Short Escape to Nusa Lembongan and Ceningan..

INDONESIA


Bali selalu menjadi tempat pelarian saya di kala penatnya rutinitas. Walau tergolong sering ke Bali, tetapi saya selalu mendapatkan pengalaman baru dan sensasi berbeda setiap kali kembali ke pulau ini. Dan ini adalah kedua kalinya dalam tahun ini, saya terbang kembali ke Bali. Seperti biasa, saya ke Bali hanya short trip saja yaitu weekend only, Sabtu Minggu.

Setelah sekian lama, akhirnya saya punya kesempatan untuk mencicipi pulau-pulau yang berada di sebelah tenggara Pulau Bali ini. Di sana ada 3 pulau tepatnya yaitu Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan. Letak ketiga pulau itu sangat berdekatan, bahkan antara Nusa Lembongan dan Ceningan hanya dihubungkan dengan jembatan saja. Sejak 8 tahun yang lalu, saya selalu diving di seputaran 3 pulau ini untuk mencari Mola-mola (Ocean Sunfish). Tapi tidak pernah ada kesempatan untuk mampir ke daratan pulau-pulau ini. Nah baru sekarang saya bisa spesial datang untuk fully stay di pulau-pulau ini, walau hanya di Nusa Lembongan dan Ceningan saja.

Setelah mendarat di Bandara Ngurah Rai, kami lanjut menuju Pelabuhan Sanur. Dari Sanur, kami akan menyeberang ke Nusa Lembongan. Di sepanjang jalan, ada beberapa operator kapal yang menyediakan jasa untuk menyeberang menuju ketiga pulau itu. Namun dari hasil googling, saya menemukan ada 1 operator yang lumayan murah dan banyak pilihan jadwal keberangkatannya, namanya adalah Optasal Public Boat. Karena alasan itu juga lah, kami pun memutuskan untuk langsung beli tiket pulang pergi (return) di Optasal saja.

Dalam 30 menit, kami sudah tiba di pulau tujuan kami. Di Nusa Lembongan, ada dua lokasi untuk berhentinya kapal yaitu pelabuhan Junggut Batu dan Mushroom Bay. Kita hanya perlu menyesuaikan dengan letak hotel tempat menginap. Jadi nanti kita tinggal turun di pelabuhan terdekatnya. Kalau mau menginap di daerah Junggut Batu memang lebih ramai, namun hampir seluruh pinggir pantainya dibangun dinding penahan ombak, jadi susah kalau mau main pasir di pantai. Sedangkan Mushroom Bay tergolong sepi dan masih dikelilingi dengan hamparan pasir putih di sepanjang pantainya.

Di pinggir pantai, ternyata sudah ada staff hotel yang menunggu kedatangan kami. Kebetulan hotel kami tidak berada di tepi pantai, melainkan di atas tebing. Kami pun dijemput dengan 3 sepeda motor. Kenapa motor? Karena ternyata di pulau ini jarang ada mobil dan jalanannya pun memang sempit dan kecil. Perjalanan menuju hotel rasanya nanjak terus dan berkelok-kelok. Teman saya pun kesulitan mengejar motor staff hotel yang memandu di depan. Lalu tiba-tiba pas sedang belok, di depan kami ternyata jalannya menurun dong. Teman saya sekuat tenaga berusaha untuk ngerem, tapi motornya tetap melesat hingga ke pinggir tebing. Saya yang dibonceng di belakangnya hanya bisa pasrah lemes sambil menutup mata saja. Ban depan motor kami hanya beberapa centimeter dari ujung tebing. Kalau sempat ban depan bergeser maju 3 cm saja, pasti kami akan terjun bebas ke bawah. Nyaris saja. Fiuh!

Baru juga turun dari kapal, belum lagi sampai hotel, kami sudah dapat pengalaman yang tak terlupakan banget ini. Haha. Pokoknya hati-hati kalau menyetir motor di sini ya, karena cukup banyak jalanan yang berpasir, jadinya ban susah ngerem untuk berhenti. Masih dalam keadaan shock gara-gara nyaris terjun jurang tadi, setibanya di hotel kami mendapat kabar yang bikin shock lagi. Ternyata kamar kami di upgrade dong, dan letaknya persis depan infinity pool. Wuih! Asik banget dari kamar bisa langsung nyemplung main air. Byurrr!

Mengingat hari sudah siang, kami pun jalan keluar hotel untuk lunch. Untungnya hotel kami menyediakan sewa motor dengan BBM yang sudah terisi penuh. Jadinya gak perlu repot-repot cari rental motor lagi deh. Kami pun memutuskan untuk makan siang di pulau sebelah yaitu Nusa Ceningan. Untuk menuju ke sana, kami harus melewati sebuah jembatan yang beralaskan kayu. Jembatan yang menghubungkan antara Nusa Ceningan dan Lembongan ini dikenal dengan sebutan Jembatan Kuning, sesuai dengan warna jembatannya. Jembatan ini hanya bisa diakses oleh pejalan kaki dan sepeda motor saja. Dan untuk menyeberanginya harus satu persatu, karena bila sempat berpapasan agak susah melewatinya.

Akhirnya kami tibalah di Le Pirate. Tadinya kami berniat menginap di sini juga, namun harus menginap minimum 2 malam di sini. Sedangkan kami hanya punya waktu weekend saja, yang berarti hanya 1 malam saja. Oh iya sebelum lupa, jadi sebenarnya Le Pirate ini adalah sebuah kompleks yang dilengkapi dengan penginapan, restaurant dan swimming pool. Bangunan beach box-nya memang instagram-able banget. Ini adalah salah satu tempat yang hits banget di media sosial sekarang ini. Perpaduan antara warna putih dan tosca, sungguh membuat keunikan ciri khas tersendiri bagi Le Pirate. Awalnya sedih karena tidak bisa menginap di sini, tapi begitu tau kamar kami di-upgrade dengan infinity pool di depannya, rasanya bahagia minta ampun. Thank God!

Setelah perut kenyang, kami pun lanjut jalan-jalan keliling pulau. Tujuan utama kami adalah Blue Lagoon. Ini adalah salah satu tempat dalam travel bucket list saya, rasanya semangat banget mau ke sini. Setelah dapat arahan lokasi dari staff Le Pirate, kami langsung meluncur ke arah Blue Lagoon. Namun ternyata jalan akses menuju ke sana sedang ditutup. Jalan di hadapan kami dipalang dengan tiang besi besar mirip tiang listrik yang direbahkan di tengah jalan, sehingga tidak dapat dilewati oleh kendaraan bermotor. Masih belum menyerah, kami pun coba bertanya alternatif jalan lain menuju Blue Lagoon kepada penduduk sekitar. Ada 1 orang yang menyarankan lewat gang-gang kecil, dan setelah kami ikuti, yang ada kami malah nyasar tambah jauh kayaknya. Haha, sudahlah ya.

Kami memutuskan untuk kembali ke Nusa Lembongan saja. Di Lembongan, ada tempat yang namanya unik banget yaitu Devil’s Tear. Penasaran kan seperti apa tempatnya? Sebenarnya sih ini hanyalah gugusan tebing karang saja. Namun yang membuatnya menarik adalah posisi tebing ini yang tepat dengan arah datangnya ombak. Sehingga setiap ada ombak besar yang menabrak dinding karang di sini akan membuat cipratan air besar yang melambung ke atas, seperti ledakan air raksasa. Nah kalau ke sini harus siap-siap basah ya.

Tidak jauh dari sini, ada sebuah pantai pasir putih yang cukup nyaman untuk bersantai, namanya Dream Beach. Di sepanjang pantainya, terlihat ada beberapa penginapan dan restaurant juga. Ya lumayanlah untuk menghabiskan waktu di sore hari. Atau kalau ingin leyeh-leyeh di beach club, kalian bisa main ke Sandy Bay di Sunset Beach. Dulunya ini adalah Scallywags Bar and Grill, yang pernah ke Gili Trawangan pasti gak asing kan dengan nama ini. Hehe. Sebenarnya ada beberapa beach club lain di sini, cuma teman saya merekomendasikan Sandy Bay untuk dicoba. Tapi karena swimming pool di Sandy Bay tergolong kecil, saya pun mengurungkan niat untuk menghabiskan sore di sini. Kayaknya enakan main air di infinity pool hotel deh. Kalau gitu, let’s go back to hotel, guys!

Keesokan paginya, kami berencana memutari pulau ini dengan santai sebelum menyeberang kembali ke Sanur. Sebenarnya ada banyak pilihan untuk aktivitas yang dapat dilakukan di sini, seperti mengeksplor hutan mangrove dengan kapal jukung, sewa kapal untuk snorkeling keliling tiga pulau, atau melihat pembudiyaan rumput laut. Oh iya, sekedar informasi, kebanyakkan dari penduduk di pulau ini adalah petani rumput laut. Rumput Laut yang berasal dari sini tergolong rumput laut dengan kualitas terbaik di dunia. Tidak heran banyak sekali rumput laut dari sini yang diekpor ke luar negeri untuk memenuhi permintaan dari negara lain.

Sebenarnya ketiga aktivitas tersebut menarik untuk dicoba, tapi karena tujuan utama kami ke sini belum tercapai, rasanya masih penasaran banget. Akhirnya kami pun mencoba peruntungan dengan kembali ke Blue Lagoon lagi. Saat itu, kami berharap semoga kemarin jalannya hanya ditutup sementara, misalnya karena sedang ada upacara adat saja. Dan hari ini, semoga upacaranya telah selesai sehingga jalannya bisa dilewati kembali. Dengan modal nekat, kami segera meluncur dari Nusa Lembongan menuju Ceningan lagi. Dan surprise! Doa kami terkabul, ternyata tiang listrik yang kemarin tiduran di tengah jalan, sekarang telah menghilang. Yippie! Kami pun langsung tancap gas menuju Blue Lagoon. Dan begitu sampai di Blue Lagoon, mata kami benar-benar dimanjakan dengan warna gradasi laut yang sangat memukau banget. Duh rasanya gak bisa berhenti ngomong ‘keren banget..’ berulang-ulang di sini, karena view yang ditawarkan benar-benar breathtaking. Rasanya puas banget, akhirnya bisa touch down juga di sini. Bahagia banget!

Blue Lagoon ini juga terkenal dengan jump cliff yang ketinggiannya sekitar 13 meter dari permukaan air laut. Dulunya tempat ini dibuka untuk umum, namun sekarang sudah ditutup karena banyak wisatawan yang cedera saat loncat di sini. Kalau melihat ke bawah ya, arusnya memang kelihatan cukup kencang dan pinggiran tebingnya juga nampak tajam. Tidak heran kenapa ini ditutup, karena memang cukup membahayakan apalagi untuk para pemula. Tanpa cliff jump ini pun, keindahan Blue Lagoon sebenarnya sudah cukup menantang untuk dikunjungi. Kami saja sampai bolak-balik dua kali demi ke sini coba. Haha.

Oh iya sebagai penutup, saran saya kalau kalian menemukan jalan yang tiba-tiba terpalang ketika sedang liburan di salah satu pulau ini, jangan cepat menyerah ya. Cobalah bertanya dengan penduduk sekitar alasan kenapa jalannya ditutup dan kapan akan dibuka lagi. Siapa tahu hanya sementara, kayak kejadian yang kami alami kan. Jadi liburan kalian tidak akan mengecewakan deh, apalagi ke Blue Lagoon itu wajib banget!

Additional information:

– Optasal public boat : IDR 75,000/one way (turis domestik)

– Sewa sepeda : IDR 20,000-30,000/day

– Sewa motor (include BBM) : IDR 80,000-100,000/day

– Sewa kapal (include snorkeling gear) : IDR 300,000-450,000/day/boat

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*