Ambon Island, Ambon City..

Nampaknya cuaca sedang tidak bersahabat dengan kami. Hujan tidak berhenti menguyur pulau Ambon sejak kedatangan kami pagi itu. Akhirnya, kami pun hanya menghabiskan waktu di penginapan. Huff.

Ah, sudah tidak tahan lagi berdiam lebih lama di penginapan, kami pun akhirnya memutuskan untuk hajar saja, “ayo mari kita ke kota.” Setelah mendapat motor sewaan, kami pun bergegas menuju kota Ambon. Oya, jangan bingung dengan kata Ambon ya, karena ada “Pulau Ambon” dan “kota Ambon.” Penjelasannya begini, jadi di Pulau Ambon itu terdapat beberapa kota dan salah satunya adalah kota Ambon.

Nah, tempat penginapan kami dekat dengan bandara di Laha, sedangkan kota Ambon terletak di daratan seberangnya. Karena hujan, kami menggunakan ferry untuk menyebrang ke kota Ambon. Sebenarnya untuk ke kota Ambon kita dapat memutari pinggiran pulau, tetapi itu akan memakan waktu yang lumayan lama. Apalagi kalau hujan begini, akan lebih nyaman jika berteduh di ferry saja kan.

Tujuan pertama saat itu adalah toko buku, bisa tebak kenapa? Haha, karena kami perlu peta buat menjelajah nih. Akibat hujan yang begitu deras, kami tidak sempat memotret satu pun objek wisata yang kami datangi. Walau hujan derasnya minta ampun dan waktu itu sedang bulan puasa pula, kami tetap aja nekat mengelilingi kota dengan motor. Dasar anak muda!

Kami pun tiba di penginapan sudah larut malam dan langsung tepar di kamar. Keesokan paginya, kami benar-benar shock melihat tayangan berita pagi itu “Kota Ambon Banjir!” Wow, jalanan yang kami lewati kemarin kini tertutup air setinggi setengah meter. Rasanya nyaris saja kami terjebak di tengah banjir itu. Untungnya daerah penginapan kami di Laha letaknya lebih tinggi dari Ambon. Jadi ketika malam itu hujan makin deras, amanlah kami di sini. Thank God.

Setelah diguyur hujan semalaman, akhirnya keesokan harinya kami melihat matahari walau masih agak mendung sih. Kami pun segera bergegas menyewa mobil untuk melihat kondisi kota Ambon pasca banjir. Kali ini kami gak nekat pakai motor deh, terlalu berisiko. Kalau pakai mobil kan ada pak sopirnya. Hehe.

Sepanjang jalan kami melihat ada beberapa pohon tumbang, longsoran tanah dan perabotan rumah yang tertutup lumpur di pinggir jalan. Setiap anggota rumah nampaknya sedang sibuk membersihkan rumahnya masing-masing.

Sesampainya di kota, kami pun mulai berkeliling kembali. Di kota Ambon sendiri banyak didominasi dengan wisata monumen sejarahnya. Mulai dari patung perunggu Pattimura di Lapangan Merdeka, patung yang merupakan replika dari salah satu pejuang kita dari tanah Ambon yang gigih berperang untuk kemerdekaan. Masih di Lapangan Merdeka, ada tulisan raksasa “A M B O N     M A N I S E” dimana selalu ramai oleh para turis untuk berfoto-foto. Tidak jauh dari Lapangan Merdeka, hanya dengan berjalan kaki, bisa langsung menuju Gong Perdamaian Dunia. Apa yang membuat gong ini spesial? Gong ini diresmikan 2009 dengan tujuan agar citra Ambon yang identik dengan kerusuhan sebelumnya segera terhapus dan masyarakat Ambon dapat hidup bersama dengan rukun dan damai.

Tidak hanya patung Pattimura, ada juga patung seorang pejuang wanita Ambon di Karang Panjang yaitu Martha Christina Tiahahu. Mungkin banyak yang belum tau siapa beliau ya? Beliau adalah seorang wanita yang mengangkat senjata untuk melawan penjajah di kala usia masih 17 tahun. Walau seorang wanita, beliau dengan gigihnya selalu berperang di garis depan. Untuk itulah beliau diberi gelar sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Dari Karang Panjang inilah posisi terbaik untuk melihat pemadangan keseluruhan kota Ambon. Karena letaknya yang tinggi, kami dapat melihat dengan jelas kota Ambon yang terletak di bawah kami.

Lalu ketika kami akan menuju objek wisata berikutnya, ada yang aneh nih. Menurut peta, di kota Ambon seharusnya ada satu lagi wisata sejarahnya, namanya Benteng Victoria. Kami mengalami kesulitan mencari benteng ini, mau bertanya pun tidak memungkinkan karena tiba-tiba hujan turun cukup deras. Kalau lihat peta, harusnya posisi kami sudah dekat dengan benteng itu. Namun sudah 5 kali bolak-balik, kami tetap tidak menemukannya juga. Tapi kami pun tidak menyerah, keesokan harinya kami kembali lagi ke daerah benteng tersebut. Tau apa yang kami temukan? Kalian pasti kaget, tunggu di cerita berikutnya ya. [Agt ’12]

Additional information

– HTM Gong Perdamaian Dunia : Rp 5.000,-/org

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*