawan, segarnya air terjun, peninggalan bangunan sejarahnya, hingga alam bawah lautnya yang benar-benar indah dan unik banget. Tidak heran pulau ini menjadi salah satu destinasi wisata yang banyak diminati oleh para turis. Hal ini terbukti dari banyaknya turis yang saya temui di pulau ini, yang kebanyakkan adalah turis asing. Kalau orang-orang asing itu banyak yang berbondong-bondong ke Pulau Weh, kita sebagai orang Indonesia gak boleh kalah dong. Yah gak!

(more…)

Sekilas Festival and Travel Mart Raja Ampat 2011..


2011
12.23

Akhirnya, saya dapat kesempatan lagi untuk menginjakkan kaki di tanah Papua, tepatnya Raja Ampat sih. Ternyata, hari kedatangan saya berbarengan dengan Festival and Travel Mart Raja Ampat 2011 yang berlangsung dari 20-23 Oktober. Dari bandara, saya pun segera menuju pelabuhan rakyat untuk menyebrang menuju Waisai. Namun, tak disangka ketika tiba di pelabuhan, ternyata telah penuh dengan orang. Kalau dulu saya menyebrang dengan penduduk, sekarang menyebrangnya bareng rombongan artis ibukota dan kru stasiun tv. Makin ribet deh, malah katanya kapal sudah penuh lagi. Untung seorang teman kami sudah masuk duluan di kapal, jadi kami bisa masuk dengan alasan ada teman yang udah beli tiket di dalam kapal. Huff.

Ketika di kapal, semua orang sibuk untuk berdiri di luar, sedangkan bangku malah ditinggal kosong. Dasar aneh, saya yang gak kebagian bangku ingin duduk, eh yang dapet bangku malah milih berdiri panas-panasan. Yang ada pada ngumpul di luar semua, bikin kapal malah jadi miring-miring gak jelas.

(more…)


This site is protected by WP-CopyRightPro