Behind the Scene “Happy Holiday” Episode Sabang..

“Packing packing…”

Nah kali ini, konsep packingnya beda nih. Kalau biasanya kan bawa pakaian sesedikit mungkin. TAPI karena sekarang traveling ala syuting, kalau bisa sih sebanyak-banyaknya. Biar ganti-ganti kostum dan pastinya harus colourful dong. Hehe.

Yeah, kali ini liburan ke Sabang, Aceh. Kenapa Aceh? Karena saya dan teman-teman saya udah kebanyakkan explore daerah timur, jadilah kami putuskan untuk liburan ke daerah Indonesia barat, tapi tetap harus bisa diving juga. Maklum isinya diver semua.

Tiba di Banda Aceh, tiga mobil jemputan sudah menunggu kami. Kami langsung menuju pelabuhan Ulee Lheue untuk nyebrang ke pelabuhan Balohan,  Sabang. Sambil nunggu kapal feri, kami berserta crew Trans 7 briefing sebentar. Wih, padatnya jadwal syuting kami, mulai dari :

–       Explore Weh Island 

–       Scuba Diving

–       Wisata Kuliner

–       Visit ‘Memory of Tsunami’

Okay, karena saya sudah pernah cerita kegiatan syuting di atas, kali ini saya mau cerita mengenai memory kami yang gak kalian lihat di televisi. Ternyata syuting itu cape banget ya, harus balapan dengan schedule. Habis ini harus itu, setelah ke sini terus ke situ. Wih, kerjaan orang kantoran kalah deh dibandingkan dengan kerjaan kami di sini.

Satu-satunya penyejuk hati kami setelah syuting adalah istirahat santai di pinggir pantai. Waktu diskusi dengan crew Trans 7, kami benar-benar minta buat nginep di daerah Pantai Sumur Tiga. Dari hasil googling, view pantai ini benar cantik dan sangat menggoda dan penginapan kami pun posisinya sangat strategis sekali.

Setiap pagi, kami selalu dibangunkan oleh sinar lembut matahari yang masuk dari balkon kamar. Saya dan roommate selalu tersenyum lebar memandang view di hadapan kami. Tepat di halaman depannya adalah Pantai Sumur Tiga dengan pasir putih yang menghampar luas. Benar-benar relax banget di sini!

Bagian yang paling seru adalah acara malam versi kami. Abis cape syuting seharian, langsung mandi dan jalan-jalan ke cafe tetangga. Dekat penginapan kami adalah cafe di pinggir pantai. Awalnya para crew mengajak kami untuk makan malam di kota. Namun kami tidak tertarik makan di kota, akhirnya kami putuskan untuk makan di dekat pantai saja. Dengan berbekal senter, kami pun menyusuri pantai yang sudah gelap.

Akhirnya kami menemukan tempat yang cozy banget. Suasananya asik, kami bisa ngobrol bebas  sambil menikmati angin sejuk di pinggir pantai. Numpung gak ada crew lain, jadi bebas gosip, hehe. Bahkan roommate saya, si Arnis, gak berhenti mesen es kopi aceh sampai tiga gelas. Duh, semoga nih anak bisa tidur ntar malem, karena besok paginya ada syuting lagi kan.

Dari seluruh pengalaman kami di Sabang, inilah memory yang selalu kami kangenin selama ini. Setiap ketemu, pasti bilang “pengen deh santai-santai di Sumur Tiga lagi.” Padahal banyak tempat lain yang kami datangi, tapi cuma ini yang bikin kangen. Satu-satunya tempat dimana kami bebas dari kamera dan bisa ngobrol bebas tanpa skenario. Haha.

Oiya, ngomong-ngomong soal memory, ada 1 lagi nih memory kocak yang kayaknya dipotong pas tayang di televisi deh. Padahal seru banget pas syutingnya. Haha.

Kalian pernah dengar Rujak Aceh belum? Hm, secara garis besarnya sama saja dengan rujak umumnya, isinya buah-buahan ditambah kuah kacang dan sedikit cabe. Tapi yang bikin beda adalah ada tambahan buah Rubiah di dalamnya. Teman saya yang master kuliner, si ibu Arnis, penasaran dan langsung ngambil buah Rubiahnya. Eh ternyata susah ya dibukanya, dia pun langsung minta bukain dan dalam sekejap langsung menelan setengah dari buah tersebut. Blep!

Tiba-tiba raut mukanya berubah dan memerah. Dia langsung teriak “pahittttttttt” dan dimuntahin semuanya. Terus sibuk cari air dan kumur-kumur berkali-kali. Trus dia complain ke bapak penjualnya “kok gak bilang sih kalau itu pahit?.” Yang jualan cuma senyum-senyum doang. Haha. Saya rasa penjualnya juga gak nyangka kalau Arnis bakal langsung nelen Rubiahnya bulat-bulat. Haha, saya gak bisa berhenti ketawa kalau inget lagi.

Karena penasaran, saya pun memberanikan diri buat mencoba buah Rubiah ini. Saya ambil sesedikit mungkin, karena kebayang muka Arnis yang merah tadi. Haha. Wih, benaran itu buah rasanya kayak getah, lengket pahit sepet. Aneh banget deh! Gak kebayang rujak yang sudah kami pesen kayak apa rasanya, apalagi rasa Rubiahnya ajaib begini.

Akhirnya pas rujaknya dihidangkan, jadi pada takut nyicip duluan deh. Haha, pada trauma ya? Tapi setelah dicoba satu sendok, rasanya benar-benar kayak rujak normal cuma ada pahit dikit. Bahkan karena ada pahitnya, rasanya jadi unik tapi tetap enak dimakan, bikin segar lagi.

Buat yang ingin cobain rujak Aceh, bisa mampir ke Pantai Anoi Itam. Letak warung persis di dekat parkiran, di depan pantainya. Cobain deh, bakal jadi satu pengalaman unik buat kalian nyobain buah Rubiah khas Aceh. [Jul ‘11]

Additional information

– Tiket kapal cepat Banda Aceh – Sabang : Rp 60.000,- (ekonomi); Rp 75.000,- (bisnis); Rp 85.000,- (VIP)

– Tiket kapal feri Banda Aceh – Sabang : Rp 11.500,- (ekonomi); Rp 36.500,- (AC)

 © kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*