Berjalan Kaki Keliling Kuil di Kyoto..

JAPAN


Jika ingin merasakan suasana tradisional Jepang yang kental, kalian wajib banget datang ke Kyoto. Mencari yang tradisional itu tentu erat hubungannya dengan budaya dan kepercayaan setempat. Kalau sebelumnya saya sudah cerita sedikit tentang budaya-nya, sekarang saya mau lanjutin mengenai kepercayaan yang dianut warga Jepang.

Di Kyoto ini, ada banyak banget bangunan kuil dimana-mana. Kayaknya setiap berjalan kaki sedikit, kita akan menemukan kuil dengan mudahnya di sini. Saya pribadi sudah punya daftar kuil yang ingin disinggahi selama Kyoto. Dalam daftar saya, ada kuil yang namanya menggunakan kata ‘temple’ dan ada juga yang menggunakan kata ‘shrine’, padahal artinya sama-sama kuil untuk tempat ibadah loh. Setelah dicari tahu lebih detail, ternyata kuil yang menggunakan kata temple biasanya merujuk pada kuil tempat ibadah penganut Budha, sedangkan shrine merupakan kuil untuk penganut Shinto. Padahal kalau di Indonesia, candi juga disebut temple ya. Hehe.


Saat di Kyoto, saya memutuskan untuk stay di daerah Gion. Alasannya adalah akses ke tempat-tempat yang ingin saya datangi lebih dekat dan masih terjangkau dengan berjalan kaki. Oke langsung saja kita mulai ya. Tujuan pertama saya saat itu adalah Yasaka-jinja Shrine, yang lokasinya hanya 1 blok dari hotel saya. Haha, dekat banget kan tuh. Bangunan kuil yang didominasi dengan warna orange ini, rasanya tidak mungkin terlewatkan begitu saja. Selain karena bentuk bangunannya yang menarik perhatian, lokasinya yang terletak di persimpangan jalan membuat kuil ini mudah sekali terlihat. Bangunan kuil ini awalnya didirikan pada tahun 656 SM, tetapi yang saya lihat sekarang adalah hasil rekonstruksi pada tahun 1654. Yang menarik perhatian saya di kompleks kuil ini adalah sebuah bangunan panggung yang dipasangi lampion di sisi luar. Pada malam hari, panggung ini nampak sangat cantik sekali. Dan ternyata, semua lampion yang dipasang di sini merupakan sumbangan ucapan syukur dari pengusaha atau perusahan yang telah sukses. Pada setiap lampion ini bertuliskan nama penyumbangnya dalam huruf Jepang. Oh ya, jika ingin melihat upacara atau tradisi ajaran Shinto, datanglah ke kuil ini. Karena masyarakat sekitar sering mengadakan pernikahan atau meminta pemberkatan bayi di sini. Saat itu, saya sendiri sempat menyaksikan prosesi upacara pernikahan tanpa sengaja di kuil ini. Wah, rasanya beruntung sekali bisa melihatnya secara langsung loh.

Dari situ, perjalanan kaki saya dilanjutkan menuju Kiyomizu Dera Temple. Saya pun sengaja memilih jalur yang melewati gang-gang kecil agar dapat merasakan suasana lingkungan kehidupan masyarakat di Jepang. Ternyata jalur yang saya pilih melewati sebuah kuil yang bernama Kennin-ji Temple. Karena terlihat tertutup dari luar, saya pikir ini adalah kuil untuk keluarga, jadinya saya lewati begitu saja deh. Sambil berjalan, saya iseng-iseng melihat kumpulan brosur yang saya ambil dari lobby hotel. Ternyata ada brosur mengenai Kennin-ji Temple ini. Menurut brosur, bangunan ini merupakan kuil tertua bagi penganut Zen yang dibangun pada tahun 1202. Yang bikin saya agak menyesal tidak mampir adalah karena 2 highlights di sini. Pertama adalah taman zen yang terkenal banget akan susunan batu gravelnya, dan kedua adalah lukisan ‘twin dragons’ pada langit-langit hall yang berukuran 175 meter persegi. Gara-gara itu biar gak nyesel lagi, saya pun berhenti untuk membaca dulu semua brosur-brosur ditangan saya, sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

Dari situ, saya menemukan ada pagoda di tengah jalur saya menuju Kiyomizu Dera Temple. Nama pagodanya ternyata adalah Yasaka-no-to Pagoda. Hmm, kenapa sama dengan nama Yasaka Shrine ya, apa jangan-jangan ada hubungannya lagi? Karena kebanyakan bangunan pagoda itu tidak berdiri sendiri melainkan berdampingan dengan kuil dalam sebuah kompleks. Namun rasanya kok jauh sekali jarak antara dua bangunan ini, apa mungkin kompleks mereka seluas ini dulunya? Dan ternyata benar pagoda ini memang tidak berdiri sendiri dulunya, tapi bukan Yasaka Shrine yang menjadi pendampingnya. Pagoda ini dulu berdampingan dengan Hokan-ji Temple, tetapi kuilnya sendiri telah hancur akibat gempa bumi, kebakaran, dan perang. Selama perjalanan, rasanya tidak sulit untuk menemukan pagoda ini. Dari kejauhan pun atap pagoda ini terlihat jelas, karena pagoda ini terdiri dari 5 lantai dengan ketinggian hingga 46 m. Ketika saya mengikuti arah ke Pagoda ini, saya mulai memasuki area Ninen-zaka dan Sannen-zaka. Ini adalah area yang paling saya sukai di Kyoto, karena suasana tradisionalnya kental sekali. Tidak jarang saya bertemu dengan warga lokal yang berjalan-jalan dengan menggunakan kimono. Dan satu hal yang tak terlupakan buat saya adalah bisa melihat dan menyapa langsung Geisha yang tidak sengaja berpapasan di area ini. Selain itu, di kiri kanan Ninen-zaka dan Sannen-zaka, semua dipenuhi toko penjual jajanan lokal yang membuat saya tidak berhenti ngunyah sepanjang jalan. Eh tapi pas saya sampai di Yasaka Pagoda, rasanya ramai banget orang-orang yang berkumpul, saya pun jadi malas masuk dan segera lanjut ke tujuan utama saya saja deh.

Tidak jauh dari situ, akhirnya sampailah di Kiyomizu Dera Temple. Posisi temple ini emang the best banget sih, karena berada di Gunung Otowa (bukan di puncak gunungnya ya). Haha, lumayan juga jalan kaki nanjak ke sini, untung saja di kiri kanan jalannya banyak jajanan, jadi bisa isi energi setiap saat. Pas tiba di gerbangnya, terlihat isinya turis semua, beli tiketnya saja sampai antri. Saat masuk ke dalam kompleksnya, saya bingung memilih mau kemana duluan karena setiap sudut sudah sesak dengan orang. Yah, memang tidak heran sih kenapa bisa seramai ini, karena kuil yang dibangun sejak 780 SM ini sudah lama menggaung namanya. Bahkan telah menjadi salah satu dari UNESCO World heritage site sejak 1994. Nama Kiyomizu sendiri diambil dari nama air terjun di daerah ini, sehingga kuil ini juga dikenal dengan sebutan Pure Water Temple. Saking ramainya, saya memutuskan untuk keliling area outdoornya saja deh. Kuil ini sangat terkenal dengan berandanya yang menjorok keluar. Berandanya sangat luas sekali, ternyata tepat di bawahnya ada ratusan tiang yang menyokongnya. Dari sini, orang-orang dapat menikmati keasrian alam Gunung Otawa dan keindahan pemandangan kota Kyoto dari atas. Apalagi kalau saat musim sakura atau musim gugur, cantiknya luar biasa, kalau gak percaya silahkan di googling sendiri ya.

Nah, selain kuil-kuil tadi, masih ada 1 kuil World Heritage Site yang terkenal banget. Kalau sudah di Kyoto rasanya wajib banget ke sini, tapi gak bisa jalan kaki, harus pakai kereta ke sininya, hehe. Letak kuil ini di sebelah tenggara Kyoto dan seingat saya jaraknya dekat kok paling hanya melewati 2-3 stasiun saja. Nama kuilnya adalah Fushimi Inari Shrine. Kuil ini terkenal karena deretan ribuan (lebih dari 10.000) gerbang tori yang tersusun mengelilingi bukit Inariyama, mulai dari gerbang bawah hingga mencapai kuilnya. Yang dimaksud dengan tori adalah bentuk gerbang berwarna orange yang sering ditemui di kuil-kuil Shinto. Yang uniknya, asal muasal tori ini mirip dengan cerita lampion di Yasaka Shrine, dimana ini adalah sumbangan (ucapan terima kasih dan rasa syukur) dari pengusaha dan perusahaan yang telah sukses. Nama penyumbangnya pun diukir di setiap tiang tori ini. Awalnya karena saya tidak mengerti huruf Jepang, saya pikir yang tertulis di setiap tiang ini adalah doa atau pepatah kuno, eh ternyata saya salah. Hehe. Kalau mau terus berjalan mengikuti tori ini, kalian bisa sampai ke kuil utamanya yang dibangun dari tahun 711. Tapi, untuk sampai ke atas dan kembali lagi ke bawah butuh waktu 3-4 jam. Kalau saya naik turun 1 jam saja sudah cukup deh. Haha. Selain kuil dan tori-nya, ada hal menarik lainnya di sini yaitu banyaknya patung rubah di segala sudut kompleks ini. Menurut kepercayaan sih, rubah ini merupakan pengantar pesan untuk sang Inari (Shinto god of rice).

Nah, kuil-kuil yang saya ceritakan di atas adalah kuil yang telah berumur hingga ribuan tahun. Walau tua, tapi bangunannya tetap berdiri kokoh dan telah menjadi saksi perubahan jaman di Kyoto. Memang salut sih sama warga Kyoto yang berhasil menjaga warisan sejarah tersebut, sehingga generasi berikutnya masih bisa melihatnya secara langsung bukan dalam bentuk foto. Karena ini pula rasanya saya jadi makin ingin mengeksplor Jepang lebih jauh lagi. Hmm, kapan ya bisa balik ke Jepang lagi?

Admission fee

– Yasaka-jinja Shrine : free

– Kennin-ji Temple : 500 yen

– Yasaka-no-to Pagoda : 400 yen

– Kiyomizu Dera Temple : 300 yen

– Fushimi Inari Shrine : free

 © kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*