One Day Trip Nusa Penida..

INDONESIA


Meneruskan petualangan tahun kemarin, kali ini saya lanjut lagi ke Nusa Penida. Tahun lalu, saya jalan-jalan ke Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Namun rasanya tidak puas, kalau hanya mampir ke dua pulau saja. Karena sebenarnya Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan adalah 2 dari 3 pulau yang berada di arah tenggara Pulau Bali. Setiap pulau-pulau di sini memiliki karakter yang berbeda dan  keunikan tersendiri.  So agar pengalamannya komplit, jadilah saya putuskan untuk ke Nusa Penida di tahun ini.

Ada beberapa alternatif untuk menyeberang ke Nusa Penida, sedangkan kami memilih menggunakan fast boat dari Sanur. Di Sanur terdapat operator kapal yang melayani rute penyeberangan dari Sanur menuju ketiga pulau tersebut. Saat memilih operator fast boat, kalian harus tahu pelabuhan mana yang kalian tuju. Di Nusa Penida sendiri ada 3 pelabuhan yaitu Toyapakeh, Banjar Nyuh, & Buyuk, masing-masing letaknya cukup berjauhan. Kami pun memilih fast boat Maruti Express yang menuju Pelabuhan Banjar Nyuh. Sedikit saran dari saya, sebaiknya langsung membeli tiket fast boat pulang pergi saja karena harganya lebih murah jika dibandingkan dengan harga one-way.

Waktu tempuh menuju Nusa Penida hanya sekitar 45 menit. Namun untuk pilihan jadwal fast boat menuju Nusa Penida tidaklah sebanyak jadwal ke Nusa Lembongan atau Nusa CeninganDalam sehari hanya ada 3 jadwal fast boat menuju Nusa Penida maupun Sanur.

Dari Sanur : 08.30, 10.00, 16.00
Dari Nusa Penida : 07.30, 09.00, 15.00

Dikarenakan ada ‘drama’ flight malam kami cancel terbang, sehingga kami baru bisa tiba di Bali keesokan harinya, tepatnya saat siang hari. Akibatnya kami hanya bisa mengejar fast boat yang berangkat pukul 16.00. Padahal kami menggunakan maskapai terbaik di Indonesia, tapi tetap juga tidak luput dari cancel dan delay ya.

Dari rencana awal untuk explore selama 2 hari, akhirnya berganti menjadi itinerary dadakan ‘one day trip’ dari ujung ke ujung. Esok paginya dengan motor matic sewaan, kami menuju ke Pantai Atuh. Dari Banjar Nyuh (di sekitar utara), kami menuju ke arah ujung selatan pulau ini. Sungguh sebuah perjalanan pagi yang sangat jauh bukan? Ada 2 alasan kami mengapa memilih Pantai Atuh dahulu untuk di explore. Pertama, katanya sunrise di sini cukup recommended. Dan kedua, karena ini satu-satunya spot yang letaknya jauh tersendiri.

Saat berangkat dari hotel sih, kami masih melewati aspal mulus dan GPS sangat membantu. Tetapi saat mulai setengah jalan, GPS pun mulai error dan kami harus bertanya arah kepada warga lokal yang kami ditemui di jalan. Semua orang yang kami tanya selalu menjawab ‘masih jauh, terus lagi lurus saja.’ Nah, kalau semua orang bilang jauh terus, kapan sampainya coba? Haha. Di sebuah simpang jalan, kami melihat petunjuk arah menuju Pantai Atuh dan Rumah Pohon (Rajalima). Rajalima adalah nama tebing dimana kita bisa melihat view Pantai Atuh dari atas. Karena kami tidak berniat turun ke pantai, kami pun mengikuti arah menuju Rumah Pohon. Akhirnya jalan aspal mulus pun habis, dan perjalanan kami dilanjutkan dengan medan tanah berbatu, berlubang dan becek. Rutenya berbelok-belok dan naik turun. Coba dibayangkan menempuh medan semi off-road dengan menggunakan motor matic. Pegalnya minta ampun banget.

Setelah sampai di tujuan, kami memarkirkan motor dan membeli tiket masuk. Kami segera ingin menuju spot Rajalima, namun kami tidak dapat melihat dimana posisi tebing itu. Dan ternyata, spot itu letaknya jauh di bawah sana. Oke, dengan badan masih pegal, kami harus trekking dengan jarak yang lumayan sekitar 50 m ke bawah. Untungnya jalurnya telah dibentuk berupa anak tangga yang dilengkapi dengan tali di sisinya. Jadi cukup membantu para wisatawan untuk dapat turun dengan mudah dan aman. Ketika di bawah, kami melihat ada beberapa rumah kecil yang letaknya di atas pohon. Oh, ini toh si Rumah Pohon yang namanya beberapa kali muncul di beberapa petunjuk jalan tadi. Rumah-rumah itu ternyata disewakan juga untuk tamu jika ingin menginap di sini. Awalnya kami pikir rumah ini dibangun hanya untuk spot foto saja, tapi ternyata kami salah total. Haha. Kalau mau booking untuk menginap di sini, kalian cari saja ‘Rumah Pohon’ di Agoda, Booking,com dan booking engine lainnya.

Akhirnya kami sampai di spot yang menjadi icon Pantai Atuh di tebing Rajalima. Sebenarnya nama tebing Rajalima jarang terdengar, karena biasanya spot tebing ini dikenal sebagai Atuh juga. Padahal Pantai Atuh-nya sendiri berada jauh di bawah tebing ini. Spot ini keren sekali, karena letaknya di ujung tebing yang menjorok ke laut. Dan di ujung tebingnya terdapat padmasari yang merupakan bagian dari kepercayaan umat Hindu. Selain spotnya memang photogenic, dari sini kami bisa memandang luas ke segala arah dengan view hamparan pulau-pulau karang di tengah laut. Saat berdiri di sini, di satu sisi saya bisa melihat tebing-tebing tinggi di sekeliling dan di sisi lain nampak lautan biru membentang luas. Benar-benar perpaduan pemandangan alam yang sangat menawan. Sayangnya, kami tidak bisa berlama-lama menikmati keindahan di sini karena tiba-tiba turun hujan. Untungnya ada rumah-rumah pohon itu, jadi kami bisa numpang berteduh sambil menunggu hujannya berhenti. Dan begitu hujan berhenti, kami buru-buru trekking ke atas karena takut kena hujan susulan. Hmm, lumayan juga ya, rute trekking kami pagi ini. Hehe. Oh ya, kami jadinya tidak dapat sunrise di sini akibat kesiangan. Sudah rutenya jauh sekali ditambah pakai nyasar lagi, jadilah saat sampai di sini langinya sudah terang deh.

Selanjutnya kami menuju lokasi yang katanya mirip dengan Zakynthos di Yunani. Oke, kami pun mulai bergerak kembali ke arah utara. Dengan mengandalkan GPS, kami sukses nyasar lagi. Haha. Tujuan kami itu sebenarnya adalah Klingking Secret Point, dan ternyata warga lokal di pulau tidak familiar dengan nama ‘Klingking’ dong. Saya pun menunjukan foto Klingking Secret Point dari handphone, dan barulah warga lokal tersebut mengenal tempat yang saya tanyakan. Dan kami juga baru tahu ternyata daerah yang kami tuju memiliki nama lokal Karang Dawa. Selanjutnya setiap ketemu warga lokal, kami tanya dimana arah Karang Dawa, mereka dengan cepat menjawab pertanyaan kami. Hehe.

Saat kami tiba di sini, matahari sedang tepat berada di atas kami. Panasnya minta ampun deh. Kami pun berjalan mengikuti arah keramaian orang, karena pastilah di situ spot yang kami tuju. Awalnya kami melewati keramaian orang yang sedang antri untuk foto di sebuah pohon kering (tanpa dedaunan). Namun bukan spot ini yang kami cari. Kami pun terus mengikuti ke arah orang banyak yang berjalan menuruni tebing. Setibanya di ujung tebing, akhirnya kami menemukan tebing iconic mirip dinosaur dengan pantai pasir putih yang sangat indah di bawah sana. Inilah dia, spot sejuta umat yang selama ini hanya bisa saya lihat fotonya saja. Hehe. Untuk turun ke bawah, jalurnya cukup terjal dan sedikit ekstrem. Walau sudah dipasangi tali, namun tetap saja kurang aman. Saya sendiri tidak tertarik turun ke pantai, karena saya sudah cukup puas dengan keindahan pemandangan yang ditawarkan dari atas tebing ini.

Sebelum melanjutkan perjalanan lagi, kami memutuskan untuk makan siang dulu. Untung saja di sini ada rumah makannya, jadi bisa sekalian istirahat sejenak dari panasnya matahari. Oh ya, dari beberapa artikel yang saya baca katanya matahari di sini sangatlah terik dan saya sangat setuju dengan statement itu. Di pulau ini rasanya jauh lebih panas dibanding Pulau Bali-nya sendiri loh. Sebagai saran, kalian jangan lupa pakai sunblock dan gunakan topi dan pakaian yang nyaman ya. Karena itu sangat berguna sekali, apalagi kalau kalian menggunakan sepeda motor.

Setelah puas isi perut dan istirahat, kami lanjut menuju Pasih Uug. Untungnya lokasi Klingking Secret Point dan Pasih Uug tidaklah begitu jauh, sehingga kami gak perlu nyasar lagi deh. Hehe. Pasih Uug juga dikenal dengan sebutan Broken Beach. Mungkin sebutan itu karena lubang yang terdapat di dinding tebingnya ya, ini sih tebakan saya saja. Hehe. Yang paling saya suka di sini adalah warna airnya yang jernih banget. Mata saya rasanya benar-benar dimanjakan dengan pemandangan indah ini. Untuk sampai ke sini, kami tidak perlu trekking naik atau turun tebing seperti yang sebelumnya. Karena jalurnya datar dan tidak terlalu jauh. Hah, akhirnya ada spot dengan jalur yang santai juga nih, jadi bisa jalan kaki santai deh.

Tepat di sebelahnya, ada spot yang bernama Angel’s Billalong. Hanya sedikit berjalan kaki saja, kami tiba di sebuah lubang karang yang tersambung dengan laut. Lubang tersebut menampung air laut yang terbawa ombak, sehingga mirip seperti kolam kecil. Sayangnya karena kemarin malam hujan, sehingga airnya menjadi keruh. Kami pun jadi tidak tertarik untuk turun ke air karena warna airnya sangat coklat. Padahal jika airnya jernih, pasti menyenangkan sekali berenang di ‘kolam alam’ ini.

Walau dikebut dalam satu hari, akhirnya kami berhasil mampir keempat spot yang paling terkenal di Nusa Penida. Bahkan sebelum hari gelap, kami sudah kembali ke hotel lagi. Gak kebayang deh, kalau kami masih di perjalanan saat hari sudah gelap. Dengan kondisi jalan yang masih tanah dan setengah aspal, minimnya petunjuk jalan, GPS yang ngaco dan tidaknya lampu penerangan jalan, tentunya akan sangat menyulitkan. Tapi syukurlah, kami bisa menyelesaikan semua itinerary kami, sebelum hari gelap. Selain 4 spot yang kami datangi, masih banyak spot menarik lainnya di Nusa Penida. Andaikan kami punya waktu lebih, pasti akan datang ke spot lain juga. Namun karena hanya punya 1 hari saja, saya rasa keempat spot tersebut sudah cukup membuktikan keindahan Nusa Penida yang sangat cantik dan unik. Semoga nanti ada kesempatan lain untuk bisa explore keindahan lain di Nusa Penida dengan lebih santai dan tidak terburu-buru. Amin.

Additional information

– Sewa motor: Rp70.000 – Rp80.000/hari

– Fast boat (return): Rp300.000

– Tiket Rumah Pohon (Atuh): Rp20.000

– Tiket Klingking Secret Point: Rp5.000

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*