Masjid Sejarah..

Saat sedang melihat koleksi foto traveling di computer, saya baru sadar ternyata saya punya banyak koleksi foto masjid di Indonesia. Foto-foto itu didapat ketika saya kebetulan singgah di kota tempat masjid itu berada. Saya pun teringat kalau di antaranya ada beberapa masjid yang kental dengan nilai sejarahnya. Penasaran seperti apa sejarahnya? Yuk, coba simak beberapa info yang saya dapatkan ketika berkunjung ke sana.

Pertama, saya akan mulai dari Medan. Mesjid yang bernama lengkap Masjid Raya Al Ma’sun Medan merupakan peninggalan dari Kesultanan Deli, Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Diperkirakan mesjid ini dibangun pada tahun 1906 M. Saat berkeliling dalam kompleksnya, saya baru sadar ternyata masjid ini berbentuk segi delapan. Masjid ini memiliki 5 kubah, dengan kubah paling besar berada diatas bangunan utama dan 4 kubah lainnya di setiap bagian sayapnya. Selain itu, bangunan ini juga kaya ornamen di sekelilingnya.

Sekarang lanjut ke cerita perjalanan saya sewaktu ke Banda Aceh, sebenarnya saya ingin berhenti sejenak di masjid ini. Namun, nampaknya crew televisi ini tidak mau ketinggalan hunting sunset di Pantai Ulee Lheu. Jadilah, saya hanya bisa foto dari dalam mobil saja. Padahal masjid ini merupakan salah satu saksi sejarah ketika bencana tsunami menerjang Aceh tahun 2004. Satu-satunya bangunan yang tetap berdiri, padahal semua bangunan di sekitarnya rata dengan tanah. Ini adalah Masjid Baiturrahim yang merupakan peninggalan Sultan Aceh pada abad ke-17. Awalnya masjid ini bernama Masjid Jami’ Ulee Lheu. Namun pada 1873, masjid ini dibakar Belanda, sehingga masyarakat terpaksa melakukan sholat Jumat di Ulee Lheue. Karena itulah namanya berganti menjadi Masjid Baiturrahim.

Kemudian kita ke Jakarta, pasti sudah pada tau Masjid Istiqlal kan ya. Masjid yang terletak di ibukota Indonesia ini memiliki nama yang berarti “merdeka” dalam bahasa Arab. Ini adalah salah satu karya besar putra Indonesia, yang berawal dari gagasan Presiden Soekarno. Desain dari masjid ini sendiri adalah hasil sayembara yang dimenangkan oleh Fredrerich Silaban (seorang yang beragama Kristen Protestan). Masjid ini memulai pembangunannya pada 1961, namun saat itu prosesnya tidak berjalan lancar. Hal ini disebabkan kondisi politik yang tidak kondusif, apalagi saat 1965 terjadi pemberontakan G30S/PKI, sehingga menyebabkan pembangunan terhenti sama sekali. Di tahun 1966, pembangunan pun dilanjutkan kembali, dan selesai setelah 17 tahun kemudian (1978). Sekarang masjid ini merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara.

Lanjut ke Cilegon ya. Saat perjalanan pulang dari Anyer, kami melewati tol Jakarta – Merak. Mendekati daerah Cilegon, terlihat 4 menara tinggi mencuat ke atas.  Tidak perlu ditebak, itu sudah pasti menara masjid deh. Sembari menunggu yang sholat, saya pun mencari tau perihal mengenal masjid ini. Ternyata masjid ini bernama Masjid Agung Nurul Ikhlas, dikenal juga dengan Masjid Agung Cilegon. Masjid ini dibangun sejak jaman penjajahan ketika Indonesia belum merdeka. Diperkirakan luasnya mencapai 3.600 meter persegi. Ternyata masjid yang sekarang saya lihat jauh berbeda dengan bentuk awal ketika dibangun dahulu. Menara masjid ini ternyata awalnya pendek, namun karena adanya renovasi berkali-kali akhirnya tinggi menara bertambah seperti sekarang. Selain 4 menara, masjid ini terdiri dari 3 lantai yaitu basemen, lantai dasar, dan lantai satu. Dari luar nampak ada tangga dan jembatan yang dapat mengakses langsung ke lantai satu. Karena sudah malam, tidak banyak juga yang bisa saya eksplor saat itu. Namun, bangunan ini begitu melekat dalam ingatan saya. Kenapa? Karena di tengah kawasan industri padat seperti itu saya bisa melihat bangunan indah dan gagah ini. Tidak heran masjid ini menjadi landmark kebanggaan kota Cilegon.

Di Bandung, terdapat masjid yang akrab dengan sebutan Masjid Agung Bandung. Masjid ini memiliki luas sekitar 8.500 meter persegi dan lokasinya berdampingan dengan Alun-alun Kota Bandung. Masjid ini dibangun tahun 1812 dan mengalami perombakan hingga 14 kali renovasi. Awalnya bentuk masjid ini dibangun dengan gaya arsitektur Sunda dengan atap joglonya, namun setelah direnovasi sekian kali, sekarang masjid ini bergaya Arab. Atap awalnya yang berbentuk joglo kini berubah menjadi bentuk kubah besar. Ada 3 perombakan atau renovasi besar yang tercatat, perombakan pertama terjadi pada tahun 1955, atas rancangan Presiden Soekarno untuk persiapan Konferensi Asia Afrika. Perombakan kedua pada 1973, kali ini atas SK Gubernur Jawa Barat. Dan perombakan ketiga pada 2001, dengan rencana menjadikan masjid ini dan Alun-alun sebagai satu kesatuan. Proses perombakan yang ketiga pun selesai di 2006, dan sejak saat itulah terjadi pergantian nama dari Masjid Agung Bandung menjadi Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat serta menyandang predikat sebagai masjid provinsi. Namun masyarakat seperti saya, kebanyakkan masih menyebutnya sebagai Masjid Agung Bandung.

Lanjut ke Garut, masjid yang mempunyai luas sekitar 4.500 meter persegi ini bernama Masjid Agung Garut. Seperti Mesjid Agung Bandung, masjid ini berdampingan dengan Alun-alun dalam satu kompleks. Masjid ini berdiri pada zaman penjajahan Daendels tahun 1813, yang awalnya dibangun sebagai sarana dan prasarana daerah terdiri dari alun-alun, masjid, penjara, dan pusat pemerintahan.

Pindah ke Tasikmalaya, ada sebuah masjid bersejarah yang mendampingi proses perkembangan daerah Tasikmalaya. Namanya Masjid Agung Tasikmalaya yang dibangun oleh Bupati Sumedang, Raden Tumenggung Aria Surya Atmadja dan kemudian diserahkan kepada Patih Tasikmalaya, Patih Demang Sukma Amijaya. Tercatat telah mengalami lima kali renovasi, yakni tahun 1923, 1973, 1982, dan 2000. Pada 1977, akibat gempa bumi masjid inipun diruntuhkan dan dibangun ulang total. Salah satu penghargaan yang diraih masjid ini adalah penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai beduk terbesar di Indonesia.

Terakhir, kita ke Malang. Masjid yang satu ini, letaknya sangat strategis yaitu di pusat kota. Sama dengan di Bandung dan Garut, masjid ini letaknya berseberangan dengan Alun-alun Kota Malang. Dari Alun-alun, kalian pasti dapat melihat jelas masjid kebanggaan Malang ini yang bernama Masjid Jami’. Masjid ini dibangun tahun 1890, berarti sekarang umurnya sudah  123 tahun. Menurut yang tertulis pada prasasti, ternyata masjid ini dibangun dalam dua tahap. Pertama dibangun tahun 1890 M, kemudian dilanjutkan lagi di tahap kedua pada tahun 1903. Ketika pada zaman penjajahan, masjid ini kerap kali digunakan oleh masyarakat pribumi sebagai tempat berunding dan membuat strategi untuk melawan penjajah.

Di sepanjang pulau Sumatra dan Jawa, mudah sekali menjumpai masjid-masjid besar di pusat kota. Masjid pun menjadi salah satu daya tarik wisata, apalagi jika berumur ratusan tahun dan punya nilai sejarah. Masjid-masjid ini berdiri mendampingi perkembangan suatu daerah atau kota, sehingga selain untuk beribadah, kalian juga bisa banyak tau mengenai sejarah sebuah kota dari sebuah masjid. Jadi walau tidak ke museum, kalian bisa dapat info lumayan akurat jika bertanya pada pengurus masjid setempat loh. [Feb ’13]

 © kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

One Response to Masjid Sejarah..
  1. Lacey Espinol says:

    tulisan yang menginspirasi dan saya sangat mengaguminya apa yang telah anda sampaikan, semoga anda terus memberikan ide ide yang baru buat kita semua dan salam sukses selalu buat anda!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*