Perjalanan Heboh ke Wakatobi..

Wakatobi adalah bagian dari trip yang takkan pernah terlupakan bagi saya. Ini merupakan rangkaian perjalanan yang panjang yang diawali dari MakassarTanjung BiraSelayarToraja – Bau-bau hingga Wakatobi. Ketika itu niatnya sih mau eksplor Sulawesi Selatan dan Tenggara. Beda loh dengan sekedar terbang dan langsung sampai di Wakatobi begitu saja.

Kepuasaan tersendiri bagi saya sudah mencicipi laut Wakatobi pada Januari 2010 lalu, dikala teman-teman diver saya belum ada yang ke sana. Bahkan sekarang pun masih banyak yang belum berani ke sana. Sombong nih, haha. Bukan hanya perjalanan menuju ke sananya yang seru tapi Wakatobinya itu sendiri pun benar-benar dive spot ter’wow’ se–Indonesia. Bukan hanya dari segi keindahan alamnya saja, tapi dari pengalaman bawah air yang diberikan. Kalau masalah mana yang lebih indah, itu relatif kan ya?

Oke mari dimulai. Wakatobi itu sebenarnya kependekan dari WAngi-wangi, KAledupa, TOmia, dan BInongko. Itu adalah empat pulau yang termasuk ke dalam kepulauan Wakatobi. Dulunya kepulauan ini dikenal dengan nama Kepulauan Tukang Besi, dikarenakan mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai pandai besi. Sekarang bukan karena pandai besinya mereka bisa dikenal dunia, tetapi karena surga bawah lautnya yang sangat mengagumkan. Dari suatu majalah diving (2010), saya mengutip “90 percent of world’s coral are in Wakatobi sea.” Wow banget gak sih!

Nah lanjut ke journey-nya nih. Awalnya saat di Makassar, kami bingung mau naik kapal Pelni atau pesawat (saat itu hanya 1 maskapai yaitu Express Air) ke Wakatobinya. Ketika itu harga tiket pesawatnya agak mahal bagi kami, karena bingung akhirnya memutuskan nanti saja beli tiketnya. Namun pas di harinya kami ke bandara, ternyata tiket Makassar – Wangi-wangi sudah habis dong. Padahal hari-hari sebelumnya kami yakin banget kalau pesawatnya tidak akan penuh, karena masih jarang kan orang yang terbang ke Wakatobi apalagi harganya yang agak lumayan.

Daripada luntang-lantung di bandara, kami pun mengambil inisiatif untuk terbang ke Kendari dahulu baru lanjut menyeberang dengan kapal. Dan sialnya, tiket pesawat ke Kendari pun telah habis untuk semua maskapai. Oh my God! Satu per satu pesawat menuju Kendari telah terbang, tinggal 1 pesawat lagi yang belum terbang. Walau kami sudah tau kalau pesawat itu penuh, kami tetap mencoba ke counter-nya dan bertanya, “pak, penumpang ke Kendari ada yang cancel gak?” Awalnya dia jawab “penuh” tapi gak lama kemudian dia kembali dan bilang “eh, ada yang kosong ternyata.” Pesawat yang seharusnya sudah terbang dari tadi terpaksa harus menunggu kami.

Ketika kami masuk untuk check-in ternyata bagasi telah ditutup, dengan bawaan berat kami harus berlari-lari di sepanjang Bandara Hasanuddin karena pesawat sudah menunggu. Semua kru maskapai di setiap lorong bandara semuanya menyuruh kami “ayo cepat-cepat.” Dan parahnya, semua scanner kami lewati begitu saja dong. Padahal ada pisau diving di tas loh tapi lolos gitu  saja dong. Haha. Tas yang berisi pisau diving itu harusnya masuk bagasi, tapi karena bagasinya sudah ditutup terpaksa masuk kabin kan. Sampai di pesawat, kami habis dipelotin sama penumpang satu pesawat karena membuat jadwal mereka delay. “Haha, ampun om, tante.”

Begitu mendarat di Kendari, kami harus buru-buru mengejar kapal cepat menuju Bau-bau yang satu jam lagi berangkat. Kami pun langsung naik taksi charter (mobil pribadi yang disewakan dengan harga Rp 50.000) untuk meluncur ke pelabuhan. Begitu sampai di pelabuhan, tanpa buang waktu kami langsung beli tiket kapalnya seharga Rp 225.000 (VIP class), karena tiket reguler-nya telah habis.

Kami pun tiba di Bau-bau ketika hari sudah gelap. Dengan sisa tenaga, langsung ke loket tiket untuk beli tiket kapal malam menuju Wangi-wangi. Tapi ternyata malam itu kapal sedang tidak berani berlayar karena cuaca sedang buruk. Untuk informasi, saat itu kapal Bau-bau – Wangi-wangi hanya ada 1 kali sehari dan berangkat setiap jam 8 malam.

Mungkin kami memang sedang sial, sudah 2 malam kapal tidak berani berlayar. Kami pun terjebak di Bau-bau sampai tiga hari karena cuaca buruk. (Mau tau ngapain aja kami di Bau-bau selama tiga hari, klik di sini) Ketika malam ketiga, nampaknya cuaca sudah membaik sehingga ada kapal yang berani berlayar. Kapal yang akan mengantarkan kami adalah sebuah kapal kayu dengan “tempat tidur tingkat dua” di tengahnya. Yang bikin kami shock, hampir sekeliling kapal diisi dengan sepeda motor. Karena sudah tiga hari pengiriman motor itu tertunda. Hah, kapal yang seharusnya berisi orang sekarang harus bareng sama belasan sepeda motor dong? Belum lagi sekarang sedang musim cuaca buruk. Jangan sampe kejadian kayak Titanic deh. Huff.

Thank God, akhirnya kami tiba di Wangi-wangi. Ah, akhirnya menginjakkan kaki di Wakatobi! Eits, tapi perjalanan belum selesai nih. Ketika di kapal, kami bertemu seorang bapak yang menawarkan kami untuk istirahat sebentar di rumahnya. Terus, yang bikin kami takjub, ternyata di rumah bapak ini ada warung (toserba kecil) dilengkapi dengan running text dan cctv. Padahal pada tahun itu, di Jakarta jarang sekali ada running text dalam suatu mini market atau swalayan, sedangkan ini di sebuah warung di pulau kecil dong. Saya benar-benar takjub campur speechless membaca running text bertuliskan “harga susu Rp xxxxx; harga kecap Rp xxxx” Haha. Terlepas dari kekaguman saya, kami benar-benar berterima kasih atas bantuannya ya, pak.

Tanpa berlama-lama, kami langsung lanjut untuk menyebrang ke Pulau Kaledupa. Kami menyebrang dengan menggunakan public boat yang berangkat sekali dalam sehari. Kenapa kami menyeberang ke Kaledupa dan tidak stay di Wangi-wangi? Karena hasil tanya-tanya dengan penduduk, kalau mau diving sebaiknya ke Pulau Hoga (seberang Kaledupa) saja. Di situlah ada dive centre dan terdapat banyak homestay yang disewakan.

Dari Kaledupa, kami menyewa perahu penduduk (Rp 50.000) untuk menyeberang ke Hoga. Sebenarnya jarak Hoga dan Kaledupa sangatlah dekat, pulaunya pun nampak jelas dari seberang. Tapi memang harus pintar menawar kalau mau menyewa perahu begini. Kurang dari 10 menit, kami telah sampai di seberang.

Ahh, akhirnya sampai juga di surga ini. Benar-benar wow banget alamnya. Tenang, sepi dan seger banget udaranya. Begitu sampai, kita langsung tiduran di gazebo kayu yang ada di depam dermaga. Ah, tiupan angin terasa amat sangat menyejukkan. And finally, saya bisa berteriak dengan kencang dan puas “I’m in Wakatobi now!!”

Bagaimana dengan Wakatobi-nya sendiri, sabar ya kawan. [Jan ’10]

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*