Keindahan Tanah Sumba, NTT..

INDONESIA


Menurut saya setiap daerah di Pulau Sumba, masing-masing punya keunikan tersendiri. Jadi tidak akan puas kalau cuma main di Sumba Barat atau Timur saja. Sebaiknya luangkan waktu lebih banyak kalau mau explore Sumba secara keseluruhan. Itinerary 4D3N sih rasanya cukup buat keliling Sumba ya. Nah sekarang, saya sambung cerita sebelumnya ya yaitu Sumba Barat Saya.

Yang paling saya suka saat di Sumba Barat Daya adalah ketika main ke kampung adatnya. Ini nih budaya khas dari tanah Sumba yang hanya bisa kita ketemui di pulau ini. Sebenarnya ada banyak kampung adat yang bisa kalian datangi di Sumba, karena hampir sebagian besar penduduk pulau ini masih berpegang teguh dengan tradisi adat. Selama trip ini ada 3 kampung adat yang saya singgahi, tapi yang paling berkesan buat saya adalah Kampung Ratenggaro. Dalam sebuah kampung adat biasanya terdapat kumpulan rumah adat dengan atap tinggi yang menjadi ciri khasnya. Ratenggaro adalah salah satu kampung tertua di Sumba dan rumah-rumah di sini memiliki atap yang lebih tinggi dibanding kampung lainnya. Jika tinggi atap rumah biasanya hanya sekitar 8 meter, di Ratenggaro tinggi atap rumahnya hingga 15 meter. Selain itu, yang membuat Ratenggaro menjadi unik adalah letaknya yang persis di pinggir pantai. Enak banget jalan-jalan di antara bangunan etnik ini, berasa sedang berada di jaman dulu.

Belum lagi perpanduan hijaunya rerumputan dengan birunya langit, benar-benar memanjakan mata saya. Suasana tradisional di sini, benar-benar membuat saya seakan berada di suatu masa lampau yang jauh dari sentuhan modern. Apalagi di dekat kampung ini ada beberapa makam leluhur yang katanya berasal dari jaman megalitikum. Makam ini berupa batu besar berbentuk kotak yang dipenuhi ukiran dan pahatan pada sisi luarnya. Selama berjalan-jalan di sini, Ratenggaro menawarkan perasaan dan pengalaman yang benar-benar unik buat saya.

Tapi sebenarnya ada sedikit hal yang membuat saya cukup miris saat main ke kampung ini, yaitu perilaku anak-anaknya. Entah siapa yang mengajari anak-anak ini, mereka suka sekali mengikuti pendatang sambil meminta uang. Mereka mengatakan ‘minta seribu untuk beli buku.’ Saya pikir mereka mengatakan hal yang sebenarnya, tapi menurut teman saya yang orang lokal bahwa hampir semua anak di tempat yang ramai turis selalu seperti berperilaku itu. Jika ada orang pemerintahan yang membaca tulisan saya, mohon diberikan bimbingan dan edukasi yang layak bagi anak-anak Sumba. Jangan biarkan anak-anak itu tumbuh menjadi pemalas yang bermental yang lemah. Mari kita didik mereka agar menjadi sosok yang mandiri dan bermental baja.

Selesai dari kampung adat, saya lanjut ke pantai unik di daerah Watu Malandong. Tempat ini belum banyak didatangi wisatawan, jadi kami pun agak bingung saat mencari jalan ke sana. Bermodal dari info sebuah foto yang saya temukan di Instagram, kami terus bertanya kepada orang-orang di sepanjang jalan. Menurut foto itu sih namanya Pantai Bwanna (Bana), tapi orang lokal di situ tidak ada yang familiar dengan namanya. Sampai akhirnya kami bertemu mobil rombongan turis lain, dan sambil menunjukan foto itu pada driver-nya. Akhirnya, ada juga yang tahu lokasi pantai itu. Ya ampun, ternyata orang lokal menyebutnya sebagai Pantai Batu Cincin. Haha, ada-ada saja.

Ketika kami menuju ke sana, ternyata kami tersasar lagi dan berhenti di sebuah tebing yang cantik banget. Walau ini bukan tujuan kami, tapi tidak ada salahnya kan jika kami singgah dulu. Dan benar saja, pemandangannya bagus banget. Dari atas, kami bisa melihat lautan biru yang mengelilingi pinggiran tebing ini. Tak disangka, kami pun bisa melihat Pantai Bwanna yang kami cari-cari dari tadi loh. Setelah puas main di sini, mari kita lanjutkan perjalanan menuju ‘si batu cincin.’

Setelah parkir, ternyata kami harus menuruni puluhan anak tangga untuk sampai ke pantainya. Hmm, harus ekstra hati-hati nih, karena anak tangganya itu kecil-kecil dan seadanya saja. Anak tangga ini nampaknya dibuat oleh penduduk sekitar untuk membantu akses ke pantai. Jadi kondisinya belum layak untuk tempat wisata sih. Selain itu, jalurnya juga sangat sempit, kami harus menunggu di pinggir jika ada yang datang dari arah berlawanan. Setibanya di pantai, wow keren banget tebingnya. Di hadapan saya, ada sebuah tebing besar yang bolong di bagian tengahnya. Yang lebih serunya lagi, kita bisa naik atas tebing itu loh. Setelah puas, kami pun kembali menaiki anak tangga itu lagi satu per satu. Hmm, ini baru terasa cape banget, apalagi tidak ada pegangan dan tempat istirahat di sepanjang tangga ini. Walau cape, tetap harus hati-hati ya.

Oh iya, Sumba sangat terkenal sekali dengan kain tenun-nya. Kalau mau beli oleh-oleh, memang cuma kain tenun saja yang khas banget di sini. Kain tenun ini bisa dibeli langsung di desa adatnya. Ada banyak desa adat yang penduduknya bekerja sebagai pengrajin kain tenun, sehingga kalian juga bisa lihat langsung proses pembuatan kain tenunnya. Yang saya dengar sih, desa pengrajin tenun ini paling banyak di daerah Sumba Timur. Buat yang suka etnik, jangan sampai lewatkan kain tenun khas Sumba ini ya.

Dari seluruh perjalanan saya di Sumba, rasanya begitu menyenangkan sekali. Kalau ditanya apakah saya mau ke sini lagi untuk kedua kalinya? Mau banget! Walau mungkin orang Indonesia banyak yang belum akrab dengan keindahan alam Sumba, tapi turis bule itu banyak banget yang saya temui di Sumba loh. Di Sumba, ada resort bernama Nihiwatu, dan resort ini terus mengundang turis asing untuk datang ke Sumba. Yah, walau kita tidak harus ikutan menginap di resort mahal itu, tapi jangan mau kalah dong. Ayo liburan ke Sumba, salah satu pulau indah nan unik di Indonesia tercinta.

 © kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*