Berkunjung ke Negeri Minangkabau..

INDONESIA


Sebelum meninggalkan Bukittinggi, saya sengaja mampir ke sebuah cafe yang cukup terkenal di kota ini. Jam 7.30, kami tiba di Cafe Taruko yang terletak di sekitar Ngarai Sianok. Sebenarnya kemarin sore, saya sempat main ke cafe ini. Tapi karena hujan deras, jadi saya hanya bisa duduk manis sambil menunggu hujan reda dengan ditemani segelas hot chocolate. Saya berharap hujan segera berhenti, namun hingga hari mulai gelap, hujan pun tak kunjung reda. Rasanya sayang sekali, jika tidak dapat bermain di sini. Karena di area cafe Taruko, saya merasakan sentuhan kental budaya Minang yang ditambah dengan keindahan panorama alam yang begitu memukau. Kami pun tidak menyerah dan memutuskan untuk kembali lagi esok harinya.

Ketika pagi, teman saya yang mengusulkan untuk kembali ke Taruko mulai goyah. Teman saya khawatir kalau menambah itinerary diluar rencana awal, ada kemungkinan kami tidak dapat mengejar flight pulang di sore hari. Namun ketika baru keluar area parkir, kami melihat dengan jelas kabut masih menyelimuti kota ini. Teman saya langsung bilang nampaknya pemandangan di Taruko dengan kabut pagi begini pasti akan terlihat cantik. Daripada menyesal, kami pun memutar balik ke arah cafe itu. Walau cafe-nya masih belum buka, untungnya kami dapat masuk ke halamannya. Dan ternyata dugaan kami benar sekali, pemandangan pagi di sini sangat indah bagai lukisan. Duh, rasanya puas sekali telah mengambil keputusan yang tepat untuk kembali ke cafe cantik ini.

Perjalanan selanjutnya, saya menuju Payakumbuh yang berjarak 1,5 jam dari Bukittinggi. Sepanjang perjalanan hamparan sawah dan deretan pegunungan selalu menghiasi pemandangan saya. Ternyata kebanyakkan masyarakat di sini adalah petani ya, karena di kiri kanan jalan yang saya lewati pastilah sawah. Selagi asik menikmati pemandangan hamparan persawahan tersebut, saya mulai melihat tebing batu besar di hadapan mobil kami. Ini menandakan bahwa kami sudah tiba di lokasi tujuan kami yaitu Lembah Harau. Pamor dan keindahan lembah inilah yang menjadi alasan utama kami untuk terbang ke Sumatera Barat. Jika diperhatikan bukan hanya sekedar tinggi saja, namun kecuraman tebing-tebing di sini nyaris 90 derajat. Deretan tebing granit ini tidak hanya di satu spot melainkan meluas ke segala arah. Menurut saya, cara paling tepat untuk menikmati keindahan Lembah Harau ini hanyalah dengan mata sendiri, karena kamera se-wide apapun tidak akan mampu menjangkau keseluruhan dari tebing-tebing ini. Tidak heran jika keindahan Lembah Harau sering disandingkan tebing Yosemite yang berada di Sierra Nevada California.

Setelah puas memanjakan mata dengan keindahan Lembah Harau, kami lanjut lagi menuju Kelok Sembilan. Mungkin nama ini sudah akrab di telinga banyak orang, tapi yang saya maksud bukan jalan Kelok Sembilan melainkan jembatannya yang baru diresmikan pada tahun 2013. Sebenarnya fungsi jembatan baru ini adalah untuk membantu jalan Kelok Sembilan lama yang dirasa tidak dapat lagi menampung alur transportasi lintas Sumatera. Jadi setiap kendaraan yang ingin melintas Kelok Sembilan sekarang memiliki 2 pilihan, bisa lewat jembatan baru atau jalan lama yang berpola zig-zag di sepanjang lereng bukit. Proyek yang memakan budget hampir 600 miliar ini terdiri dari jembatan sepanjang 943 meter dengan jalan penghubung sepanjang 2.098 meter. Pembangunan jembatan ini memakan waktu 10 tahun, dimulai sejak 2003 hingga 2013. Sedangkan jalan Kelok Sembilan yang lama telah berumur sangat tua, karena proyek tersebut dimulai sejak jaman kolonial Belanda dari tahun 1908 hingga 1914. Jembatan Kelok Sembilan ini berfungsi menghubungkan antara Sumatera Barat dengan Riau

Ada hal unik dari jembatan ini yaitu proyek yang bertujuan utama untuk bidang transportasi ternyata juga berfungsi untuk menarik wisatawan dari segi pariwisata. Ketika di sana, saya melihat bangku-bangku para penjual makanan dan minuman berjejer hampir di sepanjang jalannya. Akhirnya kami pun berhenti sejenak untuk makan jagung bakar dan minum kelapa muda di pinggir jalan dengan view menghadap Kelok Sembilan. Lucu juga sih, kalau biasanya santai begini di tepi pantai atau puncak gunung, kali ini di pinggir jalan beraspal. Haha.

Perjalanan terakhir kami adalah daerah Batu Sangkar, dimana kami akan mengunjungi Istano Basa Pagaruyung. Bangunan istana ini dulunya merupakan tempat tinggal keluarga kerajaan sekaligus tempat raja bertugas menjalankan pemerintahan. Bangunan yang berbentuk Rumah Gadang ini merupakan replika dari istana yang dibangun pada tahun 1976. Karena bangunan istana yang asli telah hancur dibakar oleh Belanda pada tahun 1804. Namun sayangnya, pada tahun 2007 sempat terjadi kebakaran yang menghanguskan bangunan replika dari istana ini. Namun akhirnya replika istana ini dibangun kembali untuk kedua kalinya dan sekarang ada di hadapan saya. Bangunan istana ini cukup luas dan terdiri dari 3 lantai yang memilki fungsi berbeda-beda. Setiap pengunjung bisa mengakses seluruh ruangan yang terdapat dalam bangunan ini. Karena mengejar flight, kami pun tidak terlalu lama bermain di sini.

Selama perjalanannya saya mulai dari daerah Bukittinggi, Payakumbuh hingga Batu Sangkar selalu ramai dengan bus rombongan wisatawan. Padahal ini bukan long weekend tapi macetnya minta ampun. Saya sempat bertemu beberapa rombongan turis domestik, mulai dari orang Padang sendiri, orang Riau, orang Medan hingga orang Malaysia. Saya tidak menyangka ternyata wisata di Sumatera Barat ini benar-benar memikat banyak wisatawan juga ya. Saya pikir kalau hanya Sabtu Minggu (bukan long weekend) tidak akan terlalu ramai, apalagi saya pergi ke Bukittinggi bukan ke kota Padangnya. Ternyata asumsi saya salah besar, karena tidak pernah memperkirakan akan semacet ini, saya pun nyaris ketinggalan pesawat. Untung saat itu hujan deras, jadi pesawat saya delay 30 menit, sehingga saya masih keburu mengejar flight pulang. Menurut saya, 3 hari adalah waktu yang pas untuk explore ketiga daerah ini (termasuk flight datang dan pulang) bisa jalan-jalan santai tanpa perlu ngebut seperti yang saya alami. Jadi bisa lebih enjoy dan nyaman deh perjalanannya

Additional information

– Tiket masuk Lembah Harau : Rp 5.000,-

– Tiket masuk Istano Basa Pagaruyung : Rp 7.000,-

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*