Road Trip Sumba..

INDONESIA


Akhirnya saya dapat kesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah Sumba, sebuah pulau di Nusa Tenggara Timur. Kalau saya katakan bahwa letaknya persis di sebelah selatan Kepulauan Komodo, pasti kalian langsung terbayang deh dimana pulau ini. Iya kan? Sejak menjadi lokasi syuting film karya Mira Lesmana Pendekar Tongkat Emas, keindahan alam Sumba yang selama ini belum diketahui publik, kini mulai terdengar gaungnya. Apalagi dengan adanya media sosial yang ikut andil mendorong Sumba menjadi salah tujuan wisata yang mulai hits sekarang ini. Sumba itu memiliki keunikan yang tidak ada di tempat lain mulai dari savana, pantai, danau, hingga kampung adatnya. Sebelum jadi mainstream, wajib banget ke sini loh! Duh, saya jadi tidak sabar banget mau sharing keindahan Sumba nih, kita mulai saja yuk.

Mari kita awali dengan yang paling terkenal di Sumba yaitu savana-nya. Kalau main ke Sumba Timur, mata ini rasanya tidak berhenti disodorkan pemandangan hijau nan memukau di sepanjang perjalanan. Walau perjalanan jauh, tapi rasanya sayang untuk dilewatkan dengan tidur begitu saja. Sepanjang jalan rasanya ingin selalu berhenti untuk foto-foto deh, padahal yang difoto mirip semua. Haha. Nah katanya ada satu spot yang oke banget untuk mengabadikan keindahan savana di Sumba ini. Kalau baca di google sih namanya Bukit Wairinding. Tapi setiap orang yang kami temui di jalan tidak ada yang familiar dengan nama bukit ini. Setelah mencoba mendeskripsikan bukit itu dengan segala cara, akhirnya ada juga penduduk yang mengerti bukit yang kami maksud. Ternyata penduduk sekitar menyebutnya dengan nama Bukit Cinta. Halah, ada-ada saja. Haha. Setelah trekking sedikit, sampailah kami di atas Bukit Wairinding. Dari sini, saya bisa memandang luas segala arah untuk menikmati keindahan savana Sumba ini. Duduk manis di rerumputan dengan hembusan semilir angin itu rasanya benar-benar nikmat. Walau panas matahari terus menaungi kami, tapi rasanya kaki ini enggan pergi meninggalkan kecantikan savana di hadapan kami.

Karena masih ada keindahan alam Sumba Timur yang menanti kami, akhirnya kami pun lanjut ke tujuan berikutnya. Dari bukit savana, kami teruskan main air di pantai. Ini pantainya bukan sembarang pantai loh. Karena di pantai ini tumbuh pohon-pohon bakau yang kerdil tapi unik bentuknya. Pas pertama datang ke sini, ternyata kami datang kepagian. Air laut masih pasang tinggi, sehingga pohon-pohon bakau itu tenggelam dan hanya ujung-ujung daunnya saja yang terlihat dari kejauhan. Bahkan ketika sampai di sini, saya sempat ragu apakah kami benar berada di Pantai Walikiri? Masa sih dedaunan yang sedikit menyembul di permukaan air itu adalah pohon bakau? Karena bingung, kami pun memutuskan kembali ke kota sejenak untuk makan siang. Lalu sekembalinya kami ke Walikiri lagi, kumpulan pohon bakau mungil itu pun nampak berdiri manis di atas pasir. Haha, jadi tidak enak sempat meragukan teman sendiri, ternyata ujung daun di tengah laut tadi benar ujung atasnya pohon bakau loh. Haha. Ternyata saat siang hari, air laut telah surut jauh sehingga kami bisa berjalan mendekati pohon-pohon itu. Yes! Satu lagi yang unik, di sini ada bintang laut kecil dimana-mana. Bintang lautnya berwarna mirip dengan pasir, jadinya agak susah melihatnya. Dan jumlahnya itu minta ampun banyaknya, saya sampai bingung mau lewat mana. Takut banget kalau sampai menginjak bintang lautnya. 🙁

Untuk petualangan berikutnya, yuk kita ke Sumba Barat. Tadi sudah cerita savana, terus pantai dan selanjutnya kita jelajah budaya ya. Mari main ke Kampung Tarung, sebuah desa tradisional yang dipenuhi dengan rumah-rumat adat Sumba dengan ciri khas atapnya yang tinggi. Posisi rumah-rumah ini seperti membentuk lingkaran dan di tengahnya terdapat beberapa kubur batu milik leluruh kampung ini. Di salah satu rumahnya, saya melihat deretan puluhan tanduk kerbau terpajang rapi, rasanya mirip dengan karakter rumah adat di Toraja ya. Walau dikategorikan sebagai kampung tradisional, namun listrik dan telepon selular sudah menjadi bagian dari penduduk kampung ini. Meski demikian, tradisi adat budayanya masih dipegang teguh oleh penduduknya.

Tujuan terakhir saya di Sumba Barat adalah Danau Weekuri dan Pantai Mandorak. Letak kedua tempat ini sebenarnya sangat berdekatan, jadi sekalian jalan dapat dua tempat main deh. Sesampainya di Danau Weekuri sudah menjelang sore hari, jadi air danaunya agak surut deh. Hmm, daripada bengong mending kita coba naik ke atas tebingnya saja. Siapa tahu bisa lihat pemandangan yang wow dari atas kan. Tebing karang yang kami naiki ini lumayan tajam loh, hati-hati ya. Apalagi kalau pakai sendal jepit bakal rawan putus. Dari atas, saya dapat melihat dinding karang yang menjadi batas antara laut dan Danau Weekuri. Air dalam danau ini sebenarnya berasal dari laut yang masuk melalui celah-celah pada tebing karang ini. Hmm, rasanya kalau menyaksikan sunset di atas sini pasti keren banget deh. Tapi nanti bagaimana cara turun melewati karang-karang tajam ini saat gelap ya? Kayaknya sebelum sinar matahari benar-benar hilang, kami sebaiknya segera turun saja deh, gak usah cari masalah. Haha.

Oke berikutnya kita main ke pantai lagi, Pantai Mandorak. Saat berjalan ke pantai, saya melihat sebuah bangunan panggung atau pendopo yang beratap tinggi menyerupai rumah adat Sumba. Unik sih, melihat ada bangunan tradisional yang berada di tepi pantai. Spot oke buat foto-foto. Hehe. Jalur menuju ke arah pantai, ternyata berupa tebing karang lagi. Kami jadi keasikan nontonin ombak-ombak yang menabrak karang sehingga menghasilkan cipratan air yang begitu besar. Setiap ada ombak yang menabrak karang, air laut yang tadinya berwarna biru langsung berubah menjadi buih air yang berwana putih. Di Bali juga ada nih yang mirip seperti ini, ada di Nusa Dua namanya Water Blow dan ada juga di Nusa Lembongan namanya Devil’s Tear.

Itu baru cerita Sumba Timur dan Barat saja loh, ada lagi yang di Sumba Barat Daya. Secara garis besar sih, saya menghabiskan 1 hari untuk ke masing-masing area, dimulai hari pertama di Sumba Barat, lanjut hari kedua ke Sumba Timur dan hari ketiga jelajah Sumba Barat Daya. Trip ini kami arrange sendiri, tidak ikutan open trip, hanya sewa mobil saja. Kami sih nyetir sendiri alias tidak pakai driver, benar-benar road trip banget! Lumayan dari kami berempat, ada 3 orang yang bisa nyetir, jadi bisa ganti-gantian deh. Oke berikutnya, sampai ketemu di Sumba Barat Daya ya.

 © kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*