My Best Sunrise is from Ijen Crater..

INDONESIA


Dengan flight pertama, kami terbang menuju Surabaya. Rasanya lega banget bisa mendarat dengan aman di Bandara Juanda ini. Karena sudah hampir sebulan belakangan, beberapa bandara di daerah Jawa bagian timur hingga Bali ditutup akibat aktivitas Gunung Raung yang meningkat sehingga mengeluarkan debu vulkanis yang cukup tebal. Begitu keluar pesawat tanpa membuang waktu, kami pun segera berlari keluar untuk mengejar kereta api yang akan mengantarkan kami menuju Banyuwangi. Karena kami semua orang Jakarta, jadi ujung-ujungnya pasti cari taksi ‘burung biru.’ Namun ternyata di Bandara Juanda, hanya taksi tertentu sajalah yang boleh mengangkut penumpang. Tidak kehabisan akal, kami segera jalan kaki menuju gerbang luar dan memberhentikan taksi favorit kami di situ. Sebenarnya kalau tidak buru-buru sih, kami bisa saja naik taksi apapun. Tapi karena sedang mengejar kereta, jadinya kami tidak mau ambil resiko bakal diputar-putar sama supirnya kalau menggunakan taksi yang tidak jelas.

Setiba di Stasiun Gubeng, kami langsung mencetak tiket kami. Wah, sekarang sistem tiket kereta api sudah canggih ya. Tinggal pesan online, lalu masuk kode booking-nya di mesin yang terdapat di stasiun keberangkatan dan tercetaklah tiket kami. Ok banget! Perjalanan menuju Banyuwangi ini akan menempuh waktu sekitar 6 jam. Stasiun terakhir dari rute kereta api kami adalah stasiun Banyuwangi Baru, sedangkan kami akan turun di stasiun Karangasem (1 stop sebelum Banyuwangi Baru). Kenapa kami turun di sini? Karena hotel kami letaknya di pusat kota dan akan lebih dekat jika diakses dari Karangasem.

Sesampainya di hotel, rasanya ingin cepat-cepat istirahat saja, karena nanti malam pukul 23.00, kami sudah harus berangkat lagi buat trekking di Ijen nih. Nah yang mau jalan-jalan keliling sekitar Banyuwangi, seperti Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran, Pulau Merah, Plengkungan hingga Menjangan di Bali, paling enak sih sewa mobil. Kami pun menyewa mobil 1×24 jam untuk rute dari Hotel – Kawah Ijen – Hotel – Baluran – Hotel. Harganya variasi banget mulai dari 800 ribuan hingga 2 jutaan. Kami sendiri berhasil mendapatkan harga Rp 850.000,- dengan menggunakan mobil Toyota Avanza. Tepat pukul 23.00, driver kami telah menunggu di lobby hotel. Begitu turun, ternyata mobil yang kami pakai bukanlah Avanza tapi Innova. Surprise banget loh! Supirnya sangat bersahabat lagi dan nyetirnya pun nyaman. Recommended deh ini.

Ngapain hayo malem-malem ke Ijen? Jadi gini nih, tujuan utama kami ke Ijen adalah untuk menyaksikan fenomena Blue Fire yang hanya bisa dilihat saat malam hari saja. Waktu terbaik untuk menyaksikannya antara pukul 2.00 – 4.00 subuh. Untuk menuju Ijen, kami menempuh sekitar 1 jam perjalanan yang rutenya nanjak terus. Saking curamnya, AC mobil akhirnya kami matikan agar mesin lebih kuat kerjanya untuk nanjak ke atas. Ya ampun, ternyata udara dari luar jauh lebih dingin dibanding AC mobil loh. Brrr!

Begitu sampai, kami segera membeli tiket dan melapor di Pos Paltuding. Setelah itu kami pun bergabung bersama dengan pengunjung lainnya. Ternyata akses jalan untuk ke puncak ditutup dengan portal dan baru akan dibuka pada pukul 1.00. Kami pun menunggu selama kurang lebih 1 jam dan rasanya benar-benar dingin banget. Kami menunggu di luar loh, bukan dalam ruangan. Jangan harap ada ruang tunggu dimana kalian bisa duduk manis menunggu hingga portalnya dibuka. Hehe. Saran saya bawa termos minum hangat deh, lumayan untuk menghangatkan badan selagi menunggu kan. Tepat pukul 1.00, portal pun dibuka dan para pengunjung diminta untuk menunjukkan tiketnya untuk dicek oleh petugas satu per satu.

Berbondong-bondong bersama ratusan pengunjung lainnya, kami pun mulai jalan nanjak ke atas. Pas awalnya sih jalannya masih ramai, karena masih semangat semuanya. Eh lama-lama, banyak yang istirahat di tengah jalan. Karena kami masih muda, tetap jalan terus dong. Haha. Tanpa terasa, kami mulai terpisah dengan pengunjung lainnya yang berhenti istirahat. Wih, sudah gelap banget, terus tinggal kami doang lagi. Pelan-pelan kami tetap melanjutkan trekking dan hanya berpatokan pada jalan yang ada di depan kami saja. Untung jalannya cuma satu kan, kalau sempat bercabang, pasti bingung deh.

Ya ampun, lumayan banget loh nanjaknya sekitar 3 km, ditambah dingin banget lagi udaranya. Buat saya yang belum pernah naik gunung, ini lumayan menantang banget, apalagi tingkat kecuramannya sekitar 30 – 40 derajat. Saya sendiri tidak ada persiapan apapun buat ‘naik gunung’ gini. Saya pun baru sadar ketika sudah di sini, ternyata saya sedang naik Gunung Ijen. Haha. Jadi buat teman-teman sekalian, usahakan pakai sepatu yang nyaman dan jangan bawa barang terlalu berat ya. Oh ya satu lagi, bawalah senter yang super terang, karena sepanjang jalan hanya cahaya senter yang kalian bawa itulah yang akan memandu kalian hingga sampai ke atas.

Setelah 2 jam mendaki, akhirnya kami tiba di atas, kami pun segera mencari blue fire yang menjadi primadona dari Gunung Ijen ini. Dan ternyata, blue fire tersebut berada di dalam kawahnya dong. Kami pun harus kembali trekking ke bawah dengan berjalan menulusuri pinggiran kawahnya. Ini jalurnya lebih menantang dibanding saat nanjak tadi loh. Jalannya tuh berbatu-batu dan sempit banget hanya untuk satu orang. Kalau papasan dengan orang yang mau naik, kami harus berhenti dulu. Terus kalau ada yang lambat jalannya, mau gak mau yang dibelakangnya harus sabar nungguin. Hehe. Eits, jangan lupa ini keadaannya masih gelap gulita loh, jalannya tetap harus diterangi dengan senter. Jadi harus extra hati-hati ya, jangan sampai terpeleset jatuh, karena di sini isinya batu-batu semua.

Mendekati kawah, kami mulai mencium bau yang sangat pekat. Bau itu berasal dari belerang yang berada dalam kawah ini. Oh iya sekadar informasi, Kawah Ijen ini merupakan kawah belerang terbesar di dunia loh. Kalau ke sini, harus bawa masker ya, jika tidak kalian bisa pusing cium bau belerang yang tajam banget. Walau baunya semakin menusuk tapi kami malah merasa senang, karena artinya kami hampir sampai dengan blue fire tersebut. Tidak lama kemudian, kami benar-benar melihat kobaran api biru yang besar di hadapan kami. Ternyata fenomena ini berasal dari gas bertekanan tinggi yang keluar dari celah-celah di Gunung Ijen. Gas ini memiliki suhu hingga 600 C dan apabila terkena udara luar maka akan menghasilkan nyala api yang berwarna biru. Fenomena alam ini cuma ada dua di dunia, yang satu lagi berada di Islandia.

Dari awal kami sudah semangat sekali mau moto blue fire ini, tapi yah, susahnya itu minta ampun loh. Begitu ada angin sedikit, asapnya langsung nyerbu ke arah kami. Mulai dari batuk-batuk, mata berair sampai susah nafas. Awalnya sih masih bisa ditahan, tapi lama-lama nyerah juga sama asapnya. Padahal sudah pake masker double loh, tapi tetap aja tembus. Yah walau belum dapat foto yang memuaskan, tapi kami nyerah banget deh sama asapnya. Kami pun segera bergerak menjauh dari blue fire untuk mencari udara segar. Fiuh!

Akhirnya kami kembali naik ke atas dan beristirahat sejenak. Tapi setelah itu kami jadi bingung sendiri, mau ngapain lagi. Mau tetap tinggal di sini, tapi tidak ada tenda atau tempat berlindung dari dinginnya udara malam. Sedangkan kalau kami jalan turun kembali ke pos sendirian, rasanya malas juga. Dan hampir semua pengunjung nampaknya bertahan di sini, walau mereka berada di lapangan terbuka yang selalu diterpa angin malam yang dingin. Heran juga sih kenapa gak ada yang bawa tenda di sini ya? Akhirnya kami putuskan untuk menunggu di sini juga hingga matahari terbit. Kami berusaha mencari tempat agak tertutup untuk berlindung dari dinginnya tiupan angin. Kami pun duduk di antara bebatuan agar tidak terlalu terbuka apabila angin berhembus. Sambil memandang ke langit yang penuh dengan bintang-bintang, saya pun mencoba untuk tidur sejenak. Tetapi dinginnya angin yang menusuk, benar-benar tidak bisa bikin tidur. Andaikan di atas sini ada yang jualan mie rebus atau kopi susu, pasti bakal enak banget itu. Hehe.

Setelah bertahan sekian lama, akhirnya saya melihat warna langit yang mulai berubah menjadi kuning kemerahan. Wow, matahari sudah terlihat di ujung cakralawa ternyata. Kami pun segera bangun dan memandang ke arah datangnya cahaya tersebut. Rasanya saya tidak bisa berhenti tersenyum lebar, bahagia banget melihat lukisan langit yang sangat indah ini. Pertama kalinya, saya berdiri lebih tinggi dari awan-awan di sekeliling saya. Ternyata inilah rasanya naik gunung itu. Akhirnya saya yang selama ini yang cuma menyelami laut saja, sekarang perdana naik gunung dengan ketinggian 2.386 mdpl. Yah, mungkin buat yang sering naik gunung, pasti Gunung Ijen tidak ada apa-apanya kan. Tapi bagi saya yang belum pernah dan sama sekali gak ada persiapan untuk dingin-dinginan di atas gunung gini, rasanya bangga banget. Wow, begini ya sensasinya memandangi keindahan langit dari atas gunung. Benar-benar bikin nagih banget.

Begitu langit mulai terang, saya baru sadar bahwa gunung yang berada di hadapan saya adalah Gunung Raung. Ya ampun, ternyata sebelahan sama Gunung Ijen ya. Haha. Gunung Raung yang sedang aktif ini terus mengeluarkan asap tebal dari kawahnya.

Selain itu, saya juga melihat para penampang yang mulai beraktivitas pagi di sekitar kawah. Bongkahan besar belerang dipikulnya mulai dari bawah kawah hingga ke puncak. Tidak tanggung-tanggung hampir 100 kg bongkahan belerang yang dipikul para penampang itu setiap harinya. Ada juga beberapa penambang yang kreatif mencoba membuat souvenir kecil dari bongkahan belerang tersebut. Lumayanlah buat oleh-oleh khas Kawah Ijen kan.

Sebelum matahari mulai terik, kami pun bergegas turun ke kembali ke Pos Paltuding. Nah, kalau semalam susah payah naik ke atasnya, sekarang pun untuk turunnya kami harus melewati tantangan tersendiri. Karena jalan yang kami lalui itu berpasir dan kemiringannya cukup curam. Banyak pengunjung yang jatuh terpeleset karena licin. Saya sendiri pun sempat beberapa kali nyaris terjatuh. Yang bikin khawatirnya adalah kalau jatuh bisa menabrak orang yang berada di depannya, dan terus begitu ke depannya. Kebayangkan kalau semua orang jadi saling terpeleset di jalanan menurun, seperti main seluncuran massal. Haha.

Perjalanan trip kali ini benar-benar di luar ekspektasi saya sebenarnya. Saya tidak menyangka akan naik gunung, kemudian ternyata tidak ada tempat berlindung sama sekali selain alam terbuka dan sepanjang malam saya harus menahan dinginnya angin di puncak gunung pula. Tapi semua itu benar-benar terbayar lunas dengan pemandangan indah dan langka yang saya dapatkan di atas sini. Perjalanan ini bukan bikin saya kapok, tapi malah membuat saya makin semangat untuk nyicipin gunung-gunung indah lainnya di Indonesia. Apalagi kata teman saya, saya cukup oke lah untuk kategori pemula dan tidak menyusahkan selama perjalanan. Benar-benar memotivasi banget itu kata-katanya untuk nyobain naik gunung lagi. Tentu saja, trip selanjutnya sudah dengan persiapan yang lebih mantap pastinya. Semoga berikutnya bisa naik Rinjani. Aminnnn..!

Additional information

– Tiket masuk Kawah Ijen : Rp 10.000,-/orang

– Sewa mobil 1×24 beserta supir : Rp 850.000,-

p.s. : yang mau kontak untuk sewa mobilnya, bisa tinggalkan alamat email di kolom comment ya, nanti saya kirimkan via email 🙂

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

2 Responses to My Best Sunrise is from Ijen Crater..
  1. cha says:

    Haayyy.. Boleh tau kontak rental mobilnya??
    Untuk harga itu sudah include bbm kah??

    Terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*