Luxembourg: Road Trip ke Negeri Dongeng..

LUXEMBOURG


Are you looking for an authentic fairytale destination?

Inilah kalimat yang sempat muncul beberapa kali, saat sedang ber-googling ria merencanakan itinerary untuk Europe trip. Sebuah kalimat yang sangat tempting dan bikin penasaran. Awalnya saya mengira yang dimaksud adalah di Inggris atau Paris. Ternyata saya salah besar, karena destinasi yang dimaksud berada di sebuah negara bernama Luxembourg. Wah ‘fairytale’ ya? Apakah negara ini mirip dengan negeri dongeng seperti yang ada dalam bayangan kita semua? Saya pun makin semangat untuk mencari tahu lebih detail lagi. Fakta yang saya temukan, kalimat tersebut tidak merujuk ke satu tempat saja, melainkan mewakili untuk satu negara. Ternyata Luxembourg adalah negara yang penuh dengan kastil tua dan benteng pertahanan yang tersebar hampir di seluruh daratannya. Walaupun sebagai sebuah negara, luas wilayahnya tergolong sangat kecil hanya 2.586 km persegi, tapi di dalamnya ada puluhan kastil besar yang masih berdiri kokoh hingga sekarang. Menurut sejarah, di abad pertengahan, ada sekitar 109 kastil dalam wilayah ini. Tentu banyaknya jumlah kastil dan benteng ini, jelas menunjukan seberapa besar kekuasan daerah ini dulunya.

Dari beberapa artikel, ada menyebutkan bahwa Luxembourg adalah negara termakmur di dunia. Dimana pendapatan per kapita warganya tertinggi di dunia, jumlah pengangguran terendah dibandingkan semua negara dan tingkat inflasi paling rendah diantara yang lain. Wah, sungguh negara yang menjadi impian orang-orang yang ingin hidup damai dan sejahtera.

Buat sebagian orang, nama negara ini mungkin terdengar asing. Tapi kalau saya sebut kata ‘Schengen’ pasti lebih familiar kan ya? Untuk memasuki benua Eropa, setiap orang diwajibkan untuk apply visa Schengen. Dengan 1 visa, kita dapat bebas memasuki setiap negara di Eropa. Walau begitu ada 6 negara di wilayah Eropa, yang tidak menerima Schengen yaitu Inggris, Ireland, Cyprus, Romania, Bulgaria dan Croatia. Untuk masuk ke enam negara tersebut haruslah apply visa tersendiri lagi. Oke kembali ke Schengen. Saya pun sempat punya pertanyaan apa arti kata dari Schengen itu sendiri? Ternyata Schengen bukanlah sebuah kata benda melainkan nama sebuah desa kecil di Luxembourg. Katanya perjanjian mengenai open-border antara negara-negara di Eropa ini memilih Luxembourg sebagai tuan rumah, karena posisinya yang diapit oleh 3 negara lain. Hal ini membuat Luxembourg terlihat menjadi lokasi yang ideal untuk mengesahkan Schengen Agreement tersebut.

Perjalanan kali ini, kayaknya paling asik kalau road trip mengelilingi Luxembourg, apalagi luas wilayahnya yang juga tidak terlalu luas. Kami pun akhirnya memutuskan untuk menyewa mobil saja. Dan mobil yang kami dapatkan adalah tipe favorit saya yaitu Ford Fiesta. Yippie! Ujung-ujungnya mobil ini tidak hanya digunakan untuk keliling Luxembourg saja sih, tapi malah jadi road trip ke beberapa kota di Eropa, FrankfurtBrussels-Luxembourg-Rotterdam-Amsterdam. Can’t wait. So excited. Let’s go!

Dari Frankfurt, kami berangkat pagi menuju kota Luxembourg, tapi sempat mampir di Brussels dulu sih. Nah ternyata nama ibukota dan negaranya sama-sama Luxembourg loh. Karena saat kami tiba di sini sudah siang, kami pun memutuskan makan siang dahulu sebelum lanjut keliling kota Luxembourg dengan berjalan kaki.

Saya tidak menyangka ternyata kota ini terletak di atas tebing yang dikelilingi oleh benteng di sekitarnya. Sisa bangunan benteng tersebut dapat terlihat jelas, saat mengunjungi Bock Casemate. Ini adalah galeri bawah tanah yang sangat panjang hingga 17 km. Awalnya selain sebagai benteng pertahanan, bangunan ini adalah tunnel tua yang dibangun pada tahun 1644. Yang kemudian diperlebar hingga 23 km mengelilingi kota dengan kedalaman sampai 40 m di bawah tanah. Karya besar ini mendapat julukan ‘Gilbraltar of the North.’ Dengan sistem pertahanan seperti ini menjadikannya sebagai salah satu kota terkuat saat itu. Bahkan pada tahun 1867, militer musuh sempat mencoba untuk menghancurkan bangunan ini, namun gagal. Bangunan ini berhasil membuktikan bahwa dirinya mustahil untuk diruntuhkan, dimana hampir sebagian dari bangunan ini (sekitar 17 km) masih berdiri dengan utuh. Di tahun 1933, Bock mulai dibuka untuk umum dan pada 1994 terdaftar sebagai salah satu bagian dari World Heritage UNESCO.

Keluar dari Bock, saya berjalan di pinggiran bekas bangunan tua tersebut. Dari hasil googling saya, di sini ada spot dimana kita dapat menikmati keindahan kota Luxembourg yang damai dan asri. Dan benar saja, di hadapan saya sekarang nampak pemandangan kehidupan penduduk kota dengan perumahan yang tertata dengan rapi di sepanjang sungai Alzette. Benar-benar sebuah view yang menenangkan hati dan menyejukan pikiran. Tidak heran kalau spot ini disebut sebagai “the most beautiful balcony of Europe.”

Puas berjalan-jalan di tengah kota, kami pun melanjutkan road trip untuk mengunjungi tempat-tempat negeri dongeng, yang telah lama saya mimpikan. Tapi karena waktu kami sangat terbatas, tidak mungkin kami dapat mengunjungi seluruh kastil di sini. Kami pun memilih 1 kastil terbesar untuk dikunjungi yaitu Vianden. Sepanjang perjalanan, rasanya enak banget nyetir di sini. Suasananya sangat hijau dan penuh dengan pepohonan rindang di sepanjang jalan. Di kiri kanan kami tidak nampak ada perumahan, hanyalah tanaman yang tersusun rapi yang menemani petualangan kami. Tapi tidak lama kemudian, kami mulai memasuki desa kecil dengan rumah-rumah kecil yang unik dan berkesan homey banget. Tidak terlihat ada bangunan yang mencolok dan modern, hampir semuanya terlihat minimalis namun harmonis. Cozy and comfortable banget rasanya! Benar-benar berasa seperti berada di desa negeri dongeng, dengan penduduk yang hidup dengan tenang dan damai.

Begitu melewati desa itu, tiba-tiba pemandangan kami kembali ditemani oleh pepohonan hijau nan rimbun kembali. Sepanjang mata memandang telihat jelas horizon antara batas langit dan bumi. Baru kali ini, saya lihat batas antara warna birunya langit dan hijaunya ladang seluas ini, tidak hanya sekilas saja, namun hampir di sepanjang perjalanan. Mata saya benar-benar dimanjakan dengan keindahan alam countryside yang sungguh amat menenangkan ini. Rasanya mata saya tidak bisa lepas dari pemandangan di luar dan bibir saya tak bisa berhenti tersenyum mengagumi keindahan alam Luxembourg ini.

Tidak lama kemudian, saya mulai masuk ke desa berikutnya. Hampir sama dengan desa sebelumnya, desa ini pun terlihat sangat harmonis. Setelah meninggalkan desa ini, berulang lagi pemandangan alam hijau seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya dan begitu seterusnya. Dari sini, saya bisa menyimpulkan ternyata jarak antara satu desa dengan desa lainnya cukup jauh dan hanya dihubungkan dengan satu jalan aspal. Saya jarang sekali menemukan persimpangan jalan. Sejak keluar dari kota, hanya satu jalan saja yang kami ikuti dari tadi.

Dari beberapa desa yang saya lewati sepanjang road trip ini, ada satu desa yang cukup saya ingat, nama desanya adalah Esch-sur-Sure. Di desa inilah, berdiri kastil tertua di Luxembourg. Kastil ini tepat berdiri di atas sebuah lembah dengan Pegunungan Ardennes yang mengelilinginya. Kastil Esch-sur-Sure ini dibangun pada abad pertengahan. Namun pada abad ke-16, kastil ini diserang dan dihancurkan oleh penduduk. Kemudian batu reruntuhannya diambil untuk digunakan sebagai bahan bangunan untuk rumah mereka. Sehingga kastil ini hanya tinggal menjadi sisa retuntuhan saja seperti sekarang.

Saya pun melanjutkan perjalanan saya menuju tempat tujuan utama kami, Vianden, yang berada di utara kota Luxembourg. Ini adalah sebuah kastil besar yang dibangun sekitar abad ke-11. Dulunya merupakan sebuah bangunan hunian yang sangat mewah dan begitu indah. Ditambah lagi dengan posisinya yang terletak di atas bukit, menambah kemegahan tersendiri. Dibalik kegagahannya, ternyata kastil ini juga memiliki kisah yang kelam. Sekitar tahun 1980-an, kastil ini sempat dijual piece by piece kepada pedagang lokal. Hanya karena saat dikuasai oleh Belanda, penguasanya tidak tertarik dengan kota dan kastil Vianden ini dan memutuskan untuk menjualnya hingga kastil ini hanya tinggal reruntuhan dan sisa puing saja. Namun di akhir 1970, kastil ini mendapatkan perhatian serius dan diupayakan untuk perbaikan maksimal yang menjadikan kastil ini bisa berdiri seperti sekarang. Karena saat sampai di sini sudah terlalu sore, kami jadi tidak sempat masuk ke dalamnya. Sedih.

Untuk menutup petualangan kami di negeri dongeng ini, kami pun memesan kamar di sebuah chateau untuk bermalam. Chateau d’Urspelt inilah nama hotel kami. Dulunya bangunan ini digunakan untuk tempat beristirahat bagi keluarga kerajaan. Dan karena nilai sejarah, arsitektural dan estikanya, chateau ini juga diangggap sebagai Museum Nasional Luxembourg loh.

Bagi saya, Luxembourg adalah satu-satunya negara di Eropa yang sangat ingin sekali saya kunjungi kembali suatu saat nanti. Peaceful country and breathtaking landscape. Rasanya saya ingin sekali menghabiskan 1 minggu penuh hanya untuk menikmati negara ini saja. Mungkin bila suatu saat saya sangat suntuk dengan rutinitas, Luxembourg menjadi pilihan pertama untuk kabur jauh dari kenyataan. Haha. Mulai sekarang harus rajin-rajin nabung ah.

Additional information:

– Ticket Vianden : €65 – €74

– Tour Luxembourg city : €12

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*