Gara-gara salah “memandang” pulau nih, akhirnya kami bisa sampai di pulau ini. Awal ceritanya begini nih, sebelum terbang ke Sulawesi, sebenarnya kami udah tahu kalau ada sebuah pulau bernama Selayar yang letaknya dekat dengan Tanjung Bira. Nah, sebenarnya Selayar ini tidak ada dalam itinerary kami, sehingga kami pun tidak mencari tau informasi mengenai pulau ini. Tapi, karena posisi penginapan (Tj. Bira) kami yang menghadap ke arah “pulau” di seberang lautan sana, akhirnya kami pun berubah pikiran.
“Eh, itu pulau di seberang sana Selayar kan ya?”
“Ya ampun, sedekat ini ya ternyata. Yuk, cobain ke sana, deket ini kok”
“Paling juga cuma setengah jam, udah nyampe ke seberang”
“Iyah, tanggung banget ya, toh sekalian udah sampai sini”
“Okay, yuk kita ke sana. Berangkatttt..”
Besoknya, kami pun ke pelabuhan untuk beli tiket ferry menuju Selayar. Okay, tiket penyeberangan Bira-Lamatata seharga Rp.19.000 (Januari 2010) sudah di tangan nih. Kami pun segera kembali ke penginapan untuk packing dan makan siang. Nah, pas momen makan siang inilah sebuah fakta terungkap. Di restoran itu terpajang sebuah peta Tanjung Bira dan sekitarnya. Di situ, barulah kami sadar, bahwa pulau seberang yang selama ini kami kira Pulau Selayar, ternyata pulau yang berbeda dong. Haha. Entah apa nama pulau di seberang itu, yang pasti itu bukanlah Selayar. Dan ternyata Selayar itu masih jauh di selatan lagi, kawan. Fiuh! Kami shock campur ketawa pas melihat peta itu. Haha.
“Bagaimana dong, nih?”
“Yasudah, toh sebelumnya niat ke Selayar udah bulat kan. Udah, hajar aja !!”
“Okelah, udah terlajur basah begini. Haha”
Sekitar jam 2.30, ferry kami pun bergerak meninggalkan Bira. Penyebrangan ini memakan waktu 2,5 – 3 jam. Ketika kami tiba di pelabuhan Selayar, kami benar-benar bingung total. Karena ternyata tipikal kehidupan di pulau ini, berbeda banget sama pulau-pulau lain yang pernah kami kunjungi selama ini. Kalau pulau itu biasanya setiap deket pelabuhan atau pantai pasti banyak rumah penduduk kan ya? Atau setiap ada pantai, sedikitnya ada 1 rumah yang dijadikan homestay lah. Tapi, di pantai depan mata kami sekarang, tidak ada satu rumah pun dong. Semuanya hanya air, pasir dan pohon kelapa. “Hah, gimana ini, mesti kemana ini?” Langit pun semakin gelap, dan kami masih belum punya tujuan.

Okay, dengan cepat kami langsung buka buku sakti berinisial “LP” untuk mencari informasi tentang pulau ini. Di situ tertulis bahwa main town di pulau ini adalah kota Benteng. Kami pun segera bertanya sana sini, bagaimana cara menuju Benteng. Semakin lama pelabuhan ini pun semakin gelap dan sepi, sedangkan kami masih sibuk mencari bantuan. Huff, akhirnya ada satu kondektur bus yang berkata, “ayo, kalau mau ke Benteng, masih ada bangku di belakang.”
Kami pun segera naik ke bus tersebut. Busnya sesak banget. Di bagian belakang bus pun telah penuh dengan tas-tas penumpang yang tumpang tindih, termasuk tas kami juga ada di situ. Eits, bukan hanya tas, ternyata ada kotak yang isinya anak ayam hidup di tumpukan paling atas. Dan sialnya lagi, kotak itu letaknya persis di belakang kepala saya. Sepanjang perjalanan, telinga saya akan diiringi dengan suara mungil ayam-ayam kecil ini, yang sejak awal sudah ber “cuit cuit cuit.” Haha.
Akhirnya, bus pun mulai bergerak. Hm, semua orang di dalam bus nampaknya adalah penduduk lokal pulau ini, cuma kami saja yang pendatang. Sepanjang perjalanan, hanya pohon kelapa dan bakau yang terlihat. Sudah hampir 1 jam lebih, kami belum juga melihat rumah penduduk. Ya ampun, udah gelap banget dan belum ada tanda-tanda kehidupan, benar-benar bikin gak tenang.
Sekitar jam 7 malam, saya baru melihat rumah-rumah penduduk. Bukannya senang, saya pun malah makin horror liatnya. Kok, pada gelap sih rumahnya? Yang anehnya, cuma beberapa rumah saja yang ada lilinnya, yang lainnya pada gelap gulita. Wih, makin campur aduk aja ini perasaan saya.
Satu per satu penumpang pun turun dari bus sesuai dengan tujuan mereka. Dan, setiap ada penumpang yang ingin mengambil tasnya di belakang, si kondektur mengeluarkan semua tas keluar bus, barulah penumpang itu memilih mana tasnya di luar. Setelah selesai, satu per satu tas itu di”lempar”kan masuk lagi. Begitulah seterusnya, setiap ada penumpang turun. Saya hanya berharap jangan sampai tas saya tertinggal di luar, karena tas saya berwarna hitam semua. Hiks.
Ah, akhirnya saya mulai melihat cahaya lampu di rumah-rumah itu. Rasanya benar-benar lega. Haha. Walau begitu, kami masih bingung nih, sebenernya kami tuh mau turun dimana sih? Lalu kami pun teringat nama penginapan yang direkomen oleh orang yang gak sengaja ketemu di ferry tadi. Akhirnya, kami pun bertanya kepada kondektur tentang penginapan itu. Untungnya si kondektur itu tau dimana letaknya. Kondektur itupun bercerita kalau rumah-rumah penduduk yang gelap tadi itu dikarenakan sedang adanya pemadaman listrik sementara. Oalah, hahaha ada-ada aja!
Keesokan paginya, saya pun memutuskan untuk jalan-jalan pagi berkeliling kota. Pagi itu, angin benar-benar kencang, ombak pun terdengar keras menghajar tembok penahan di sepanjang pantai. Hah, pantai? Salah deh, sepanjang mata memandang tidak terlihat ada pantai tuh. Sepanjang tepian sudah diberi tembok penahan (seperti di Ancol) semua untuk menahan terjangan ombak.

Bingung mencari TIC (tourist information centre) atau dinas pariwisatanya? Dan kebetulan di depan saya ada sebuah kantor polisi, saya pun coba bertanya di sana.
Saya : “Pak, punya peta wisata Selayar gak?”
Polisi : “Oh, ada. Ayo sini duduk dulu, petanya sedang diambil di dalam”
(hampir setengah jam, petanya pun tak kunjung datang)
Saya : “Pak, kalau petanya gak ada, gak apa-apa kok. Hehe”
Polisi : “Ada kok, sedang di print. Kebetulan kami sedang kehabisan”
Saya : “Oh, baiklah”
Dan gak lama kemudian, seorang polisi datang dan menyodorkan sebuah kertas kepada saya. Heh? Apa ini? Yah ini memang peta sih, tapi ini peta geografis Pak Polisi, mirip peta atlas. Terus, karena skalanya kecil, garis jalan pun gak keliatan, buat apa coba? Haduh.
Dari hasil ngobrol dengan polisi tersebut, akhirnya saya tau bahwa saya sedang berada di sebelah barat pulau ini. Dan kalau untuk wisata, di sebelah timur ada sebuah dive operator milik orang asing. Untuk menuju sana, katanya kami harus memutar pulau ini dan memakan waktu yang lama. Lalu, begitu saya tanya objek wisata lainnya di pulau ini. Mereka pun tidak tahu apa-apa sama sekali. Jadi, gak ada apa-apa nih di sini? Yakin, pak polisi?
Saya benar-benar bingung jadinya, dan memutuskan untuk lanjut ke Toraja saja ah. Karena gak tau juga mau ngapain di pulau ini (mengingat sebenarnya Selayar tidak ada dalam itinerary kami kan ya? Haha.)
Ya ampun, tidak hanya susah untuk menuju kota ini, untuk meninggalkannya jauh lebih susah lagi. Tidak ada bus ke pelabuhan pagi itu, sedangkan kami harus mengejar ferry siang. Lalu, bagaimana cara penumpang lainnya mencapai ferry coba? Aneh banget sih.
Akhirnya, dengan saran dari orang penginapan, kami pun naik becak menuju pasar. Di pasar kami mencoba untuk menyewa mobil barang untuk ke pelabuhan. Ternyata gak semua mobil mau mengantarkan kami, kalaupun mau harga sampai 700ribuan. Wow!
Okay, akhirnya kudu pake strategi nih. Okay, yang pria mending ngumpet dulu. Kalau urusan begini bagian wanita yang turun tangan. Haha. Saya sendirian nyoba nyamperin sebuah mobil barang, dengan pasang muka polos yang kebingungan mau ngejar ferry. Si sopir pun luluh. Haha, yes!! Akhirnya, saya berhasil dapat harga 300ribu. Harga paling murah dari sepanjang tawar menawar sebelumnya, karena jarak Benteng-Pelabuhan memang jauh sih dan mobil itu harus balik lagi ke kota kan.

Betapa amat sangat leganya begitu duduk di dalam ferry. Walau saya tidak dapat “hasil” apa-apa di sini, tapi ini pengalaman paling tak terlupakan. Traveling ke tempat yang antah berantah gara-gara salah nebak pulau! Haha.
Tapi sekarang (April 2012), saya benar-benar menyesal tidak dive di Selayar, apalagi setelah beberapa kali membaca artikel Selayar di majalah diving. Lain waktu Selayar tidak hanya menjadi bagian dalam itinerary, tapi tujuan utama trip. Selayar tunggu kedatanganku lagi ya!
© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.





