Tantangan Bersantai di Ketinggian..

INDONESIA


Bandung is my second home. Kalimat ini yang selalu membuat saya kembali ke sini, ke sebuah kota kecil yang memiliki sejuta kenangan yang sulit untuk dilupakan. Dan sekarang satu pengalaman tak terlupakan bagi saya bertambah lagi ketika berkunjung ke kota ini kembali. Sebenarnya bukan Bandungnya sih, tetapi tetangganya yaitu Padalarang. Hehe. Walau begitu, semua pengalaman ini berawal dari Bandung, mau tau ceritanya? Begini nih…

Rasanya saat itu semangat banget dari Bandung pagi-pagi, menuju sebuah tempat spesial di daerah Padalarang. Salah seorang dari kami, sampai ada yang niat beli GoPro tepat sehari sebelumnya demi ke tempat ini. Haha. Karena saya sudah pernah ke sini, sedikit banyak sudah ada bayangan seperti apa medan yang akan kami lalui. Dan tujuan yang akan kami datangi adalah sebuah area batuan kapur yang bernama Karst Citatah. Bila kalian nyasar saat mau ke sini, coba minta diarahkan ke Stone Garden atau Goa Pawon kepada penduduk sekitar ya.

Selesai parkir mobil, kami dijemput oleh beberapa motor untuk menuju ke poin titik awal pendakian. Dari situ, kami langsung trekking ke atas sebuah tebing batu. Medan yang kami lewati saat naik ke atas tergolong curam dan melewati banyak semak-semak. Saran saya, sebaiknya pakai celana panjang yang ringan dan pakai sepatu yang nyaman. Karena banyak pinggiran batuan yang tajam dan tumbuhan berduri di sepanjang rute yang kami lewati, nanti kakinya bisa lecet-lecet loh. (Jangan tiru foto di atas ya, karena kalau fotonya di zoom-in, kelihatan kakinya banyak bekas luka, haha.) Ternyata bukan hanya curam, tapi kami juga harus beberapa kali melompat, dari satu tebing ke tebing lainnya. Kalau bukan karena guide-nya yang jago, saya juga gak akan pede bisa naik hingga sampai ke atas ini. Rasanya satu langkah saja salah, saya bisa langsung jatuh ke dasar tebing. Haha. Setelah berjuang 30-40 menit, akhirnya saya bisa berdiri manis di puncak sebuah tebing batu dengan ketinggian sekitar 100 meter-an dari permukaan tanah.

Kini di hadapan saya, sudah terpasang hammock yang diikatkan di antara 2 tebing terpisah. Biasanya hanya lihat hammock berada di antara 2 pohon ataupun tiang. Dan sekarang hammock-nya dipasang di antara dua tebing dan saya akan duduk di tengah hammock itu. Jujur ya, saat itu pertanyaan pertama yang terlintas adalah bagaimana cara jalan ke tengahnya ya? Nah loh kan.

Setelah badan saya selesai dipasangin safety gear yang dikaitkan pada tali pengaman, kemudian sambil mengikuti instruksi dari guidenya, saya pun berhasil turun perlahan-lahan ke dalam hammock tersebut. Pastinya begitu duduk, akan terasa goyang-goyang deh hammock-nya. Belum lagi kalau ada angin yang sedang bertiup. Wih siap-siap dengan goyangan ya. Haha. Namun setelah bisa bertahan beberapa menit, rasanya langsung bisa nyaman bergerak dalam hammock itu kok. Walau begitu, saya sendiri tetap tidak berani melihat ke bawah, dan hanya menyibukan diri dengan selfie dari segala angle. Haha. Enak banget duduk santai di atas sini, sepertinya adrenalin dan rasa puas bercampur jadi satu. Rasanya terbayar lunas perjuangan trekking melewati semak-semak dan melompati tebing-tebing tinggi tadi. Ini adalah pengalaman adventure pertama saya di 2016 yang tidak akan terlupakan.

Tapi petualangannya belom selesai nih. Tantangan berikutnya adalah bagaimana cara turun dari atas tebing ini. Pas kami lagi santai-santai di atas, ternyata sudah ada group berikutnya yang antri buat nyobain hammock ini. Untungnya kami adalah orang pertama yang datang ke sini, jadi tadi kami gak perlu antri deh. Berhubung kami sudah puas mainnya, akhirnya kami pun turun dan mempersilahkan giliran untuk group selanjutnya. Begitu kami mau turun, anehnya tiba-tiba mulai gerimis dong. Ya ampun, ini gimana cara turun tebing sambil hujan-hujanan begini? Kami pun langsung buru-buru meluncur ke bawah, daripada terjebak kehujanan di tengah tebing kan. Pas sampai di bawah, kami baru ingat bagaimana dengan group yang lagi hammock-ing di atas ya? Wah, pasti basah kedinginan deh itu. Belum lagi kalau misalnya ada petir segala. Aduh-aduh untung kami sudah di bawah sekarang. Rasanya kami beruntung banget, bisa puas main hammock tanpa kehujanan. Thank God!

Tempat saya bersantai di hammock ini berada di Gunung Masigit. Tapi ada juga tebing lain yang menawarkan wisata adrenalin hammock seperti ini yaitu di Pr. Pabeasan (tebing 125) dan Gunung Hawu. Ketiga tempat ini sebenarnya letaknya berdekatan sih. Cuma karena teman saya ingin ke Stone Garden juga, jadilah kami memilih hammocking-nya di Gunung Masigit saja. Karena Stone Garden dan Gunung Masigit memiliki satu pintu masuk yang sama. Jadi dari tempat kami parkir sekarang, hanya perlu nyetir sebentar saja untuk menuju Stone Garden.

Kenapa namanya Stone Garden? Karena di sini isinya batu-batuan besar yang terhampar luas di mana-mana. Batuan di sini menurut sejarah merupakan batuan hasil endapan binatang laut yang sekarang menjadi batuan kapur. Nah loh kenapa ada sisa binatang laut di atas gunung ya? Hal ini diperkirakan berhubungan dengan cerita Danau Bandung Purba. Dimana dulunya daerah ini berada di bawah laut, namun akibat gempa bumi, sehingga mengangkatnya sampai muncul ke permukaan. Lama kelaman, akhirnya airnya surut dan meninggalkan cekungan yang sekarang menjadi Bandung.

Stone Garden yang saya lihat sekarang sudah penuh dengan orang di mana-mana. Bahkan sudah banyak disediakan saung kecil untuk tempat berteduh. Saya tidak menyangka tempat ini akan diminati wisatawan sebanyak ini. Haha. Saya ingat pertama kali ke sini, dalam rangka hunting foto untuk event ‘Selamatkan Karst Citatah’ tahun 2008. Yah walaupun tergolong masih baru belajar pegang kamera, hasil jepretan saya berhasil menduduki peringkat 2 dan dicetak di koran Pikiran Rakyat (Minggu, 28 Desember 2008). Event ini sendiri bertujuan untuk mengabadikan wujud alam Citatah yang telah rusak akibat penambangan kapur yang sama sekali tidak mempedulikan aspek lingkungan. Diharapkan foto-foto tersebut dapat menyentuh hati masyarakat untuk ikut peduli dengan kondisi Karst Citatah yang semakin memprihatikan akibat ulah penambang yang tidak bertanggung jawab ini. Hasil penambangan tersebut sekarang hanya meninggalkan potongan bukit terbengkalai yang telah nyaris terkeruk habis. Kalian bisa melihat jelas pemandangan miris ini apabila sedang melewati tol Purbalenyi arah Jakarta-Bandung.

Dulu waktu ke Stone Garden ini, rasanya seperti berpetualang ke daerah yang tak terjamah, eh sekarang nyatanya malah jadi tempat wisata umum. Haha. Saya sebenarnya setuju dan mendukung ide ini sih, karena daerah ini jadi terkelola dengan baik sekarang. Dan sejak Stone Garden dibuka sebagai wisata Geopark, berhasil membuat pemerintah mengeluarkan larangan resmi terhadap eksploitasi penambangan kapur di sepanjang daerah ini loh.

Tepat di bawah lokasi Stone Garden berada, ternyata ada sebuah goa purbakala yang dikenal dengan sebutan Goa Pawon. Yang bikin goa ini terkenal adalah karena di dalamnya ditemukan fosil manusia purbakala dengan pose seperti sedang jongkok. Situs purbakala seperti ini haruslah dijaga dengan benar, jangan sampai hancur karena ulah-ulah penambang tersebut. Saat masuk ke dalam goa, rasanya ada banyak sekali kotoran kelelawar di mana-mana. Biasanya kalau ada orang yang tidak kuat dengan baunya, pasti akan berasa pusing, bahkan ada yang sampai mual-mual.

Sebagai info tambahan saja, daerah ini ternyata salah satu tempat favorit bagi yang hobi panjat tebing. Sejak saya ke sini tahun 2008 lalu, nampaknya tebing-tebing di sini sudah diminati oleh para wall climber. Karena dulu setiap saya ke sini, pasti ada saja yang sedang panjat tebing deh.

Oh ya sebelum lupa, buat yang mau bersantai hammock-ing di Gunung Masigit. Bisa contact ke sini ya:

– Dody Broy : 0878 2549 4489

– Afdal : 0878 2216 6031

– Irawan : 0859 7468 8881

Sebaiknya kalian bikin janji dulu kalau mau ke sini. Jadi guide-nya bisa memasangkan hammock terlebih dahulu sebelum kalian datang. Nah pas kalian tiba di sana, tanpa harus nunggu, sudah bisa langsung trekking ke atas deh. Selamat menikmati sensasinya ya!

Additional information :

– Tiket masuk Stone Garden : Rp 4.000,-/org

– Tiket masuk Goa Pawon : Rp 5.000,-/org

– Hammock-ing : Rp 250.000,-/org

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

One Response to Tantangan Bersantai di Ketinggian..
  1. […] kabupaten Bandung Barat. Bentuknya yang unik menyerupai tungku menjadikan gunung ini dinamai gunung Hawu (Perapian : Bahasa Sunda) Hawu adalah perapian yang digunakan masyarakat sunda untuk memasak dengan […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*