Tjong A Fie Mansion, Medan..

INDONESIA


Rasanya sudah lama sekali saya tidak mengunjungi kota besar satu ini. Medan yang katanya kota metropolitan kedua di Indonesia memang nampak mulai membangun lahannya dengan bangunan tinggi nan modern. Terlihat semakin banyak cafe dan restaurant mulai menjamur di tengah kota ini. Karena bosan dengan kemeriahan metropolitan, saya dan teman saya mencoba mencari tahu gambaran ‘kota tua’ dari kota Medan ini.

Setelah beberapa menit browsing di internet, nama ‘Tjong A Fie’ sering kali muncul. Karena diantara kami bertiga tidak ada yang mengenal sosok ini, kami pun menjadi penasaran dan segera meluncur ke lokasi bangunan yang bernama Tjong A Fie Mansion. Sepanjang perjalanan ke sini, saya melihat banyak bangunan tua dan besar di sepanjang kiri kanan jalan. Nampaknya daerah ini merupakan daerah penting pada zaman dulunya.

Tjong A Fie Mansion letaknya persis di sebelah jalan raya. Setelah parkir, kami pun segera bergegas masuk ke dalam. Kami membayar tiket masuk sebesar Rp. 35.000,- yang sudah termasuk guide dan heritage photo gallery. Sebelum masuk ke dalam bangunan ini lebih jauh, sebaiknya saya jelaskan dulu siapakah Tjong A Fie ini sebenarnya. Beliau adalah seorang keturunan Cina yang meninggalkan tanah kelahirannya saat muda untuk merantau ke Sumatera. Saat itu Tjong A Fie hanya memiliki sedikit uang. Namun karena sosoknya yang bersahabat, beliau pun dapat membangun hubungan baik dan bekerja untuk Belanda. Belanda pun sangat puas dengan hasil kerja Tjong A Fie dan menjadikan beliau sebagai seorang Kapten di Medan. Pada masa itu, tidak terjadi perang apapun di Medan karena antara masyarakat dan Belanda serta Kesultanan Deli hidup berdampingan dengan baik. Hal itu juga dikarenakan Medan adalah lahan perkebunan yang dijaga dengan baik oleh Belanda.

Beliau pun mulai mengembangkan usaha perkebunannya yang terus bertambah besar. Saat itu, Tjong A Fie menjadi keturunan Cina pertama yang memiliki perkebunan tembakau dan menjadi salah satu orang terkaya di Medan. Walau seorang keturunan Cina, namun dia tidak pernah membeda-bedakan ras dan suku. Beliau adalah seorang yang dermawan dan dicintai oleh masyarakat sekitar. Dia selalu menolong ke semua orang yang membutuhkan tanpa membeda-bedakan. Tjong A Fie juga dikenal sebagai tokoh pembangunan di Sumatera Utara, karena beliau banyak menyumbangkan hartanya untuk fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan oleh masyarakat sekitar, salah satunya adalah rumah sakit untuk penyakit lepra. Sosok pengusaha yang kaya raya namun sangat dermawan membuat Tjong A Fie menjadi tokoh yang disegani pada saat itu dan namanya dikenang hingga saat ini.

Bangunan yang saya kunjungi ini adalah rumah tinggal yang dibangun untuk istri ketiga Tjong A Fie. Menurut saya, rumah ini ukurannya sangat besar loh, bahkan untuk ukuran rumah zaman sekarang. Apalagi jika dibandingkan dengan zaman dahulu ya? Tour ini pun dimulai dengan memasuki ruang tamu yang terdiri dari tiga ruangan terpisah yaitu satu ruang tamu untuk tamu orang Cina, satu ruang untuk menjamu Sultan Deli dan orang Melayu, dan ruang yang terakhir untuk tamu orang Indonesia. Di sini, guide saya mengatakan bahwa lantai keramik dan plafonnya didatangkan langsung dari Venice, Itali. Wow, sampe segitunya ya. Hanya untuk sebuah rumah tinggal saja, bahan bangunannya harus impor dari Eropa. Saya gak kebayang gimana cara mengirimkan bahan-bahan tersebut ke Indonesia pada zaman penjajahan dulu, apalagi barangnya berupa keramik yang rentan pecah. Entah berapa biaya yang dihabiskan hanya untuk lantai dan plafon saja.

Belum selesai saya terpukau karena barang impor dari Venice tersebut, saya makin shock ketika tiba di kamar tidur Tjong A Fie yang berisi perabotan yang berasal dari Yunani. Coba bayangkan cara mengirimkan furniture kayu besar dari Yunani hingga tiba di bumi Sumatera ini. Sebenarnya ada banyak lagi ruangan di lantai dasar ini, namun tidak begitu menarik untuk diceritakan jika dibandingkan dengan ruang tamu dan kamar tidurnya.

Puas berkeliling di lantai dasar, kami pun melanjutkan tour ke lantai duanya. Di lantai dua, ada sebuah ruang dansa yang sangat luas. Dan katanya, lampu-lampu di sini didatangkan dari Austria. Oh my god, saya gak tau deh berapa biaya pembangunan rumah tinggal ini dengan bahan bangunan dan furniture yang diimpor dari berbagai negara. Mendengar fakta-fakta ini, membuat saya semakin yakin kalau beliau memang sangat kaya raya pada zaman penjajahan dulu. Oh ya, bahkan dulu bangunan ini merupakan satu-satunya rumah tinggal yang memiliki listrik di Medan. Wow!

Jika memandangi fisik dari bangunan ini, kita dapat merasa kembali bernostalgia ke era Baba dan Nyonya. Walau bangunan kayu tua ini masih terawat dengan baik, tapi rasanya tidak akan lengkap tanpa kehadiran cerita sejarah dari bapak guide ini. Saya sendiri sebenarnya sangat malas mendengar penjelasan panjang lebar mengenai sejarah suatu tempat. Namun ketika di sini, saya merasa semakin penasaran dengan cerita-cerita dari guide saya. Siapa sangka coba, ternyata rumah tua ini dibangun dari bahan-bahan yang didatangkan dari segala penjuru dunia.

Saat Tjong A Fie wafat, ribuan orang datang melayat. Tidak hanya orang Medan saja, bahkan dari negara lain pun datang melayat. Walau sudah tiada, sosok dermawannya tetap hidup hingga sekarang. Beliau menyumbangkan hampir sebagian besar dari hartanya untuk rakyat kecil. Salah satunya adalah untuk membiayai pendidikan bagi anak muda berbakat yang tidak mampu, tanpa membedakan suku dan etnis.

Bagi yang lagi liburan ke Medan, saya ajak untuk mampir ke sini. Tidak sampai sejam rasanya, kalian sudah bisa merasakan keunikan bangunan ini lengkap dengan cerita-cerita seru dibalik pembangunannya loh!

Additional information

– Tiket masuk : Rp 35.000,-/person

– Jam buka : 9.00 – 5.00 WIB

– Alamat : Jl. Jend A Yani No 105 Medan

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*