Jomblang Caving Adventure..

INDONESIA


Jenis liburan yang saya pilih kali ini adalah caving. Walau belum pernah ikutan caving versi serius sebelumnya, tapi rasa penasaran saya sudah tidak bisa dibendung lagi. Apalagi saat saya tahu, kalau di Jogja ada wisata caving yang ramah untuk pemula seperti saya. Kenapa sih niat banget mau caving? Karena saya ingin sekali melihat ray of light yang sering kali menghiasi cover majalah National Geographic. Dari dulu cuma bisa mengagumi sampul majalah saja nih, sekarang saatnya lihat langsung dong.

Sekitar 1,5 jam perjalanan dari Jogja, kami bergerak menuju Jomblang Resort. Di Jomblang Resort inilah satu-satunya operator yang akan mengantarkan para wisatawan untuk menikmati ray of light tersebut. Sekilas cerita, sebenarnya akan ada 2 goa yang akan saya datangi nanti. Dua goa tersebut adalah goa vertikal dan karena bentuknya seperti lubang dari atas (sinkhole), maka masyarakat setempat kerap menyebutnya dengan istilah ‘luweng’ yang artinya lubang dalam bahasa Jawa. Goa yang pertama saya masuki adalah Goa/Luweng Jomblang yang memiliki diameter hingga puluhan meter. Sedangkan goa yang kedua bernama Goa/Luweng Grubug dan di sinilah yang merupakan lubang dari ray of light. Kedua goa vertikal ini dihubungkan oleh lorong horizontal sepanjang 300 m.

Sehari sebelumnya, kami telah mendaftar terlebih dahulu melalui website. Jadi sesampainya di lokasi, kami hanya perlu registrasi ulang saja. Setelah itu, kami diminta untuk memilih helm dan sepatu boot yang sesuai dengan ukuran masing-masing. Helm dan sepatu boot ini hanya dipinjami selama trip saja ya, jangan dibawa pulang. Hehe. Selanjutnya, kami pun langsung masuk antrian untuk turun ke Goa Jomblang. Karena turunnya pakai katrol, jadi sebelumnya badan kami akan dipasangi dengan tali pengaman (harness) terlebih dahulu. Setelah perlengkapan lengkap semuanya, kami diminta untuk menuju pinggiran goa dan siap diturunkan ke bawah. Oh ya, ternyata turunnya berdua-dua, jadi kalau takut ketinggian setidaknya ada partner yang menemani selama bergelantungan menuju ke bawah. Kalau masih panik juga, peluk aja partner di sebelahnya. Hehe. Saat diturunkan pakai tali, posisi kami adalah duduk seperti sedang duduk di atas ayunan tali. Karena sambil duduk, jadinya tidak terasa tegang. Sepanjang perjalanan turun ke bawah, saya sendiri malah asik merekam video sambil menikmati keindahan pemandangan hutan di bawah sana.

Sesampainya di bawah, kami lanjut lagi berjalan melewati hutan yang dipenuhi pepohonan rindang. Kami mengikuti jalur setapak menuju lorong horizontal yang akan menghubungkan kami ke Goa Grubug. Jarak dari titik pendaratan hingga ke lorongnya tidaklah terlalu jauh. Baru berjalan sebentar saja, saya sudah dapat melihat pintu masuk lorong yang ternyata cukup besar juga ukurannya. Saat memasukinya, kondisi di dalam agak gelap dan tanahnya licin, sehingga harus hati-hati ya. Namun menurut saya, untuk para wisatawan pemula seperti kami, fasilitas pengaman di goa ini sudah cukup memadai. Sepanjang jalur masuknya sudah diberikan batu setapak, sehingga kami tidak perlu takut terpeleset karena tanah yang licin. Susunan batu setapak ini juga membantu mengarahkan kami hingga ke Goa Grubug. Selain itu, ada juga tali pembatas yang dipasang agar para wisatawan mengerti area mana saja yang aman dan tidak aman untuk dilewati.

Perjalanan kami pun terhenti, saat melihat seberkas sinar yang sangat memukau di hadapan kami. Dari lubang besar di atas, sinar matahari masuk dengan anggunnya menyinari bagian dalam Goa Grubug. Inilah ray of light yang selama ini saya mimpikan. Ini sungguh pemandangan yang sangat langka. Saya sangat kagum melihat kecantikan bagaikan lukisan hangat yang berasal dari langit. Rasanya tidak bisa berhenti bersyukur diberikan kesempatan untuk melihatnya secara langsung di negara sendiri. Karena diantara wisatawan di goa ini, hampir setengah lebih adalah wisatawan asing. Mereka saja jauh-jauh ke Indonesia untuk melihat ini, apalagi saya yang warga negara Indonesia tulen, pasti bangga banget-lah.

Dari sisi pinggir lubang goa di atas, juga terlihat tetesan air yang jatuh ke bawah. Tetesan air tersebut menyerupai tirai tipis yang melingkari sinar matahari yang berada di tengahnya. Sungguh perpaduan elemen alam yang indah. Mata saya tidak bosan-bosannya untuk memandangi keindahan pesona alam di dalam goa ini. Saya sangat bersyukur banget karena pas sampai di bawah sini, cuaca sedang bersahabat. Coba bayangkan kalau tiba-tiba turun hujan atau mataharinya tertutupi awan, pasti si ray of light itu tidak akan muncul. Oh thanks God! Setelah puas di dalam, kami pun kembali ke titik pendaratan tadi. Dari situ, kami diangkat kembali ke atas dengan menggunakan tali seperti waktu kami turun. Setelah mengembalikan semua perlengkapan yang kami pakai, saatnya menikmati makan siang yang sudah disediakan.

Untuk menjaga kondisi alam, jumlah wisatawan sekarang dibatasi hanya 75 orang per harinya. Dulu malah hanya boleh 25 orang saja per harinya. Mungkin karena tingginya peminat dari wisatawan yang ingin melihat ray of light sehingga sekarang jumlah kuotanya jadi ditambah. Setiap wisatawan sebaiknya datang saat pagi hari ke sini, jika kesiangan nanti malah tidak bisa ray of light-nya. Karena kita hanya bisa melihat berkas sinar itu, saat matahari berada tepat tegak lurus di atas, sekitar jam 12.00-13.00.

Untuk biaya paket caving adalah Rp 450.000,-/orang. Harga ini sudah termasuk peralatan (helm, sepatu boot, tali pengaman/body harness), pemandu, asuransi serta makan siang.

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*