Pencarian sang Ocean Sunfish..

INDONESIA


Sejak 2008, setiap pertengahan tahun saya selalu terbang ke Bali. Tujuan saya cuma satu yaitu diving di Nusa Penida. Kalau bulan-bulan lainnya, saya bebas deh mau diving di mana saja. Tapi kalau sekitar bulan Juni-Agustus, saya pasti dan wajib diving di Nusa Penida. Ada satu mimpi saya yang belum terwujud selama diving di Bali yakni bertemu sang Ocean Sunfish (Mola-mola). Padahal sudah ratusan diver dari luar negeri berhasil bertemu dengan Mola-mola ini, tetapi kenapa saya yang diver Indonesia selalu gagal terus?

Setiap kali selesai diving di Nusa Penida, saya selalu berharap bisa pulang dan langsung menuliskan pengalaman saya bertemu Mola-mola. Sudah 7 tahun saya mencoba, tapi hasilnya nihil semua. Walau belum berhasil diving bareng Mola, tapi saya merasa sedikit agak lega sekarang. Karena saya sudah melihat langsung wujud Mola-mola ini, walau dalam aquarium di Osaka, Jepang. Hehe. Sekarang saya bisa buka folder foto-foto Nusa Penida saya tanpa harus kecewa atau sedih lagi deh.

Ngomong-ngomong, sudah pada tahu Mola-mola belum? Penjelasan singkatnya sih, Mola-mola adalah jenis ikan besar yang berdiameter antara 1 sampai 3 meter. Bentuk badannya tergolong pipih, tidak seperti paus yang besar gemuk karena dagingnya. Ikan ini adalah ikan dengan tulang terberat di lautan, berat tulangnya sendiri 1.000 kg.

Mola-mola itu sebenarnya adalah hewan yang hidup dalam perairan dalam hingga 600 meter di bawah permukaan air laut. Namun pada bulan tertentu, dia akan naik ke permukaan laut. Ada 2 dua alasan yang menyebabkan Mola-mola naik ke permukaan; yang pertama adalah untuk menuju ke perairan hangat sehingga mereka dapat mengembalikan suhu badannya. Sedangkan alasan kedua adalah untuk membersihkan parasit-parasit yang terdapat pada tubuhnya. Karena saat naik ke permukaan, Mola-mola itu akan dikerubungi oleh ikan-ikan pembersih. Biasanya Mola-mola akan naik ke permukaan di sekitar bulan Juni hingga Agustus, namun ada juga yang mengatakan hingga Oktober.

Saat Juni 2008, saya mencoba dive di Cyrstal Bay, spot  yang terkenal sekali untuk hunting Mola-mola di sekitar Nusa Penida. Mola-mola katanya sering terlihat bermain di permukaan bila musimnya tiba. Namun seperti yang saya katakan, saya tidak ketemu satu Mola pun. Saat bulan Agustus, saya pun mencoba keberuntungan lagi. Sebelum diving, divemaster kami mengatakan bahwa sejak Juni mereka belum berhasil bertemu Mola-mola. Karena saat itu cuaca di Indonesia memang “bergeser” dimana musim kemarau dan hujan sama sekali tidak bisa diprediksi. Kalau pun bertemu Mola-mola mungkin di perairan dalam bukan di sekitar permukaan. Menurut kami, tidak masalah mau bertemu di kedalaman berapa pun, yang penting harus ketemu aja. Menurut divemaster-nya, sebaiknya kami menunggu di kedalaman 20 meter saja, sedangkan beliau akan turun ke 30 meter untuk mencari Mola-mola tersebut. Saya dan 3 buddies lain setuju dengan usulan beliau.

Begitu sampai di kedalaman 20 m, divemaster saya memberi tanda kalau beliau akan turun ke bawah lagi dan kami harus menunggu di sekitar situ. Tidak lama setelah beliau pergi, hal buruk pun terjadi. Tiba-tiba ada arus kencang yang datang. Saya pun terdorong ke belakang hingga tabung saya menabrak karang-karang di belakang saya. Saya berusaha mencari pegangan, namun setiap pegangan yang saya pegang selalu patah atau tercabut. Saya pun terus terlempar hingga ke atas. Buddy saya segera menangkap saya sebelum terhempas lebih jauh lagi. Jadi satu tangan dia narik tangan saya dan tangannya yang satu lagi berpegangan kencang pada karang besar. Kedua badan kami bagaikan bendera yang terus melambai-melambai tersapu oleh arus. Dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas, saya pun berusaha menggapai karang untuk berpegangan. Saya melihat dua buddies saya lainnya juga sedang berpegangan kuat menahan kencangnya arus yang menyerang kami. Untungnya arus itu tidak berlangsung lama dan akhirnya divemaster kami pun muncul juga. Namun tidak sampai 10 menit, kami pun memutuskan untuk segera naik ke atas.

Saya benar-benar kesal dengan dive operator ini, “hei, kenapa gak dikasih tahu dulu sih, kalau area ini berarus cukup kencang!” Setidaknya kami bisa mempersiapkan diri dahulu sebelum ketemu arus di bawah. Nah, ini main ditinggal begitu saja. Benar-benar bahaya banget sih dive operator ini.

Setelah pengalaman buruk saya itu, saya pun mencari tahu lebih detail mengenai Nusa Penida. Saya baru sadar ternyata perairan di seputar Nusa Penida memang tergolong arus yang cukup kuat. Bahkan ada beberapa dive operator yang melarang diver pemula untuk diving di sini. Walau begitu, saya tetap gak kapok diving di sini. Dengan persiapan yang jauh lebih matang, saya siap nyemplung di Nusa Penida lagi.

Setelah bolak-balik setiap tahun demi Mola-mola, akhirnya pertengahan 2012, saya putuskan untuk full dive trip demi nyari si Mola-mola. Dimana setiap hari saya hanya akan menghabiskan  waktu saya untuk diving di Nusa Penida. Saya pun tidak pakai sembarang dive operator dan telah menyeleksinya dengan ketat. Kali ini tidak hanya point Crystal Bay saja yang akan saya coba, namun ada juga dive point lain yang katanya berpotensi untuk bertemu Mola-mola. Yang namanya diving nyari Mola-mola itu, kerjaan kami di dalam laut hanya menunggu dan pasang mata ke segala arah. Dari mulai turun, terus diam di bawah, sampai naik kembali ke atas, yang kami lakukan hanyalah menunggu. Selama diving, saya hanya melihat warna biru lautan saja di hadapan saya.

Dari beberapa dive point yang saya coba di Nusa Penida, ada satu yang menjadi favorit saya yaitu Toya Pakeh. Di spot ini ramai banget, banyak ikan dan coral warna warni. Berbeda dengan spot lain yang biasanya hanya warna biru, di sini saya bisa menikmati beragam warna. Walau tidak menemukan Mola, setidaknya dalam kamera saya ada beberapa foto yang tidak hanya berwarna biru saja. Hehe.

Hari terakhir diving di sini, kami putuskan untuk mencoba Crystal Bay lagi. Jadi selama satu hari, kami hanya diving di spot yang sama, yaitu di Crystal Bay. Berdasarkan pengalaman diving sebelumnya, diving di sini tuh dingin banget. Saya sampai sewa dive suit dengan ketebalan 5 mm, padahal biasanya diving pakai celana pendek juga gak masalah. Haha.

Kalau mau ketemu Mola memang harus siap diving dingin-dingin sih. Biasanya bila suhu sudah mencapai 18 derajat, kemungkinan besar si Mola akan muncul. Saat itu kami bertahan menunggu di dalam air hingga suhu 16 derajat, namun si Mola tidak muncul juga. Itu adalah diving terdingin yang pernah saya rasakan sepanjang hidup saya. Walau tangan dan bibir saya sudah sampai keriput dan berwarna pucat, tapi saya masih juga belum berjodoh dengan Mola. Eh, saya malah ketemu ular laut di sini. Untung ada si ular ini, jadi ada hiburan deh. Kalau tidak, saya bisa mati bosan menunggu sambil kedinginan di dalam sini.

Saat tahun 2013, saya pun sudah menyiapkan tabungan untuk berangkat diving ke Bali lagi. Namun sepanjang tahun itu, saya tidak mendengar kabar yang cukup heboh mengenai kemunculan Mola. Kemudian di tahun 2014, saya kembali terbang ke Bali namun tidak mendapat kabar baik mengenai Mola. Akhirnya saya hanya diving di sekitar Padang Bai saja. Kebetulan saat September 2014, saya melihat berita ada Mola-mola yang terdampar di Jepang dan dirawat sementara di aquarium Osaka. Mungkin saya berjodohnya ketemu dengan Mola-mola di aquarium kali ya, bukan di dalam laut. Yah dimanapun itu, yang penting sudah face to face dengan si ikan langka ini. Hehe.

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*