Little Paradise in Kei Island, Maluku..

INDONESIA


Rasanya bahagia sekali, bisa meninggalkan rutinitas dan kerjaan yang menumpuk di meja. Saya memang sengaja mengambil cuti panjang untuk liburan ke pulau yang sudah lama ingin saya datangi ini. Tepat sehari setelah deadline kerjaan, saya langsung kabur ke bandara. Let’s get lost!

Dengan flight malam, saya terbang dari Jakarta menuju Ambon. Karena sudah kurang tidur berhari-hari, saya pun memilih untuk tidur saja dan menolak semua makanan yang dihindangkan selama penerbangan. Pesawat saya transit di Makassar, jadi ditawari makanan 2 kali, yang pertama saat rute CGK-UPG, lalu rute kedua UPG-AMQ. Walau tengah malam begitu, penumpang lain nampak lahap menikmati makanan yang disajikan. ‘Saya minta selimut aja deh, mbak pramugari, pengen tidur saja sampai mendarat di Ambon.’

Wow, ini ketiga kalinya saya mendarat di Ambon Manise. Kalau sebelumnya langit Ambon mendung bahkan hujan ditambah banjir, saat menyambut saya. Pagi ini, nampaknya sang langit sudah mulai bersahabat dengan saya. Langitnya biru banget! Saat ketemu driver yang menjemput saya, kami langsung sarapan dan jalan-jalan muterin kota Ambon. Sebenarnya tujuan akhir saya bukan Ambon sih, melainkan Langgur di Pulau Kei. Tapi karena flight menuju Pulau Kei itu terbang sore hari, makanya saya putuskan keliling kota saja daripada bengong di bandara kan. Apalagi kali ini, drivernya oke banget! Mulai dari cara nyetirnya, obrolan ceritanya, sampai tempat rekomendasi dia benar-benar bikin puas semua. Ini driver terbaik sepanjang saya bolak balik ke Ambon loh. Mau kontak drivernya? Tinggalkan email di kotak comment ya, nanti saya email detailnya. 🙂

Penerbangan saya menuju Pulau Kei akan dilanjutkan dengan pesawat kecil ATR. Kebetulan yang berangkat bareng saya belum pernah naik ATR sebelumnya. Jadi, sepanjang penerbangan senyum-senyum kegirangan naik pesawat baling-baling. Haha. Eh iya sebelum salah persepsi, saya bukan naik pesawat ATR yang merah ya, tapi yang satunya lagi, the Airline of Indonesia.

Ketika mendarat di Bandara Dumatubin (LUV), tepat sekali dengan waktu sunset. Saat keluar dari pesawat, rasanya sang mentari mulai terbenam sambil menyapa dengan hangat dan berkata ‘sampai ketemu besok ya, selama di sini mentari yang akan selalu menemani dan takkan ada hujan yang mengganggu.’ Belum puas memandangi sunset, teman saya yang stay di Langgur datang menyapa. Trip kali ini enak banget loh, sudah disiapkan hotel, mobil, kapal hingga makan malamnya. Idih, baik banget teman saya yang satu ini. Kalau bukan karena teman saya ini, masih lama kali saya bisa sampai ke sini. Ibarat kata, kalau saya ditawari tiket gratis domestik, rute pertama yang akan saya issued adalah CGK-AMQ-LUV dan semua itu berkat teman saya yang gendut dan baik hati ini.

Keesokan harinya, tujuan pertama adalah Pulau Bair. Karena hari ini saya keluar seharian, saya pun menyewa mobil dan sopir dari hotel. Selesai sarapan, saya menuju ke daerah Tual, tepatnya ke dermaga Dullah Darat. Di dermaga ini terdapat beberapa perahu (long boat) yang memang disewakan untuk menuju Pulau Bair. Jadi mobilnya parkir dan menunggu kami sampai kembali di sini. Kemudian untuk sewa kapalnya, belum ada standar harga pastinya. Kita masih bisa coba tawar menawar dulu dengan tukang kapalnya. Paling cocok sih, kalau berangkatnya ramean, jadi bisa sharing cost lebih hemat.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya menyebrangnya dengan menggunakan perahu, jadi tidak ada atapnya. Siap-siap gosong ya, kalau mau main ke sini. Haha. Sekitar 50 menit, waktu tempuh menuju Bair dari dermaga tadi. Walau begitu, sejuknya angin yang berhempus dan luasnya cakrawala selama saya menyebrang benar-benar membuat saya tidak berhenti memotret sana sini. Rasanya, tangan saya tidak bisa diam membiarkan semua pemandangan indah ini terlewat begitu saja. Padahal yang saya foto itu-itu saja loh, tapi karena begitu indahnya saya jadi terlalu bersemangat.

Ketika memasuki gugusan pulau-pulau karang, perahu saya pun mulai melambat. Di sisi kanan, saya melihat tulisan B A I R yang cukup besar ukurannya. Dengan perlahan perahu saya mulai berjalan melewati banyaknya pulau karang yang tersebar di sekitar kami. Ini memang mirip banget sama Wayag dan Kabui di Raja Ampat, tidak heran kalau Bair disebut juga sebagai Raja Ampat dari Maluku. Kalau disamakan dengan Wayag sih, ukuran pulau karangnya jauh lebih kecil di sini. Menurut saya, Bair lebih mirip dengan Kabui, hanya saja letak antar pulau karang di Bair lebih berdekatan. Selain itu, warna air di Bair nampak lebih jernih dan lebih dangkal dibandingkan Kabui. Dari atas perahu, saya bisa melihat pasir yang dibawahnya dengan jelas sekali.

Oh ya, ada 1 hal yang cuma ada di Bair (tidak ada di Raja Ampat) yaitu lorong panjang di antara dua tebing karang tinggi. Saat perahu saya memasuki lorong ini, sensasinya benar-benar membuat saya berasa surprise banget. Wow, keren banget! Saking belum puas takjubnya, saya pun minta diulang lagi masuk dalam ke lorong itu. Haha. Ini keren banget, benar-benar pengalaman baru yang sulit untuk dilupakan. Karena tidak mau kehilangan momen seperti ini, saya putuskan untuk ber-video saja, tidak usah moto. Jadinya, saya bisa dengan bebas menikmati setiap detik selama bermain di Bair.

Lama-lama matahari pun mulai meninggi, panas teriknya nampak mengingatkan saya untuk pulang dan segera makan siang. Sebelum kembali ke dermaga, tukang kapalnya mengajak saya untuk mampir sebentar di pulau kecil yang berpasir putih. Entah apa nama pulau ini, yang pasti enak banget berteduh sebentar di antara pepohonan di sini. Pulaunya kosong dan tidak berpenghuni lagi. Hmm, serasa private island deh. Setelah puas foto-foto, kami pun segera kembali ke dermaga.

Setelah perut kenyang, kami lanjut lagi ke tujuan berikutnya yaitu Goa Hawang. Kalau goa ini letaknya tidak terlalu jauh dari kota dan tidak perlu pakai kapal, cukup mobil saja. Goa Hawang adalah alasan utama buat saya datang ke Pulau Kei ini. Sebelumnya hanya dari artikel National Geographic saja, saya mengetahui keindahan goa ini. Dan sekarang saya akan merasakan sendirinya. Yippie! Ini sebenarnya bukan goa di darat sih, tapi di air. Jadi tujuan utama ke Goa Hawang adalah main air. Yeay! Airnya bukan air laut loh, tapi air tawar yang super jernih banget. Saking jernihnya, bongkahan batu dan guratan pada dinding goanya dapat terlihat jelas walau di dalam air. Pasti ada beberapa orang yang berpikir kalau goa ini menyeramkan deh. Saya cuma bisa bilang, yang pasti goa ini adalah salah satu objek wisata yang terkenal dan sudah diliput oleh media internasional. Kalau sudah sampai Pulai Kei, tapi tidak main di sini, itu kerugian besar menurut saya. Hehe.

Karena warna air yang jernih banget, goa-nya jadi terlihat dangkal. Tapi pas sudah nyemplung, baru terasa dalamnya. Kayaknya saya pilih pakai fin saja deh, pegel juga rasanya kalau berenang bebas tanpa alat bantu, apalagi ini air tawar. Duh, air di sini seger banget sih. Kalau selama ini, berenang air tawar itu cuma ada di sungai dan danau, kalau yang ini rasanya seperti di kolam renang. Benar-benar tenang tanpa arus dan bebas kaporit pastinya. Haha. Sedikit demi sedikit gerimis pun mulai turun, gemercik air mulai berjatuhan di sini. Seru juga sih kalau berenang sambil hujan-hujanan di alam. Saya sih mau aja tetap berenang walau hujan, tapi ternyata lama-lama dingin juga ya. Lalu, teman saya pun memberi pilihan yang tidak bisa saya tolak yaitu makan pisang goreng di pinggir pantai. Itu sih, siapa yang mau nolak apalagi pas dingin begini. Hmm, yum yum.

Oke kalau begitu kami lanjut ke Pantai Ngurbloat saja. Dan pas kami di sampai, tenyata tidak hujan di pantainya. Thank God! Akhirnya, saya bisa menikmati sunset dengan sempurna ditemani dengan orang-orang tersayang dan pisang goreng pastinya. Haha. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, cakrawala di sini luas banget. Kayaknya sejauh mata memandang gak habis-habis ujung cakrawalanya. Sepertinya butuh lensa super wide, buat mengabadikan pemandangan di sini. Sunset dan cakrawala tersebut hanyalah baru sebagian dari keindahan Ngurbloat. Cerita saya belum selesai di situ. Pantainya sendiri juga cantik dan panjang banget, kalau dilihat dari ujung ke ujung satunya, garis pantainya terlihat begitu lurus. Selain itu, airnya pun tenang dan tidak berombak. Belum lagi pasirnya yang terkenal akan kehalusannya. Saya ingat ada beberapa artikel yang mengatakan bahwa salah satu pantai di Indonesia dengan pasir terhalus ada di Pulau Kei. Duh, pantai ini benar-benar tempat yang pas untuk menutup perjalanan yang manis hari ini.

Duduk santai dengan memandang ke arah matahari terbenam, ditemani bunyi halus deburan pantai dengan semilir angin sepoi-sepoi, serta pisang goreng renyah di tangan adalah sebuah momen yang akan terekam indah dalam memory saya. Dan semua ini takkan lengkap tanpa kehadiran kalian. Terima kasih ya dan ayo kita explore Maluku lainnya!

Additional information

– Sewa mobil seharian : Rp 700.000 – 900.000

– Sewa perahu menuju Pulau Bair : Rp 400.000 – 500.000

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

3 Responses to Little Paradise in Kei Island, Maluku..
  1. Rawamantan says:

    Hi, mohon info untuk sewa mobil di pulau kei bisa ke siapa ya? Bisa minta contact nya kah? Email ke rawamantan@gmail.com
    Thank you

  2. menik says:

    halo, bisa infokan sewa mobil dan penginapan ke email menik.noviyanti@gmail.com?

    terima kasih

  3. Lyvia says:

    Hi sewa mobilnya dengan siapa ya? apakah ada contact nya? 🙂

    thank you

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*