WAKATOBI : Hoga Island..

Yeah, akhirnya selesai sudah perjalanan saya selama 2 minggu. Dan sebagai penutup perjalanan, inilah Wakatobi yang ditunggu-tunggu. “That’s Hoga island. Oh god, it’s very beautiful!” Dari perahu kecil saya sudah dapat melihat hamparan pasir putih yang luas yang sangat menggoda. Belum lagi air lautnya sangat super jernih, benar-benar ingin langsung nyemplung rasanya.

Karena cape-nya, kami sudah tidak sanggup lagi berjalan. Kami pun menunggu di gazebo kayu dekat pantai dan akhirnya tukang perahu yang masuk ke dalam untuk memanggil penjaga pulau. Begitu penjaga pulau itu melihat kami, dia heran setengah mati. Kami pun jadi ikut bingung jadinya. Loh?

Saya : “Kok heran begitu, mas. Emang kenapa ya?”

Guide : “Kok kalian gak sms dulu. Kan saya bisa siapkan kamar dan beli bahan makanan terlebih dahulu. Malah sekarang kami tinggal berdua saja di sini”

Saya : “Heh? Gimana caranya sms, kita kan gak punya nomornya, mas. Kok cuma berdua, emang penduduk lain pada kemana?’

Guide : “Gak ada penduduk di sini, hanya kami penjaga yang tinggal di sini. Kalau penduduk tinggal di Kaledupa.”

Saya : “Lalu rumah-rumah yang saya liat di sepanjang pantai itu rumah siapa, mas?”

Guide : “Oh, itu homestay yang sengaja dibangun penduduk untuk pengunjung seperti kalian. Biasanya 1 homestay punya satu kepala keluarga yang tinggal di Kaledupa.”

Saya : “Ohh, begitu. Trus sekarang lagi banyak pengunjung gak, mas?”

Guide : “Haha. Itu dia yang saya bingung. Kenapa kalian datang sekarang, biasanya mereka datang sekitar April-Agustus. Kebanyakan adalah pelajar dari luar negeri sih, karena kampus mereka memang membuat agenda kuliah lapangan di sini. Kayak semacam reef check juga”

Saya : “Wow! Berarti cuma kami doang nih tamu di pulau ini sekarang. Berasa pulau pribadi ini mah. Asikkkk!”

Sekarang saya tau alasannya kenapa nama Wakatobi begitu menggaung di luar sana. Gimana gak terkenal coba? Hampir setiap tahun, ratusan pelajar dari negara lain datang ke sini untuk meneliti laut Wakatobi. Dan semuanya difokuskan di pulau ini, bisa dikatakan Hoga ada base camp mereka. Gak kebayang pulau yang super sepi seperti yang sekarang saya rasakan, tiba-tiba ramai dengan ratusan bule di mana-mana. Pantai yang luas ini akan habis untuk berjemur, laut yang begitu tenang akan ramai dengan canda ria, dan setiap malam akan ada acara barbeque bersama. Ah seru, benar-benar sensasi yang berbeda! “Hey buddy, suatu saat kita cobain Wakatobi yang versi rame ya”

O..ow, ternyata kami ada masalah kawan. Semua homestay yang kosong itu ternyata digembok oleh pemiliknya. Karena kami datangnya dadakan, dengan terpaksa satu homestay ada yang gemboknya dibuka paksa. Ups! Kata penjaganya, “nanti saya yang bicara dengan pemiliknya, yang penting kalian bisa langsung istirahat pasti cape banget kan.” 

Gak lama kemudian, datang seorang bibi yang membersikan homestay kami dan memberikan seprai dan selimut bersih. Ternyata bibi itu adalah tukang masak di pulau ini.

Selesai kami bersih-bersih, kami diantar untuk berkeliling pulau. Ternyata di dekat dermaga, ada sebuah bangunan besar dua lantai yang digunakan sebagai tempat belajar bagi pelajar-pelajar luar itu. Bentuknya seperti ruang kelas tapi ukuran lumayan luas sih, satu kelas di setiap satu lantainya. Kemudian di belakang bangunan itu terdapat rumah-rumah penjaga dan dapur. Oh, ternyata mereka benar-benar terfasilitasi untuk belajar di pulau ini.

Selesai makan siang buatan bibi, kami langsung ngambil alat snorkeling dan langsung loncat nyemplung ke air. Byurrrrr! Ah, segarnya. Belum lagi visibility-nya yang clear banget, super clear malah. Siang-siang terik begini berada dalam air rasanya nyaman banget. Sampai sore, kami terus main di pantai. Haha, udah gak peduli sama kulit hitam lagi.

Yang serunya, di sini cuma kami saja loh, benar-benar berasa pulau dan laut pribadi. Only us here! Sepanjang memandang ke sekeliling laut hanya ada kami di tengahnya. Sepi dan tenang banget, cuma suara kami saja yang terdengar. Pengalaman seperti ini yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya. Benar-benar sendiri di pulau dan dilayani lagi. Berasa raja pulau. Haha.

Keesokan harinya adalah jadwal untuk diving. Yeah, ini dia yang ditunggu-tunggu, surga bawah air Wakatobi. Tapi sayang, kami hanya diving 2 kali di sini. (Hingga kini, saya masih menyesal kenapa cuma 2 kali ya. Hiks!) Tapi karena cuma 2 kali itu, mas penjaga pulau (yang juga divemaster) mengajak kami dive di spot yang “wow” banget. Jujur sampai sekarang, saya belum pernah menemukan dive spots seperti yang di Wakatobi ini. Sungguh pengalaman yang tak bisa saya lupakan, benar-benar kebanggaan tersendiri pernah ngerasain dive di spot seperti ini.

Oke, langsung ajah nih. Pada dive pertama, diawali dengan pemandangan coral yang luar biasa cantiknya. Bukan yang hanya menghampar luas saja, tapi dia berbukit-bukit. Coralnya berkontur naik turun. Tidak terlihat rusak sedikitpun, memang terjaga banget coral-coral di sini.

(Oya, jangan jadikan fotonya sebagai patokan ya. Saat itu saya belum punya kamera sendiri, jadi pinjam punya buddy deh. Karena belum paham soal kamera bawah air juga, jadinya saya asal jepret deh. Mohon dimaklumin ya, setidaknya foto-fotonya bisa membantu memberi sedikit gambaran kan ya)

Nah, karena terlalu asik melihat coral-coral cantik itu, tanpa tersadar kami sudah di kedalaman 38 meter aja. Lalu tiba-tiba divemaster kami berhenti dihadapan sebuah coral wall yang besar banget. Si divemaster dengan “hand signal”nya menyuruh kami untuk mengikutinya. Tiba-tiba dia turun sedikit dan masuk ke sebuah lubang yang berada di antara coral itu. Oh my god, lubang apa itu? Kami pun sempat bengong sesaat dan tunjuk-tunjukan siapa yang duluan masuk. Haha. Daripada lama-lama sendirian tanpa divemaster, kamipun langsung masuk ke lubang itu. Dan ternyata ukuran lubangnya pas-pas badan dong, untung aja gak nyangkut. Haha.

Begitu keluar dari lubang itu, saya tiba-tiba berada di tengah keramaian ikan-ikan. Bukan schooling fish yang saya maksud, tapi ikan-ikan di sini bergerak secara acak ke segala arah. Berbagai jenis dan ukuran semua ramai di sini. Saya sampai bingung mau lihat yang mana, atas bawah kiri kanan serong depan belakang semuanya lalu lalang. Parah banget padatnya seperti liat jalanan di Jakarta. Haha. Seru abis di sini. Dari yang awalnya lihat kebun coral berkontur yang indah nan cantik tiba-tiba sekarang berada di keramaian ikan yang super ramai. Ya Tuhan, baru dive pertama aja saya udah mabuk cinta begini sama Wakatobi. It was so amazing. Ini spot yang wajib dicoba! Tapi saya lupa nama spotnya, buddies. Maaf ya.

Nah sekarang dive kedua nih. Kami bakal nyemplung di Barracuda Point. Yang lucunya nih, kan saya yang pertama nyemplung sambil nunggu buddy dan divemaster yang masih di kapal. Sambil nunggu di permukaan, saya bersih-bersih masker. Begitu maskernya bersih langsung saya coba tes untuk melihat ke dalam air dong.

Tiba-tiba saya melihat segerombolan barracuda yang bergerak membentuk spiral. Dari atas, terlihat seperti pusaran air. Rasanya jarak ujung fins saya dengan barracuda itu hanya 10 cm saja. Wuaaa, deket banget! Saya langsung refleks kabur dari situ dan menunggu di tempat yang agak jauh.

Kemudian si buddy pun terjun ke air. Begitu buddy melihat ke arah saya, saya langsung teriak “lihat ke bawah deh.” Dan begitu dia lihat ke bawah, dia pun refleks langsung kabur. Haha.

Begitu divemaster sudah di air, kami bareng-bareng masuk ke dalam. Ternyata gerakan kumpulan barracuda itu berbentuk seperti tornado dong. Ya ampun, rasanya seperti ada badai di dalam air. Coba bayangin barracuda yang ukurannya lumayan besar dengan giginya yang tajam itu membentuk formasi kerucut terbalik dan terus berputar-putar. Wuooww!!

Sangkin deg-degan nya, buddy saya yang saat itu sedang megang camera sampai gak berani moto dong. Ah, saya benar-benar gemes, tau gitu saya aja yang moto. Jujur daripada rasa takutnya, jauh lebih besar rasa takjub saya. Huff, suatu saat dengan tangan sendiri saya akan mengabadikannya, semoga kalian para barracuda masih tetap di sana ya.

Mungkin karena merasa terganggu oleh kami yang terpana dengan pesona mereka. Akhirnya secara perlahan mereka membubarkan diri. Yah udahan deh.

Begitu kami naik ke kapal, saya tidak berhenti bersyukur atas semua perjalanan panjang saya ke sini yang amat sangat tidak sia-sia. Saya pasti akan kembali lagi ke sini untuk ber-summer ria dengan pelajar bule itu dan mengabadikan tornado barracuda tadi dalam jepretan saya sendiri. Aminn!! [Jan ’10]

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

4 Responses to WAKATOBI : Hoga Island..
  1. weni says:

    ada rencana trip ke wakatobi lg kpn? Januari 2014 gmn? sy mau coba diving dsna…tp msh blm punya license, apakh bisa?

  2. Boan says:

    Hai Mita,

    Bulan april aja bareng ke wakatobinya.. kebetulan ada sodara yg suaminya jadi waka polres di wakatobi..jadi bisa dapet banyak kemudahan de… just email me: boanergis@yahoo.com

  3. Mita Damayanti says:

    Mau tanya-tanya dong soal Wakatobi…. ada rencana solo backpacking kesana niy Maret ini 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*