Melaka, the Red Town..

MALAYSIA


Setibanya di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), saya segera membeli tiket KLIA Ekspres untuk menuju KL Sentral. Karena sedang buru-buru, saya terpaksa menggunakan KLIA Ekspres, yang ternyata harganya lumayan mahal. Dalam 40 menit, saya sudah tiba di KL Sentral dan segera menyelesaikan segala urusan saya di Kuala Lumpur. Selesai urusan bisnis, saya jadi bingung mau ke mana lagi di Malaysia ini. Akhirnya, saya mampir ke Tourist Information Center (TIC) di KL Sentral. Saya kagum sekali dengan servis TIC di sini, benar-benar sangat membantu dan memberikan info sedetail-detailnya, mulai dari jadwal bus hingga ongkos angkutan umum yang digunakan. Setelah membandingkan beberapa brosur wisata Malaysia, pilihan pun jatuh pada kota tua Melaka.

Selesai makan malam, saya bersama seorang teman berangkat dari KL Sentral menuju Terminal Bersepadu Selatan (TBS) dengan menggunakan kereta komuter. Sesampainya di TBS, kami membeli tiket bus menuju Melaka Sentral. Saat itu, jadwal bus yang paling cepat adalah Bus Mayang Sari yang berangkat pukul 20:07. Jika kami bisa tiba di Melaka Sentral sebelum jam 22.00, kami dapat mengejar Bus Panorama No.17 yang akan mengantarkan kami ke area Jonker Walk. Sebenarnya petugas TIC sudah mengantisipasi bahwa kemungkinan besar kami tidak dapat mengejar bus terakhir di Melaka Sentral. Mereka pun menyarankan untuk naik taksi dengan perkiraan ongkos sekitar RM 10 – RM 15.

Sesuai perkiraan terburuk, kami tiba di Melaka Sentral sekitar jam 22.30. Saat itu hanya tersisa beberapa taksi di area parkir. Saya pun buru-buru segera nego harga dengan salah satu supir taksi. Taksi itu tidak mau menggunakan argo, dan mematok harganya sebesar RM 13. Karena harganya sesuai dengan perkiraan petugas TIC, baiklah kami segera masuk ke taksi itu. Baru jalan sebentar, tiba-tiba taksi itu berhenti di pinggir jalan dengan sebuah bangunan hotel di dekatnya. Supir taksi itu pun mempersilahkan kami untuk turun dari taksinya.

Saya : ‘Loh, kenapa berhenti di sini?’

Supir : ‘Tadi katanya mau cari hotel, yah ini hotelnya’

Saya : ‘Kan saya bilang mau cari hotel di kota tuanya, pak, di daerah Jonker Walk. Bukan asal hotel di sembarang tempat’

Supir : ‘Wah, kalau itu jauh tempatnya’

Saya : ‘Loh, maksudnya apa ya, pak? Bukannya kita sudah sepakat yah tadi?’

Supir : ‘Kalau mau ke Jonker Walk, ongkosnya jadi RM 20, karena itu jauh’

Saya kesal banget dikerjain kayak begini. Namun kondisinya benar-benar tidak ada pilihan lain. Saya berdua dengan teman saya yang perempuan juga, berada dalam taksi tua di jalanan sepi dan sudah tengah malam pula. Saya cape argumen dengan supir ini dan saya tahu pasti saya tidak bisa menang. Yasudah, saya setuju saja dengan harga RM 20, asal bisa sampai ke tujuan yang tepat dan selamat. Namun teman saya nampaknya jauh lebih kesal daripada saya dan mulai mengoceh menceramahi pak supir itu dalam versi english. Ya Tuhan, apa anak ini tidak takut kalau supirnya jadi emosi dan bertindak kriminal kepada kami ya? Saya yang lagi pusing, jadi bingung bagaimana menyuruh teman saya ini untuk berhenti berdebat dengan supir. Akhirnya, saya menemukan kertas dan menulis pesan dengan tegas agar teman saya itu berhenti bicara. Saya baru tahu rasanya terjebak dengan partner traveling yang salah. Mending traveling sendirian kemana-mana deh, daripada harus bersama orang yang bisa membahayakan nyawa sendiri. Huff!

Akhirnya kami sampai juga ke kawasan kota yang hampir semua bangunannya berwarna merah. Selesai bayar taksi, kami langsung mencari penginapan. Satu-persatu hotel dan penginapan yang saya datangi dan ternyata sudah pada penuh semua. Berdua di tengan malam sambil bawa-bawa tas, masih belum dapat tempat istirahat dan ditambah teman saya yang sibuk menggerutu. Argh! Rasanya mau gila saja. Setelah keluar masuk beberapa blok, akhirnya kami berhasil menemukan penginapan juga. Thank God!

Esok paginya, saya langsung berjalan-jalan ke area Jonker Walk. Tempat yang saya tuju pertama adalah Stadthuys, yang merupakan landmark utama dari kota tua ini. Bangunan ini dibangun pada 1650 dan dulunya berfungsi sebagai tempat tinggal dan kantor resmi Gubernur Belanda. Awalnya bangunan ini berwana putih, namun akhirnya dicat menjadi merah untuk menyesuaikan dengan warna bangunan Christ Church yang berada di dekatnya. Selain itu, ada juga bangunan kantor pos pada jaman kolonial Inggris, yang sekarang menjadi Malaysia Youth Museum dengan dinding yang berwarna merah juga.

Entah kenapa kebanyakkan bangunan di sini jadinya dicat dengan warna merah? Tidak hanya 3 bangunan yang sudah saya sebutan sebelumnya, namun masih banyak bangunan lain yang berwarna merah dindingnya. Yah walau saya akui, bahwa ciri khas bangunan merah inilah yang membuat Melaka menjadi kota tua yang unik dengan julukannya the Red Town. Selain karena warna merahnya yang khas, sebenarnya kota ini telah terkenal namanya sejak 600-an tahun yang silam. Sedikit cerita singkat mengenai Melaka, kota ini mulai berkembang dibawah kesultanan Melaka sejak tahun 1403. Seiring dengan perkembangan waktu, Melaka berkembang menjadi pelabuhan sekaligus pusat perdagangan yang strategis. Hal ini juga yang membuatnya menjadi rebutan bangsa Eropa. Yang pertama menjajahnya adalah bangsa Portugis pada 1511 selama 130 tahun. Kemudian digantikan dengan Belanda sejak 1641 selama 154 tahun. Kemudian, Inggris pun menjajahnya sejak 1824. Banyaknya perpaduan masa kolonialisasi yang terjadi pada kota ini, tidak heran meninggalkan jejak sejarah yang kental di Melaka hingga menjadikannya sebagai salah satu World Heritage Site. Berada di kota tua Melaka ini, saya tidak merasa seperti berada di daerah Asia.

Selain bangunan peninggalan kolonial yang sudah saya ceritakan sebelumnya, di kawasan ini juga banyak sekali dipenuhi dengan berbagai macam museum. Saya bahkan menemukan satu deretan bangunan yang isinya museum semua di kiri kanannnya. Saat itu, saya sih tidak begitu tertarik untuk masuk ke salah satu museum. Tapi saya lebih tertarik menuju situs peninggalkan kolonial lainnya. Berikutnya saya menuju Porta de Santiago, yang merupakan reruntuhan bekas sebuah benteng yang dibangun oleh Portugis pada tahun 1511. Namun hancur saat bangsa Belanda menjajah Melaka. Sekarang hanya tinggal tersisa sepetak bangunan dan sebuah meriam di depannya.

Terakhir kami menutup perjalanan siang ini dengan naik bukit untuk melihat sisa peninggalan St. Paul’s Church. Gereja ini dibangun pada 1521 oleh seorang Portugis Katolik yang bernama Duarte Coelho. Namun saat Belanda datang namanya pun berganti menjadi St. Paul’s. Di gereja ini St. Francis Xavier pernah disemayamkan dalam kuburan terbuka pada tahun 1553. St. Francis Xavier seorang misionaris yang menyebarkan ajaran agama di Asia Tenggara pada abad ke-16. Dalam bangunan tanpa atap ini, saya menemukan ada banyak batu persegi panjang dengan bermacam-macam ukiran dan tulisan di atasnya. Sepintas batu ini terlihat seperti nisan batu yang klasik bagi saya.

Selesai acara muter-muter, saya pun memutuskan untuk makan siang dan kulineran ke arah keramaian kota. Di sini, saya banyak bertemu dengan wisatawan asing yang rata-rata menginap 2 minggu hingga 1 bulan di Melaka. Saya pun bertanya, kenapa bisa betah banget sampai berminggu-minggu di sini? Jawaban mereka pun hampir sama semua, karena Melaka merupakan kota kecil yang tenang dan biaya hidup di sini cukup terjangkau. Mereka pun nampak heran banget, melihat saya cuma menghabiskan 1 hari di kota ini. Saya cuma menjawab, saya tidak punya alasan yang kuat untuk tinggal di sini lama-lama, karena rumah saya di negeri seberang jauh lebih indah dan menyenangkan.

Additional information

– Tiket KLIA Ekspres (KLIA – KL Sentral) : RM 35

– Tiket Komuter (KL Sentral – TBS) : RM 1

– Tiket Bus (TBS – Melaka Sentral) : RM 10

– Tiket Bus Panorama No. 17 (Melaka Sentral – Jonker Walk) : RM 1.5

– Masuk Porte de Santiago : free

– Masuk Stadthuys : RM 5

– Masuk Malaysian Youth Museum : RM 2

– Masuk St. Paul’s Church : free

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*