Si Gereja Ayam yang kini menjadi Primadona..

INDONESIA


Hmm… Kalau sekarang saya menyebut istilah ‘Gereja Ayam,’ kayaknya kebanyakan anak muda pasti familiar ya? Setelah menjadi salah satu lokasi syuting movie AADC 2, nampaknya bangunan gereja ini kini telah menjadi salah satu daya tarik wisata di Magelang maupun Jogja. Dari kabar yang saya dengar, sekarang sudah ramai sekali wisatawan yang mendatangi tempat ini. Padahal ketika saya ke sini, tidak ada wisatawan lain selain kami, sehingga bisa puas banget keliling explore bangunan tua ini. Dulu sebenarnya saya sempat diberitahu mengenai Gereja Ayam ini, tapi karena terlihat tua dan terabaikan, saya jadi ragu untuk ke sini. Namun saat saya sedang menyusun itinerary trip ke Jogja tahun lalu, saya tidak sengaja dengar kabar kalau team AADC 2 sedang syuting di bangunan ini. Nah langsung gampang ketebak nih, setelah movie AADC 2 tayang, pasti sejuta umat akan datang ke sini. Oke lah, sebelum jadi mainstream, mending kami datangi duluan aja deh.

Kalau dilihat sekilas, bangunan ini memang mirip bentuk ayam sih. Tapi sebenarnya konsep awalnya adalah meniru bentuk merpati loh, bukan ayam. Hehe. Nama asli bangunan ini adalah Rumah Doa Bukit Rhema. Katanya sebagai tempat untuk berdoa bagi seluruh umat yang beragama apapun, tidak hanya umat Kristiani saja. Tapi karena nama ‘Gereja Ayam’ lah yang telah menempel dengan image bangunan ini, makanya orang salah mengira bahwa ini bangunan untuk yang beragama Kristen saja. Saya juga sempat mendengar bangunan ini sempat dijadikan tempat rehabilitasi pecandu narkoba dulunya. Tapi saya sendiri tidak tahu pasti apakah informasi itu benar atau tidak ya? Daripada dibilang hoax kan. Hehe.

Lokasi Gereja Ayam ini berada di Magelang, tepatnya di Desa Gombong. Nah saran saya sih, kalau ke sini sebaiknya tidak spesial hanya untuk ke Gereja Ayam ini, tapi bisa juga digabung dengan ke Borobudur juga. Apalagi kalau berangkatnya dari Jogja, lumayan jauh kan tuh kalau hanya ke 1 spot ini saja. Saya sendiri awalnya ke sini setelah sunrise di Borobudur juga loh. Dari Borobudur, jaraknya cukup dekat untuk sampai ke sini, mungkin hanya sekitar 2-3 km. Tapi mobil kami tidak bisa berhenti tepat di depan bangunan gerejanya, karena itu kami harus jalan menanjak cukup jauh untuk bisa sampai ke sana. Waktu itu sih, belum ada papan petunjuk apapun mengenai Gereja Ayam. Jadilah kami bertanya kepada setiap orang dimana lokasinya. Dan bikin takjub adalah ternyata lokasinya berada di salah puncak bukit yang bernama Bukit Rhema. Oke mari kita olahraga pagi sambil trekking hingga sampai puncak bukit!

Awalnya saya pikir bangunan ini kosong, tapi ternyata ada seorang penjaga yang tinggal dan menjaga bangunan ini. Penjaganya pun mengajak kami berkeliling sambil menjelaskan sedikit mengenai bangunan ini. Saya pun baru tahu, ternyata proses pembangunan ini tidak pernah terselesaikan dikarenakan sang pemilik bangunan ini kehabisan dana. Mungkin karena kondisi bangunan ini yang setengah jadi, terkadang orang menganggapnya sebagai bangunan tua. Padahal proses pembangunannya itu terhenti pada tahun 2000 loh, masih bisa dikatakan sebagai bangunan yang berumur muda kan ya. Bagian yang pertama kali saya datangi adalah bagian ‘badan si ayam’ yaitu sebuah aula besar yang belum dicat dindingnya. Aula ini merupakan bagian utama dari bangunan ini. Kami pun terus berjalan ke belakang menuju area bagian ‘ekor-nya’. Di sini ada ruangan bawah tanah yang isinya berupa kamar-kamar yang kondisinya juga masih setengah jadi. Setelah puas keliling di lantai dasar, kami lanjut ke bagian atas bangunan ini, tepatnya bagian ‘kepala-nya’ untuk menuju ‘puncak mahkota-nya.’ Untuk sampai ke atas, kami harus menaiki anak tangga hingga 4 level (tingkatan) terlebih dahulu.

Dari atas, kami bisa keluar dan melihat puncak dari Candi Borobudur dan juga Punthuk Setumbu. Di sekeliling bangunan ini nampak dipenuhi oleh pepohonan hijau nan rindang yang sangat menyejukan mata. Benar-benar pemandangan alam yang indah yang ditawarkan di atas sini. Tidak disangka, bangunan yang sebelumnya terlihat ‘horor’ ternyata menyimpan keindahan alam yang sangat menawan hingga membuat kami terus tersenyum. Bahkan saya juga melihat siluet sebuah gunung yang menjulang tingga di hadapan saya, tapi saya sendiri tidak tahu apa nama gunungnya sih. Hehe. Oh ya selain itu, kami juga dapat melihat bagian bangunan ini secara keseluruhan mulai bagian ‘punggung’ hingga ‘ekor’ dari bangunan ayam ini.

Walau begitu, ada yang sangat saya sayangkan di sini karena banyak sekali tulisan dan coretan yang merusak dinding bangunannya. Padahal tanpa coretan pun, kondisi dinding yang catnya telah luntur dan terkelupas sudah membuat bangunan tidak cantik. Apalagi ditambah coretan vandalisme seperti ini, membuat bangunan ini semakin buruk dan terkesan terabaikan. Semoga ya, setelah sukses menjadi lokasi syuting film layar lebar yang sangat terkenal itu, bangunan ini dapat diperbaiki secara layak. Amin!

Oh ya, dari kabar yang sekarang dengar, kondisi Gereja Ayam sekarang telah sangat jauh berubah. Jalan akses menuju ke sana sudah dimulai di-beton. Lahan parkir pun telah tersedia dengan baik. Dan karena banyaknya wisatawan yang berbondong-bondong ke sini, jika mau naik ke bagian atas ‘kepala si ayam’ sekarang dibatasi hanya 5 menit saja. Walaupun sudah dijatah per 5 menit, antrian selalu panjang di bangunan ini sekarang. Kemudian waktu saya ke sini belum ada harga tiket masuknya, kami hanya memberikan secara sukarela kepada penjaganya. Namun sekarang sudah ada harga tiket resminya yaitu untuk wisatawan lokal sebesar Rp 10.000,- dan wisatawan asing sebesar Rp 15.000,-

Yapp, sesuai dugaan nama Gereja Ayam ini kini telah menjadi famous hingga internasional. Jumlah pengunjungnya sekarang bisa mencapai 500 orang apabila saat weekend loh. Wow! Angka yang cukup fantastis apabila dibandingkan saat kami datang ke sini dan tidak ada siapa loh. Duh, bersyukur banget sudah sampai sini sebelum bangunan ini nge-hits kayak sekarang.

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*