Road Trip to Toba Lake..

INDONESIA


Apabila hitungan saya tidak salah, rasanya Presiden Jokowi telah empat kali terbang ke Sumatera Utara. Dan salah satu misi besarnya Pak Presiden adalah untuk mengangkat nama besar Danau Toba yang belakang ini kian meredup gaungnya. Harapannya agar pamor danau terbesar di dunia ini dapat bersinar terang kembali. Saya sendiri sudah beberapa kali melihat Danau Toba dari kejauhan, namun belum pernah turun hingga menyeberangi Pulau Samosir yang berada di tengah danau tersebut. Saya dan teman saya yang penasaran akhirnya membuat roadtrip weekend dadakan, mulai dari Medan – Pulau Samosir via Berastagi dan kembalinya dari Pulau Samosir – Medan via Pematang Siantar. Kami sengaja membedakan jalur pergi dan pulangnya biar roadtrip ini jadi lebih seru.

Sabtu pagi, kami memulai perjalanan menuju Berastagi, sebuah daerah yang sangat terkenal sebagai penghasil buah-buahan di Sumatera Utara. Bahkan kalau kalian mau petik sendiri dari kebunnya pun bisa loh. Banyak kebun penduduk yang letaknya di pinggir jalan. Saat itu sedang musim jeruk, jadi pemandangan di kiri kanan jalan kami adalah pohon-pohon jeruk yang sedang berbuah lebat. Kami sendiri tidak sempat main ke kebunnya, jadi hanya mampir di pasar buah saja deh.

Di Berastagi, kami juga mengunjungi Taman Alam Lumbini. Saya yakin pasti jarang yang mendengar nama Lumbini ini ya? Padahal ini adalah bangunan pagoda termegah dan tertinggi di Indonesia loh. Pagoda yang dilapisi warna emas ini ternyata adalah replika dari Pagoda Shwedagon yang terletak di Myanmar. Jadi yang mau lihat pagoda emas, tidak perlu susah payah apply visa ke Myanmar deh. Hehe

Setelah itu, kami lanjut menuju air terjun tertinggi di Indonesia namanya Air Terjun Sipiso-piso. Karena letaknya di daerah perbukitan, rasanya sejuk sekali udara di sini. Dari tempat parkir, kami bisa langsung melihat air terjun yang memiliki ketinggian 120 m ini dari atas. Jika ingin mencapai dasarnya, kalian harus menuruni ratusan anak tangga hingga ke bawah. Saya sendiri hanya kuat turun sampai sepertiga jalan dan memutuskan untuk balik naik ke atas lagi. Jika baru turun sebentar saja sudah bikin napas sudah ngos-ngosan. Apalagi jika telah sampai dasar dan harus kembali naik, bisa pingsan di jalan ini. Haha. Katanya sih, untuk sampai ke bawah bisa memakan waktu 1 jam, jadi kalau bolak balik totalnya 2 jam.

Berikutnya kami mampir ke Rumah Adat Bolon Batak Simalungun yang terletak di Pematang Purba. Dalam kompleks ini, terdapat rumah kediaman milik raja batak Simalungun yang bermarga Purba. Yang unik dari bangunan rumah adat ini adalah strukturnya tidak menggunakan paku sama sekali, hanya dikunci menggunakan kayu saja. Hal ini dikarenakan saat pembangunan bangunan ini, masyarakat setempat belum mengenal paku. Sehingga kita bisa bayangkan seberapa tua bangunan ini sekarang. Walaupun telah berumur ratusan tahun, namun bangunan ini masih berdiri tegak nan kokoh.

Dengan KMP. Tao Toba (Ferry), kami menyeberang dari Pelabuhan Ajibata menuju Pelabuhan Tomok di Pulau Samosir. Setibanya di Samosir, kami bukannya istirahat di hotel tapi malah lanjut jalan-jalan lagi. Haha. Kami pun berjalan santai menuju Makam Raja Sidabutar, salah satu situs sejarah yang wajib untuk dikunjungi di pulau ini. Pada makamnya, terlihat ada tiga ukiran yang menghiasinya. Katanya ukiran kepala manusia besar di depan melambangkan Raja Sidabutar, sedangkan ukiran kepala di bagian belakang melambangkan istri raja, dan ukiran lelaki yang duduk di depan adalah panglima raja. Selain itu, dalam kompleks ini juga terdapat beberapa patung orang berukuran kecil yang berdiri membentuk lingkaran. Patung-patung ini melambangkan orang-orang yang sedang berdoa untuk memanggil turunnya hujan pada zaman dahulu.

Ketika kami sedang berjalan berkeliling pasar souvenir di Tomok, kami mendengar suara musik khas batak dimainkan. Kami pun segera bergegas menuju ke arah sumber suara itu. Ternyata suara itu berasal dari musik yang sedang mengiringi tarian Sigale-gale, sebuah patung kayu yang digerakan oleh dalang. Sigale-gale ini adalah atraksi utama yang dipentaskan di Pulau Samosir. Menurut ceritanya, patung kayu ini merupakan replika dari seorang putra raja yang telah meninggal dunia. Karena kesedihan raja akan kepergian putranya, maka sang raja meminta dibuatkan patung yang dapat digerakan untuk menghibur hatinya. Saat kami datang, ternyata ada satu rombongan yang meminta agar Sigale-gale dimainkan. Untung saja ada rombongan itu, jadi kami tinggal join saja deh. Hehe. Karena sebenarnya patung Sigale-gale ini tidak selalu dimainkan, hanya jika ada pengunjung yang meminta barulah dimainkan oleh dalangnya.

Keesokan paginya, kami lanjut lagi explore Pulau Samosir ini. Kami menuju Huta (Kampung) Siallagan di daerah Simanindo. Kampung ini merupakan sebuah kompleks yang cukup luas. Di dalamnya ada 8 rumah adat batak yang berusia ratusan tahun. Selain itu, kami juga melihat beberapa kursi batu yang dulunya digunakan untuk persidangan para pelanggar hukum adat. Setelah puas berkeliling, kami pun kembali ke pelabuhan untuk menyeberang dan melanjutkan perjalanan ke Pematang Siantar.

Jika pada saat berangkatnya, kami banyak melewati beberapa tempat wisata. Saat pulangnya, kami hanya mampir ke 1 tempat saja yaitu Vihara Avalokitesvara. Sebenarnya tujuan utama kami ke sini adalah mau melihat Patung Dewi Kwam Im yang katanya merupakan patung tertinggi di Asia Tenggara. Tinggi patungnya mencapai 22,8 meter, sehingga kalau foto di depannya jadi kecil banget orang yang difoto. Hehe. Selain patung Dewi Kwam Im, di sini juga terdapat 12 patung yang melambangkan 12 shio. Tapi patung-patung shio itu ukurannya normal, tidak setinggi patung Dewi Kwam Im.

Selesai dari situ, kami langsung meluncur pulang. Sekitar pukul 21.00, barulah kami tiba di kota Medan. Lumayan ya, dalam 2 hari bisa dapat semuanya. Tanpa kami sadari, ternyata dalam roadtrip ini kami banyak mengunjungi tempat yang mendapat julukan ‘tertinggi’ mulai dari pagoda, air terjun hingga patung tertinggi. Dan dapat disimpulkan juga bahwa hampir semua tempat yang kami datangi identik dengan sejarah dan budaya. Nah, ada yang penasaran dengan wisata alam yang menampilkan kecantikan Danau Toba itu sendiri ya? Oke tunggu ya, selanjutnya saya akan menceritakan spot-spot oke untuk menikmati keindahan Danau Toba yang mempesona dunia.

Additional information

– Tiket masuk Sipiso-piso : Rp 13.000,-/m0bil

– Tiket masuk Rumah Adat Bolon : Rp 5.000,-/orang

– Karcis penyeberangan kendaraan : Rp 102.500,-/mobil

– Karcis penyeberangan penumpang : Rp 3.500,-/orang

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*