Hello Bukittinggi..

INDONESIA


Setelah dari kemarin main ke pantai melulu, akhirnya kesampean juga main di daerah pegunungan sekarang. Pagi ini saya mendarat di Bandara Internasional Minangkabau untuk explore keindahan alam di Sumatera Barat. Eits, pada nebak mau ke Padang ya? Nope, saya sama sekali tidak ke kota Padang, melainkan mengarah ke utara menuju kota Bukittinggi.

Udara pagi di sini, rasanya dingin nan sejuk banget. Selama perjalanan warna hijau selalu menemani kami. Pemandangan alam yang disajikan membuat kami merasa tenang dan relax. Rasanya enjoy banget deh. Sebelum sampai di Bukittinggi, kami mampir di dua spot terlebih dahulu. Yang pertama adalah Air Terjun Lembah Anai yang terletak tepat di pinggir jalan raya. Kami tidak terlalu lama di spot ini, karena tidak terlalu nyaman dengan kendaraan yang lalu lalang di depannya. Kami pun hanya berdiri dari seberang jalan sambil memandangi air terjun itu. Tidak sampai 10 menit, kami pun melanjutkan perjalanan kembali.

Nah, di spot kedua ini baru seru banget yaitu Danau Maninjau. Kami tidak turun sampai ke tepi danaunya sih, tapi kami menikmati kecantikan danau ini dari atas. Untuk dapat melihat Danau Maninjau dari atas, kami menuju tempat yang bernama Puncak Lawang. Ini adalah bukit yang berada di sisi danau dengan ketinggian 900 mdpl. Kami pun langsung menuju dataran tertinggi untuk melihat danau itu. Begitu danaunya terlihat, saya tidak berhenti heboh kegirangan karena keren banget view Danau Maninjau-nya. Airnya biru jernih dengan deretan pengunungan yang menjadi backgroundnya.

Ketika lagi asik foto-foto, saya melihat dari kejauhan ada couple yang duduk santai di ujung sana. Hmm, saya curiga kenapa tidak pacaran di sini aja, kan view-nya bagus banget di sini. Karena iseng, saya pun menuju ke arah mereka. Dan ketika saya melihat ke bawah, ya ampun, ini lebih keren banget pemandangannya. Kalau tadi saya hanya melihat kumpulan air, di sini saya juga dapat melihat perkampungan dengan hamparan sawah hijau di sekelilingnya. Bagus banget pemandangannya, pantes aja couple ini betah duduk di sini. Haha. Dan yang bikin saya makin heboh lagi adalah dari sini ternyata ada banyak awan. Ini kedua kalinya dalam hidup, saya merasakan experience dimana saya berdiri lebih tinggi dibandingkan awan. Pengalaman seperti ini merupakan sesuatu yang sulit banget dilupakan bagi saya. Yah maklum aja, bukan anak gunung sih, jadi agak norak kalau lihat awan sedekat ini. Hehe. Walau banyak spot lain, saya tetap di situ aja menunggu hingga awannya menghilang. Rasanya tidak puas, kalau tidak menikmati setiap detik-detik berada sedekat ini dengan awan-awan cantik itu. Nah, waktu yang tepat untuk menikmati Danau Maninjau beserta awan-awan ini adalah sekitar pukul 9.00 – 11.00. Karena kalau terlalu pagi atau siang, biasanya pemandangannya akan tertutupi oleh kabut. Sayangkan kalau sudah jauh datang ke sini, cuma lihat kabut tebal saja.

Setibanya di Bukittinggi, saya langsung menuju ke tujuan utama yaitu Ngarai Sianok. Tempat yang pas untuk menikmati keindahan ngarai ini dari Taman Panorama. Begitu masuk, kami langsung disambut dengan monyet-monyet kecil di mana-mana. Monyetnya tidak mengganggu sih, tapi karena jumlahnya banyak membuat kami jadi sedikit khawatir saat berjalan di area taman ini. Dari sini, kami dapat melihat pemandangan Ngarai Sianok dan Gunung Singgalang sekaligus loh. Lembah curam ngarai ini merupakan bagian dari Patahan Semangko yang membelah Pulau Sumatera menjadi dua secara memanjang dari Aceh hingga Lampung. Lokasi patahannya sendiri membentuk Pengunungan Barisan.

Selain itu, ternyata di dalam kawasan ini juga wisata sejarahnya loh. Kami pun penasaran dan mencoba ke Lubang Jepang yang merupakan tempat persembunyian bawah tanah yang dulunya digunakan oleh tentara Jepang. Tempat ini ditemukan pada tahun 1946 dan baru direnovasi sekitar tahun 1986. Untuk memasuki lubang sedalam 40 m ini, kami harus menuruni sebanyak 132 anak tangga. Di bawah sini, kami berjalan di lorong yang memiliki diameter 2 hingga 3 m. Ternyata ada 21 lorong di sini yang memiliki fungsi berbeda-beda, seperti sebagai ruang amunisi, barak militer, ruang rapat dan banyak lagi.

Saat malam, saya pun keluar hotel untuk mencari keramaian yang berpusat di sekitar Jam Gadang. Jujur saja, saya lebih menyukai Jam Gadang saat di malam hari dibandingkan siang hari. Karena ketika malam, Jam Gadang terlihat lebih bercahaya dan penuh warna-warni. Nama Jam Gadang sendiri berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti jam besar. Selain sebagai icon kota Bukittinggi ternyata Jam Gadang memiliki banyak cerita unik yang membuatnya menjadi spesial. Beberapa diantaranya adalah asal usul jam ini yang ternyata merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, seorang Controleur (Sekretaris Kota) Bukittinggi pada masa Pemerintahan Belanda. Jam ini sendiri langsung didatangkan dari Rotterdam dengan menggunakan kapal. Selain itu, ternyata jam ini punya kembaran yaitu Big Ben di London. Karena mesin jam yang dibuat di Jerman pada tahun 1892 ini, ternyata hanya ada dua di dunia, yaitu pada Jam Gadang dan Big Ben. Selain itu keunikan lainnya adalah angka “4” pada jam tersebut. Biasanya angka “4” dalam tulisan romawi berbentuk “IV”, tetapi pada Jam Gadang tertulis angka romawi “IIII.” Kalau ditanya kenapa bisa begitu, saya sendiri belum menemukan jawabannya. Hehe.

Karena besok pagi, saya mau lanjut lagi ke kota berikutnya, jadi sampai sini dulu ya. Nanti saya lanjutkan lagi cerita petualangan di Sumatera Barat berikutnya.

Additional information

– Tiket Puncak Lawang : Rp 10.000,-

– Tiket Taman Panorama : Rp 5.000,-

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*