The Louvre and Tuileries Garden..

FRANCE


The Louvre selalu menjadi salah satu tempat incaran para turis yang datang ke Paris. Berlibur ke Paris tanpa mampir ke museum ini tentul belum lengkap rasanya. Kabarnya di setiap tahun hampir 9 juta pengunjung datang mengunjungi museum ini, dan tahun ini saya menjadi salah satu dari pengunjung tersebut. Hehe. Saya sendiri sebenarnya sudah dua kali datang ke museum ini. Tapi dua-duanya tidak berhasil masuk ke dalam museumnya. Yang pertama alasannya karena pertama kali ke Paris, jadi masih heboh ingin explore sana sini di kotanya. Nah yang kedua, karena antriannya panjang sekali, jadi bikin malas untuk antri berjam-jam. Mungkin kunjungan ketiga nanti, saya akan dedikasikan 1 hari untuk jalan-jalan santai memutari museum ini. Amin!

Walaupun sekarang bangunan ini berfungsi sebagai museum, namun awalnya ini adalah istana kerajaan Perancis loh. Jika kembali ke sejarah, bangunan ini dibangun sekitar abad ke-12 oleh King Philip II. Setelah keluarga kerajaan memutuskan untuk pindah dan tinggal di Istana Versailles, bangunan ini jadikan sebagai tempat koleksi pribadi oleh King Francis I pada abad ke-16. Karena anggota kerajaan terus menambah koleksinya sehingga jumlahnya terus bertambah banyak. Hingga akhirnya pada tahun 1793 saat terjadi Revolusi Perancis, Louvre dijadikan sebagai museum seni nasional yang dibuka untuk umum. Kemudian pada 1989, seorang arsitek Amerika bernama Pei menambahkan bangunan piramida kaca di tengah kompleks Louvre ini. Dulu design piramida modern ini sempat diprotes karena dianggap tidak menyatu dengan konteks Louvre yang identik klasik. Padahal sekarang piramida kaca inilah yang menjadi icon Louvre yang mendunia. Oh ya mungkin ada yang mengira piramida kaca ini hanyalah hiasan ya? Tapi sebenarnya piramida ini berfungsi sebagai pintu masuk utama ke dalam museum loh.

Museum Louvre memamerkan lebih dari 35 ribu karya seni yang terbagi dalam tiga 3 wing bangunan. Ketiga wing tersebut memiliki nama; Sully, Denon, dan Richelieu. Di dalamnya ada 8 departemen seni yaitu Near Eastern Antiquities, Egyptian Antiquities, Greek, Etruscan and Roman Antiquities, Islamic Art, Sculptures, Decorative Arts, Paintings, and Prints and Drawings. Perlu waktu berhari-hari untuk mempelajari setiap benda seni yang ada di sini satu per satu. Untuk itu bagi yang pertama kali datang ke sini, sebaiknya langsung datangi lokasi-lokasi yang must-see item saja. Karena gosipnya, untuk melihat koleksi yang mainstream saja (skip semua benda seni yang biasa-biasa) akan membutuhkan waktu 2,5-3 jam untuk mengelilingi bangunan museum yang sangat besar ini. Saya sebenarnya sudah menyiapkan catatan kecil mengenai karya seni apa saja yang wajib dilihat di Louvre. Tapi karena tidak sempat masuk, jadi saya tidak bisa cerita banyak deh. Sebagai contekan bagi yang mau ke Louvre, saya share sedikit deh wishlist saya. Hehe.

Kebanyakan orang yang datang ke Louvre pasti ingin melihat lukisan Mona Lisa karya Leonardo da Vinci kan? Bahkan ada yang menjadikan lukisan ini sebagai alasan utamanya datang ke museum ini loh. Jika kalian salah satu pengemar lukisan ini, kalian bisa langsung menuju Denon Wing. Selain lukisan ini, dalam Denon Wing juga ada patung Dying Slave karya Michelangelo yang cukup terkenal namanya. Selain itu, ada lagi yang ingin saya lihat dalam wing ini yaitu Galerie d’apollon, sebuah hall yang dinding dan langit-langitnya dipenuni oleh lukisan. Hall ini sangat mirip dengan Hall of Mirror di Istana Versailles. Nah selanjutnya saya ingin mampir ke Richelieu Wing, karena saya sangat ingin melihat Apartment Napoleon III. Seperti kita tahu bahwa Louvre dulunya adalah istana kerajaan, dan jika kita ingin melihat seperti apa suasana tempat tinggal keluarga kerajaan dulunya, di sinilah lokasi. Karena hanya di bagian ruangan inilah yang tidak dirombak sama sekali dan tetap dibiarkan seperti dulu kala. Jika masih punya waktu lebih mungkin saya akan mampir ke Sully Wing untuk melihat patung Aphrodite (Venus of Milo) yang menjadi salah satu primadona dalam koleksi Yunani di sini.

Dua kali ke Louvre, saya cuma sempat masuk sampai bagian mall saja. Nama mall-nya adalah Carrousel du Louvre yang terletak di lantai bawah museum. Seperti mall pada umumnya, di lantai ini ada berbagai butik pakaian, toko souvenir dan restoran cafe juga loh. Eits jangan salah sangka dulu, alasan saya hingga sampai ke lantai ini bukan untuk belanja loh. Tapi saya penasaran dengan La Pyramide Inversée (The Inverted Pyramid). Piramida ini mirip dengan piramida kaca di luar bangunan, hanya saja posisinya terbalik. Piramida terbalik ini berfungsi sebagai skylight untuk pencahayaan ruangan. Oh ya, ternyata piramida ini juga di desain oleh Pei pada tahun 1993 loh. Dulu saya melihat piramida ini hanya dalam movie saja, dan sekarang rasanya senang sekali bisa melihatnya secara langsung. Sekedar info ya, kalau hanya mau masuk ke kawasan museum (walau sampai shopping mall di lantai bawah) tidak perlu tiket masuk, tapi kalau masuk hingga ke ruang pamerannya barulah wajib membeli tiket masuk.

Karena malas menunggu antrian, saya pun memutuskan untuk bersantai sejenak di taman dekat Louvre. Saat itu saya baru tahu, kalau taman ini ternyata merupakan taman kebanggaan warga Perancis loh. Taman tersebut bernama Tuileries Garden, dimana rerumputan hijau menghampar luas dengan tatanan pola yang sangat rapi seluas 22,4 hektar. Sama dengan Louvre, ternyata taman ini juga memiliki kisah sejarah tersendiri. Nama taman ini berasal dari kata ‘tuile’ yang memiliki arti keramik dalam bahasa Perancis. Alasannya adalah karena dulunya area ini merupakan pusat pembuatan keramik. Saat itu Ratu Catherine de Medici meminta untuk dibuatkan sebuah taman dan istana kerajaan yang bernama Palais des Tuileries di lahan ini. Taman Tuileries awalnya merupakan taman yang bergaya Itali. Lalu atas perintah King Louis XIV, akhirnya pada tahun 1664, tatanan landscape taman ini di design ulang sesuai French-style garden. Setelah itu selama 3 abad, taman ini hanya khusus untuk keluarga kerajaan saja, mulai dari Napoleon I, Louis XVIII, Charles X, Louis-Phillipe dan Napoleon III. Kemudian tahun 1871, tepatnya di akhir periode revolusi Perancis, istana Palais des Tuileries hangus terbakar. Taman Tuileries pun yang awalnya khusus untuk keluarga kerajaan saja, akhirnya dibuka untuk publik.

Sekarang taman ini sering digunakan oleh warga Paris dan para turis untuk beristirahat dan bersantai ria. Tidak hanya dipenuhi oleh tanaman dan pepohonan saja, namun dalam taman ini juga ada banyak patung dan vas tua yang menambah keunikan tersendiri. Jadi kalau berjalan-jalan di taman ini seperti sedang berjalan di tengah open air museum. Walau tidak berhasil masuk museum Louvre, namun karena ada taman ini, saya tetap bisa merasakan suasana museum di Paris dengan gratis tanpa antri. Hehe.

Additional information

HTM Louvre Museum: € 15

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*