Strolling Around Paris..

FRANCE


Bonjour Paris!

Kata-kata yang pertama kali terucap saat saya keluar dari pintu hotel. Ok, let’s get lost in Paris! Untuk jalan-jalan selama di Paris, saya hanya mengandalkan instagram. Bukan hanya informasi mengenai lokasi tempat saja yang saya dapatkan, terkadang saya jadi bisa melihat dari sudut yang berbeda melalui foto-foto instagram. Sebelumnya saya sudah pernah share perjalanan saya di Paris nih, tapi yang versi tempat-tempat mainstream-nya sih. Kayaknya sejuta umat yang liburan ke Paris, pasti ke lokasi-lokasi ini deh. Kalau mau baca juga, bisa mampir ke sini ya.

Mungkin bagi kebanyakan orang yang pernah liburan di Eropa, tempat-tempat yang akan saya ceritakan tergolong mainstream. Tapi percayalah, saya aja baru tahu nama-nama lokasinya dari instagram saat itu. Dari dapat ribet riset googling ini itu, saya ikuti aja bangunan-bangunan unik dan menarik versi instagram. Kalau bisa simple, kenapa gak dicoba kan ya? Paling kalau gak ketemu lokasinya, palingan ujung-ujungnya nyasar. Haha. Seru kan kalau nyasar di Paris?

Ok, mari dimulai dari stasiun Gare St Lazare yang merupakan salah satu stasiun tua dan bersejarah di Paris. Yang mau saya ceritakan bukan stasiunnya sih, tapi sebuah benda yang berada di depan stasiun ini. Sebuah instalasi yang tersusun dari banyak jam perunggu tua. Instalasi jam ini sangat mudah dikenali karena ukurannya yang cukup besar dan tinggi hingga 700 cm. Instalasi ini menurut saya sangat unik dan menarik perhatian. Dan ternyata instalasi-nya juga sudah cukup tua loh, karena telah berdiri sejak tahun 1985. Instalasi ini memiliki makna tersendiri yang tersirat dari namanya L’heure pour tous artinya Time for All.

Setelah puas cuci mata dengan instalasi unik, saya lanjut main ke daerah Montmarte. Sedikit cerita tentang Montmarte, dulunya area ini bernama Mons Martis (Mount of Mars). Katanya dulu di area ini adalah tempat pemujaan orang Romawi kepada Dewa Mars dan Merkuri. Namun pada abad ketiga, ada seorang martir yang mati dipenggal kepalanya oleh tentara Romawi di sini, karena menyebarkan ajaran Kristen. Sejak itulah namanya berganti menjadi Montmartre atau Mount of the Martyr.

Ok mari kembali ke topik jalan-jalan. Sebenarnya ada 2 lokasi yang ingin saya datangi, yang satu posisinya di atas bukit dan satu lagi letaknya di bawah bukit. Saya pun memutuskan untuk naik ke atas bukit dahulu. Dengan nafas sedikit terengah-engah, saya terus berjalan nanjak melewati banyak anak tangga. Sesampainya di atas, bangunan yang dari tadi terlihat kecil, nampak begitu jelas di hadapan saya. Inilah The Basilique Sacré-Coeur (Basilica of the Sacred Heart), sebuah bangunan gereja putih yang berdiri dengan gagahnya di puncak bukit. Bangunan gereja cathedral yang mengangkat gaya arsitektur Romanesque-Byzantine ini merupakan karya Paul Abadie di tahun 1871. Di bagian depannya, saya melihat ada 2 patung tokoh penting Perancis yang sangat terkenal namanya yaitu Joan of Arc dan King Saint Louis IX. Oh ya, jika kita naik ke bagian kubahnya, kita dapat melihat keindahan kota Paris dari atas loh. Saat itu, saya tidak sampai naik ke atas kubahnya sih, karena dari terasnya saja saya sudah bisa memandangi kota Paris dengan cukup puas.

Selesai di atas, saya lanjut explore ke area bawah. Jalanan yang saya lewati sepanjang perjalanan turun merupakan area yang dipenuhi oleh toko-toko yang menjual barang-barang seni. Tidak heran kenapa Montmarte juga dijuluki sebagai the artists’ corner. Tujuan saya ke sini bukan untuk shopping karya seni loh. Hehe. Karena tujuan utama saya adalah Moulin Rouge, sebuah tempat pertunjukan cabaret yang sudah mendunia namanya. Ini merupakan salah satu karya seni kebanggaan Parisian yang telah berdiri sejak 1889. Pertunjukan cabaret Moulin Rouge telah banyak mengundang banyak tokoh penting untuk datang mengunjungi Paris. Atraksi pertunjukan cancan dance dengan penari-penari yang topless di atas panggung berhasil menarik sekitar 850 penonton setiap malamnya. Tapi saya sendiri sedang tidak berencana untuk nonton pertunjukan cabaret-nya sih. Saya cuma penasaran saja dengan Moulin Rouge dan kebetulan saya sedang berada di Montmarte, yasudah sekalian saja saya mampiri.

Nah sekarang saya telah sampai di Les Invalides, sebuah kompleks bangunan luas yang terdiri dari museum, monumen, rumah sakit, dan tempat tinggal khusus untuk tentara perang Perancis. Ngapain coba saya main ke tempat militer Perancis? Alasan pertama karena bangunannya keren banget. Sedangkan alasan kedua karena ada makam Raja Napoleon I di sini. Makam Napoleon berada di dalam sebuah gereja yang bernama The Dôme des Invalides. Baiklah, saya cerita sedikit tentang kompleks ini ya. Pembangunan kompleks ini awalnya digagasi oleh Louis XIV pada tahun 1670. Ide awalnya adalah sebuah bangunan yang menyediakan fasilitas yang layak untuk menjaga dan merawat tentara veteran Perancis yang telah berjasa di medan perang. Namun seiring berjalannya waktu, penambahan ruangan dan bangunan pun mulai dilakukan. Sekarang ini terdapat beberapa museum yaitu Musée de l’Armée, The Musée des Plans-Reliefs, dan The Musée de l’ordre de la Libération. Ketiganya merupakan museum yang berhubungan dengan sejarah militer atau perang Perancis.

Spot terakhirnya untuk menutup jalan-jalan hari ini adalah Pont des Art. Sebenarnya ini hanya sebuah jembatan biasa yang letaknya berada dekat Louvre. Jembatan ini sudah berumur cukup tua dan merupakan jembatan besi pertama di Paris tahun 1801. Nah yang membuat jembatan ini menjadi unik adalah kebiasaan turis-turis yang datang ke sini. Entah sejak kapan, mayoritas turis yang datang ke sini akan menggantungkan gembok di sisi railing jembatan. Gembok tersebut biasanya bertuliskan nama-nama pasangan, dan kemudian setelah digantung, kunci gemboknya dilemparkan ke sungai. Para turis seperti punya mindset bahwa gembok ‘cinta’ tersebut melambangkan hubungan cinta pasangan yang namanya terukir di gembok akan selalu abadi. Walau terdengar aneh, kebiasaan menggantungkan gembok tersebut nampaknya menjadi hal wajib bagi turis yang datang ke Paris. Ternyata semakin lama, railing tersebut tidak kuat lagi menahan beban gembok yang totalnya hampir seberat 45 ton. Hingga akhirnya salah satu railing Pont des Art ada yang roboh. Kerusakan yang diakibatkan kebiasaan turis ini tidak hanya sekedar railing roboh saja, tetapi ingat juga ‘sampah’ kunci gempok yang mereka lemparkan ke sungai. Sungguh kebiasaan yang bikin kesel deh, kok malah merusak lingkungan sih. Saya pribadi gak tertarik gantung gembok di situ. Apalagi belum punya pasangan hidup, jadi gak ambisi terbang ke paris demi gembok cinta. Haha. Ketika saya ke sana, saya tidak menyangka loh kalau gembok-gembok ini akhirnya menjadi masalah untuk kota Paris. Di tahun 2015, gembok-gembok tersebut dilepas dari Pont des Arts. Dan untuk menghindari kehadiran turis-turis yang datang dengan gembok cintanya, akhirnya railing-railing itu dilapisi dengan glass panel.

Okay, kayak segitu aja sih cerita jalan-jalan saya di Paris. Karena saat itu, foto-foto di atas saja yang saat itu muncul di instagram. Hehe. Kalau sekarang, kayaknya sudah banyak tempat menarik lainnya ya. Walau perjalanannya nampak singkat, tapi setiap waktu yang saya jalani benar-benar saya nikmati. Enjoy banget deh jalan-jalan santai di kota ini. Paris, je t’aime!

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*