Western Monastery in Hong Kong..

HONG KONG


Mindset kebanyakan orang saat mendengar kata Hong Kong adalah kota modern yang penuh dengan gedung-gedung tinggi pencakar langit. Itu benar sih, tapi saya juga yakin pasti ada yang unik alias tidak mainstream di sini. Dengan sedikit extra usaha buat googling, akhirnya saya berhasil menemukan beberapa spot unik dan menarik. Hmm, namun minim sekali informasi yang saya dapatkan. Baiklah, walau hanya berbekal sedikit clue, saya siap get lost di Hong Kong.

Oke, mari kita mulai dengan Western Monastery. Saya menggunakan MTR hingga Tsuen Wan Station dan keluar di Exit B. Dari beberapa blog yang saya baca, katanya lokasi monastery ini berada di daerah pengunungan. Sehingga sangat tidak disarankan untuk jalan kaki karena rutenya menanjak dan cukup curam. Oke alternatif lainnya ada 2 yaitu pakai taxi atau naik minibus 81. Dan saat itu, kami memilih naik minibus saja. Untungnya, kami sudah beli nomor lokal di sini, jadi bisa internet-an dengan bebas deh. Kami pun segera mencari halte bus 81 di google map. Sesampainya di lokasi yang ditunjukkan oleh google map, kami menemukan ada beberapa tiang yang berisi informasi rute bus yang lewat di situ. Kami mengecek semua tiang-tiang itu tapi tidak ada bus no 81 di dalamnya. Kami pun berusaha bertanya dengan orang-orang yang kami temui saat itu, tapi ternyata hampir semuanya tidak paham Bahasa Inggris. Salah satu solusinya, kami menggunakan kalkulator HP dan menuliskan angka 81 kepada setiap orang yang kami tanya. Hingga akhirnya, ada satu orang yang berhasil menunjukan arah yang tepat dimana halte bus itu berada. Thank God!

Saat masuk ke dalam minibus, saya mengatakan kepada supirnya untuk berhenti di Western Monastery sambil menunjukan foto bangunannya di HP saya. Tapi supirnya malah bingung, dan menjawab dengan Bahasa China. Nah loh kan, makin bingung deh ini. Pak supir pun bertanya kepada penumpang yang duduk di belakangnya sambil menunjukan foto di HP saya. Penumpang itu ternyata tidak tahu juga dan ikutan bingung sambil berdiskusi dengan supirnya dalam Bahasa China. Yah kan, repot ya kalau bahasanya tidak nyambung gini, haha. Melihat kehebohan kami, tiba-tiba ada penumpang lain yang bertanya kemana tujuan kami sebenarnya? Akhirnya, ada yang bisa Bahasa Inggris di bus ini. Rasanya lega banget! Kami pun segera menjelaskan pada penumpang tersebut dan mereka nampaknya paham tujuan saya. Kata mereka, saya naik bus yang tepat karena rute terakhir bus ini adalah tempat yang saya tuju. Dengan Bahasa China, penumpang ini menjelaskan kepada supir dimana akan menurunkan kami. Setelah supirnya paham, kami diminta segera membayar ongkosnya di muka. Harga ongkos sebesar HKD 5,20 per orangnya.

Hanya berjarak 15 menit saja, kami sudah tiba di tujuan kami. Saat pertama kali melihat gerbangnya, kami langsung takjub karena kompleks ini sangat besar dibandingkan bayangan kami. Berjalan ke sisi kanan dari kompleks ini, saya melihat ada banyak sekali patung Buddha dengan berbagai posisi, seperti ada yang sedang duduk, berdiri dan juga tidur. Sedangkan di belakangnya, ada kolam teratai dengan jembatan di atasnya yang menghubungkan ke sebuah paviliun. Bangunan utamanya (Main Hall) sendiri terdiri dari dua lantai dan di dalamnya terdapat 7 patung Buddha. Bangunan yang dibangun sejak tahun 1964 ini seperti menyerupai bentuk istana klasik China dengan ornamen dan lampion yang memenuhi di setiap sisi bangunannya. Padahal fungsi utamanya adalah sebagai tempat beribadahnya umat Buddha. Selain Main Hall, ada beberapa hall lainya yang dihubungkan dengan koridor dalam kompleks ini, seperti the King of Celestial Hall, the Maitreya Hall dan the Scriptures Hall. Yang paling mencolok di sini adalah bangunan pagoda yang memiliki ketinggian 9 lantai. Pagoda yang dibangun pada tahun 1999 ini disebut disebut the Ten Thousand Buddha Pagoda. Pengunjung tidak dapat naik hingga ke atasnya, namun bisa masuk ke dalam pagoda ini. Di lantai dasar pagoda, kita dapat melihat beberapa patung Buddha lainnya.

Saya juga sempat melihat ada beberapa monk yang sedang membaca doa di dalam hall. Ini benar-benar pengalaman khas negeri China. Saya merekomendasikan banget untuk main ke sini, karena setiap sudutnya kaya akan sentuhan arsitektur yang detail dan menawan. Rasanya seperti sedang memasuki kompleks istana China gitu.

Setelah puas main di sini, kami pun mampir ke kompleks yang terletak persis di sebelahnya yaitu Yuen Yuen Institute. Sebenarnya agak aneh sih kalau pakai sebutan institute karena sebenarnya ini adalah bangunan temple loh. Dan menariknya kompleks temple ini ternyata untuk 3 tiga kepercayaan yaitu Confucianism, Taoism dan Buddhism. Inilah yang bikin unik, karena semua temple di Hong Kong biasanya hanya fokus kepada 1 kepercayaan saja. Kompleks ini sendiri dibangun pada tahun 1950. Di dalamnya terdapat beberapa paviliun, kolam, temple, dan hall. Bangunan utamanya sendiri adalah the Great Temple yang mengadopsi arsitektur dari Temple of Heaven di Beijing. Jika saat hari libur, tempat ini selalu ramai dikunjungi oleh orang-orang yang ingin mendoakan keluarganya yang telah meninggal. Karena tempat ini juga berfungsi sebagai penyimpanan abu orang-orang yang telah tiada.

Kedua bangunan ini berada di Desa Lo Wai yang merupakan desa tertua di daerah Tsuen Wan. Kalau kita main ke sini, bisa explore 2 tempat sekaligus deh. Apalagi jaraknya tidak jauh dari kota, dan masuknya free loh. Ini lumayan banget untuk ganti suasana jika bosan melihat gedung-gedung tinggi sepanjang hari di Hong Kong. Nah kalau ingin pulang dari sini, tidak serepot berangkatnya tadi loh. Karena dari jarak beberapa meter saja, kami dapat melihat beberapa minibus 81 sedang parkir untuk menunggu penumpang yang ingin kembali ke kota. Kami pun turun tepat di tempat kami berangkat tadi. Tinggal jalan sedikit sudah sampai di Tsuen Wan Station (MTR) deh. Oh ya, saran saya kalau mau explore pakai bus di Hong Kong, jangan pakai google map untuk mencari lokasi haltenya, mendingan tanya petugas di MTR Station saja. Dan satu lagi, kalian harus siapkan koin secukupnya ya, karena kalau bayarnya lebih, tidak ada kembaliannya loh. Haha. Mau tau apalagi yang unik di Hong Kong? Tunggu cerita berikutnya ya.

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*