Amazing Sailing Trip around Komodo Islands..

INDONESIA


Back to Komodo Island again! I’m so happy. Kayaknya bekas trip yang lalu saja belum terhapus dari memori saya. Padahal trip itu di tahun 2011, tetapi Komodo selalu mampu membuat saya tersenyum kagum akan keindahan alam gugusan pulaunya. Jika membicarakan trip Komodo, trip ini bukan hanya sekedar melihat hewan komodo di habitat aslinya saja, namun juga explore pulau-pulau yang berada di sekitar kawasan Taman Nasional Komodo. Kepulauan Komodo itu keren dan indah banget, tidak bisa dibandingkan dengan pulau mana pun di dunia. Kalau mau lihat pulau-pulau unik yang akan saya ceritakan ini, tandanya kamu wajib terbang ke Labuan Bajo, Flores.

Jika pada trip sebelumnya saya sailing dari Lombok hingga Labuan Bajo, pada trip kali ini saya fokus untuk explore pulau-pulau di sekitar Kepulauan Komodo saja. Untuk explore semua pulaunya, kita cukup menghabiskan waktu 3 hari 2 malam untuk sailing (bermalam di kapal). Selama 3 hari itu, saya jamin pasti kalian tidak bisa berhenti tersenyum di sepanjang perjalanan deh.

Dengan pesawat ATR GA 7026, saya landing di Bandar Udara Komodo tepat pukul 09.05 WITA. Dari bandara, saya bersama rekan-rekan sailing saya segera melanjutkan perjalanan menuju ke pelabuhan. Sebelum naik ke kapal, kami belanja perbekalan di supermarket yang letaknya persis di depan dermaga. Saya tidak menyangka di pulau kecil ini, ternyata ada supermarket yang cukup modern juga loh. Setelah memborong segala jenis snack dan minuman, kami langsung duduk manis di kapal dan siap segera berlayar. Let’s go capt!

Trip kali ini oke banget, tidak pakai basa basi, tujuan pertama pun langsung ke pulau yang menjadi rumahnya si komodo. Biasanya kan mampir dulu tuh, snorkeling sana sini, tapi kali ini beda total. Katanya trip sailing Komodo itu wajib say hello dulu ke komodonya. Haha. Pulau yang kami singgahi kali ini adalah Pulau Rinca, dimana katanya komodo di sini lebih liar dibandingkan di Pulau Komodo karena tidak pernah di-feeding. Saat tiba di Rinca, wajib foto di gerbang ‘standing komodo’ dulu dong. Patung komodo berdiri ini cuma ada di Pulau Rinca saja, tidak ada di Pulau Komodo.

Nah sesampainya di pos, kami langsung di-briefing sama ranger-nya. Kami dijelaskan mengenai jenis trekking yang ada di pulau itu, ada short, medium, dan long trekking. Pas ditanya ke kami, mau yang mana? Langsung kompak jawab yang short trekking saja, tapi yang bagus view-nya. Banyak maunya ya? Haha. Saat mau mulai trekking, kami sempat selfie dulu sama komodo-komodo yang sedang sunbathing di dekat pos. Saat itu, ada 5 komodo yang lagi leyeh-leyeh manja, pura-pura bobo cantik di tanah. Setelah puas sesi foto-fotonya, kami lanjut melihat sarangnya komodo di dalam hutan. Nah, pas lagi enak-enak dengerin cerita ranger-nya soal telur dan sarang komodo, eh ternyata ada induk komodo dong di situ. Kami semua tidak ada yang sadar, karena sang induk berjaga di balik pohon besar. Oke, sebelum sang induk merasa terganggu mari pamitan dan melanjutkan trekkingnya. Dan tenyata ranger-nya serius mengajak kami melihat view yang oke banget dong. Ending dari short trekking ini ternyata adalah puncak bukit di mana kita bisa melihat sekeliling Pulau Rinca dengan leluasa. Walau panas matahari terik banget, tapi keseruan trekking ini benar-benar terbayar lunas. Thank you, Mr. Ranger.

Lanjut ke tujuan berikutnya, kami menuju Pulau Padar untuk sunset trekking. Walaupun judulnya trekking, untung sekarang lagi sunset, jadi tidak terlalu panas deh. Apalagi rute trekking kali ini tidak menanjak, namun hanya berjalan ke arah belakang pulau saja. Enaknya bersantai sejenak sambil menikmati senja sore hari ini. Padahal kalau diingat, sore kemarin saya masih duduk di kantor dengan laptop dan tumpukan kerjaan. Saat ini, savanna di Padar sedang berwarna kuning, sehingga ketika ditambah sinar matahari membuat suasananya menjadi bertambah hangat. Keesokan paginya adalah momen yang paling ditunggu yaitu trekking ke puncak Padar. Bersama dengan kemunculan matahari pagi, kami pun trekking menanjak ke atas. Menurut saya, jalurnya kurang bersahabat sih, karena selain licin akibat pasir dan kerikil, ditambah lagi kemiringannya yang agak curam. Belum lagi, ternyata jalurnya cukup panjang untuk sampai ke atas. Fiuh! Walau begitu, kami tetap semangat naik ke atas dong, karena kami tahu di atas sana ada sebuah pemandangan indah yang menunggu. Yapp! Sesuai dugaan, view di atas sini benar-benar cantik minta ampun. Rasanya bahagia banget bisa berdiri di atas sini, sambil memandang bebas ke segala arah. Thank God! Kalau bukan karena matahari yang semakin panas, rasanya tidak ada yang mau turun dari sini deh. Apalagi jalur turunnya lumayan nih, bisa untuk main seluncuran. Haha. Berapa kali rasanya saya mau tergilincir saat perjalanan turun ke bawah. Untung tidak sampai tergelincir beneran, kalau sampai kejadian bisa-bisa saya akan terus meluncur bebas sampai pantai deh ini.

Sehabis trekking, kami lanjut makan bersama di kapal dan diteruskan bobo siang sambil ditemani angin sepoi-sepoi. Hmm, dari kemaren kayaknya kami belum ketemu air laut nih. Oke tujuan berikutnya, kami harus snorkelingan nih. Tempat snorkeling yang dituju adalah Pink Beach yang terkenal akan warna pasirnya yang nampak berwarna kemerahan. Dan ternyata warna tersebut berasal dari pecahan coral merah yang banyak tersebar di sekitar sini. Oke sebelumnya nyebur, kami memutuskan buat trekking sebentar ke puncak bukit untuk melihat keindahan Pink Beach dari atas. Walau panas banget rasanya, tapi pemandangan yang dilihat cukup memuaskan rasa penasaran kami. Saat turun ke bawah kembali, saya langsung loncat ke laut. Byurrrr! Seger banget rasanya, apalagi abis trekking panas gitu. Dan ternyata di bawah sini, keindahannya juga tidak kalah dengan yang di puncak bukit loh. Coralnya banyak dan ramai banget, dimana-mana terhampar kumpulan coral yang berwarna warni. Kepulauan Komodo itu benar-benar cantik atas bawah ya. Mau berapa kali ke sini kayaknya tidak akan bikin bosan deh.

Menjelang sore, kami berhenti di Manta Point untuk snorkeling bareng manta. Tapi sayangnya, kami kurang beruntung sore itu. Hanya 1 manta yang muncul dan itu pun hanya guide kami saja yang melihatnya. Tidak ada satu pun dari kami yang berhasil menyapa manta. Hmm, sebagai penghibur hati kami pun memutuskan menuju Gili Laba (Gili Lawa barat) untuk menikmati sunset dan bakar ikan untuk makan malam. Saat berlabuh, ternyata sudah ada banyak kapal yang parkir di Gili Laba. Dan pemandangan yang bikin saya shock adalah sekarang pantai di sini sudah kotor banget, jadi sedih banget melihatnya. Padahal 5 tahun yang lalu, airnya masih lumayan jernih loh. Bahkan sekarang sepanjang pantainya tercium bau tidak sedap. Ah sudahlah daripada bersedih hati, mendingan kami menikmati sunset lagi saja. Nah biar makin seru, kami bawa gitar kecil dong pas trekking. Seru banget memandangi sunset ditemani alunan petikan gitar sang maestro. Emang tidak salah kalau trip bareng musisi, sepanjang perjalanan rasanya tidak pernah sepi deh. Makasih ya buat gegitarannya. 🙂

Sekembalinya ke kapal, ikan bakar beserta seafood lainnya ternyata telah tersaji rapi di meja makan. Sedap banget makan malam kali ini, bisa tidak berhenti nambah deh ini. Tidak apa-apa deh makan banyak, sekalian buat persiapan trekking besok pagi di Gili Laba kan. Haha. Keesokan paginya, rasanya saya tidak sabar banget ingin segera mengulang trekking naik ke puncak Gili Laba. Walau sudah pernah sampai ke puncaknya, sedikit pun saya tidak merasa bosan, malah saya makin penasaran apakah ada yang berubah di atas sana ya? Ketika trekking ke atas, ternyata jalur telah berubah dan menjadi jauh lebih bersahabat. Jalurnya dibuat seperti bentuk anak tangga, sehingga memudahkan setiap orang yang melewatinya. Saat sampai di puncak, rasanya senang sekali. Akhirnya saya kembali lagi ke pulau cantik ini. Thank God. Gili Laba yang saya lihat dari atas sini belumlah berubah, masih sama seperti dulu saat pertama kali saya menginjakkan kaki di sini. Pemandangan yang disajikan setiap sudutnya selalu berhasil membuat saya berdecak kagum, seakan-akan saya pertama kali melihatnya. Jika di Padar, jalur naik dan turunnya adalah jalur yang sama, sedangkan di Gili Laba jalur naik dan turunnya adalah dua jalur yang berbeda. Dan menurut saya, lebih mudah trekking naik ke Gili Laba dibandingkan dengan Padar sih. Di Gili Laba, dari mulai naik hingga turun lagi, rasanya mata saya benar-benar tidak berhenti dimanjakan oleh keindahan savanna-nya. Cantik banget!

Setelah itu, karena kami belum menyerah dengan pencarian manta kemarin, kami pun kembali ke Manta Point lagi. Pagi ini, nampaknya laut sangat bersahabat dengan kami. Dari hasil 3 kali terjun ke laut, saya berhasil bertemu 5 manta. Dan manta terakhir yang saya temui benar-benar dekat jaraknya dengan saya. Wow! Kangen banget rasanya sudah lama tidak berjumpa dengan si gendut cantik ini. Walau kecapean karena arus, tapi saat berhadapan langsung dengan sosok manta ini, rasanya buyar semua capenya. Puas banget bisa berenang bareng manta lagi. Next time kita diving bareng ya, manta(n)!

Berikutnya kami meluncur ke Pulau Kanawa untuk lanjut snorkelingan lagi. Saat sampai di sini, nampaknya air sedang surut, sehingga dangkal sekali airnya. Jika diukur kira-kira paling mentok airnya setinggi lutut orang dewasa saja. Mau snorkeling jadi serba-salah, takutnya malah kena coral euy. Yang lucunya, karena air laut sedang surut sehingga deretan coralnya nampak seperti membentuk pagar dan mem-block kami. Jalur kami tertutupi coral-coral yang tingginya hampir menyentuh permukaan air, karena tidak bisa ditembus akhirnya kami balik lagi ke pantai deh. Ya ampun padatnya coral di sini, kalau air laut sedang pasang pasti seru banget snorkeling di sini deh.

Lanjut ke tujuan terakhir dari trip ini, kami mampir ke Pulau Kelor. Karena agak malas basah-basahan lagi, saya memutuskan untuk trekking ke puncak bukit saja. Sedangkan sebagian besar teman saya, lebih memilih untuk lanjut snorkeling lagi. Perasaan dari awal trip, saya hobi banget trekking ya, saya baru sadar loh pas menulis ini. Haha. Jujur ya, ini keputusan trekking yang paling saya sesali seumur hidup saya. Jalurnya itu minta ampun curamnya, nyaris 90 derajat loh. Dan konyolnya lagi, sudah lihat jalurnya begitu, saya malah tetap lanjut naik hingga puncak. Yah, pas sampai di puncak, pemandangannya memang bagus sih. Unik gitu, berbeda dengan pulau-pulau sebelumnya. Tapiiiii, pas turunnya itu loh, saya kapok banget. Itu jalurnya pasir semua, setiap melangkah berapa kali nyaris tergelincir. Saking curamnya, saya berasa jadi spiderman yang sedang merayap di dinding. Sepanjang perjalanan turun, rasanya mau nangis, kenapa coba naik ke sini kalau tidak bisa turunnya. Kaki saya tidak berhenti gemetaran pas turun. Saya sampai lepas sendal, karena licin banget trek-nya. Walau sudah tanpa alas kaki, setiap menapak tetap saja rasanya tidak aman karena takut tiba-tiba tergelincir. Pengennya sih cepat sampai ke bawah, tapi tidak mungkin banget saya bergerak cepat di sini. Setiap langkah sangat perlahan sekali, dan sebelum melangkah harus dipikir matang-matang mau ditaruh dimana telapak kaki ini? Jangan sampai menapak di tanah rapuh yang tidak kuat menahan beban badan saya, bisa jatuh nanti. Selain masalah dimana kaki harus melangkah, ternyata ada masalah lainnya yaitu dimana tangan saya harus pegangan kalau cuma ada tanah rata berpasir yang miring seperti dinding? Duh, ini perjuangan banget, benar-benar antara hidup dan mati. Sekali salah pegangan atau salah melangkah, bisa langsung selesai meluncur lurus ke batu-batu di bawah sana. Jika dibandingkan antara view yang saya lihat di atas dengan jalur turun yang curam ini, saya sih tidak rekomendasi untuk naik ke atas ya. Saya sendiri menyesali diri saya kenapa tetap konyol naik ke atas sana. Untungnya, saya masih bisa turun dengan selamat, walau badan saya belepotan kotor semua akibat merayap di ‘dinding’ tebing Pulau Kelor itu. Rasanya bersyukur banget bisa mendarat di pantai dengan selamat. Ini benar-benar pilihan yang konyol untuk menutup trip yang indah banget dari awal perjalanan. Walau begitu, setiap kali saya mengingatnya, saya tidak bisa berhenti ketawa sendiri. Nampaknya pengalaman jadi spiderman di Pulau Kelor, tidak akan pernah saya lupakan. Haha.

Menutup trip ini, akhirnya kapal kami berlabuh di dermaga Labuan Bajo. Ini benar-benar perjalanan yang sangat menyenangkan dan penuh dengan cerita seru yang tidak akan ada habisnya. Belum lagi ditambah pemandangan indah yang senantiasa menemani kami, baik yang di darat, di atas bukit sampai di dalam laut. Terima kasih Kepulauan Komodo, saya tidak pernah bisa bosan dengan pulau-pulau ini. Dan nampaknya tahun depan saya akan mendarat kembali di sini. Sampai bertemu di tahun depan yaa.

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*