Ibukota Raja Ampat..

Mengunjungi Raja Ampat adalah impian banyak orang, baik turis atau diver yang berasal dari Indonesia maupun dunia. Yah, apalagi bagi saya sendiri, sudah warga Indonesia asli dan diver pula lagi, rasanya tidak mau kalah dengan para bule yang ke sini. Huh! Katanya jika sudah melihat Raja Ampat berarti telah mewakili seluruh keindahan tempat lain di manapun. Resikonya kalau sudah pernah ke Raja Ampat, kalian bakal punya parameter “wow” yang sangat tinggi. Nanti kalau ke tempat manapun yang kamu datangi setelah Raja Ampat pasti akan menjadi biasa aja. Masa sih? Haha.

Dulu saya punya impian sebelum lulus kuliah, saya ingin menginjakkan kaki minimal di lima pulau besar Indonesia; Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Selain Papua, keempat pulau lainnya sudah saya datangi di kala liburan semester. Perjalanan saya ke Papua terwujud tepat seminggu setelah saya diwisuda, agak melenceng sedikit dari target impian saya sih. Tapi, yasudah lah ya.

Jujur saya sangat bersyukur bisa mendarat dengan mulus di Sorong, Papua. Rasa senang langsung merasuki saya, ketika benar-benar secara nyata “menginjakkan kaki” di bumi Papua. Antara bangga, senang, norak, terharu, pokoknya perasaan saya campur aduklah. Terima kasih Tuhan.

Eits, belum selesai nih misinya, karena tujuan utama saya adalah Raja Ampat, surga bagi diver seluruh penjuru dunia. Disebut Raja Ampat karena memang terdiri dari empat bagian wilayah (pulau) yaitu Waigeo, Misool, Batanta dan Salawati. Tujuan awal saya adalah Pulau Waigeo, di sana terdapat ibukota kabupaten Raja Ampat yaitu Waisai. Kalau mendengar kata “ibukota,” pasti akan terbayang bahwa daerah ini merupakan daerah paling maju dibanding lainnya, iya kan? Namun begitu melihat Waisai, tidaklah berbeda dengan pulau di daerah timur lainnya.

Lalu yang terbayang di kepala, pasti orang-orang yang saya temui di sana, kalau gak banyakkan bule atau orang Papuanya sendiri. Tapi ternyata saya salah besar! Haha, ternyata kebanyakkan orang yang saya jumpai di Waisai sama seperti saya yaitu pendatang. Hampir sebagian besar penduduk di sana nampaknya memang pendatang, kebanyakkan sih dari Sulawesi. Pokoknya kurang terasalah atmosfer “Papua”nya, mungkin karena jarang melihat penduduk dengan kulit hitam dan rambut keriting kali yah. Hehe.

Sebagai ibukota kabupaten, saya melihat Waisai saat ini sedang membangun berbagai infrastrukur. Berbagai fasilitas mulai dilengkapi dan berbagai tatanan pembangunan pun mulai dikembangkan. Penasaran ada apa lagi di Waisai, saya pun segera berkeliling. Pertama, saya disambut dengan monumen “selamat datang”nya.  Dari situ, saya tahu bahwa Raja Ampat resmi dijadikan kabupaten pada tahun 2007, benar-benar masih “balita” yah. Dari monumen itu, saya dapat melihat jelas daerah “tengah kota”nya, berupa kumpulan atap rumah di antara rimbunan pepohonan dan perbukitan. Entah kenapa, saya merasakan Waisai sedang membangun “pedalaman” tersebut menjadi lebih “modern”.

Lebih jauh lagi memasuki Waisai, saya melihat kompleks perumahan penduduknya, saat ini sudah ada 3 kompleks perumahan yang baru dibangun di Waisai. Kompleks dengan peletakkan rumah yang tersusun rapi dan grid jalan yang jelas. Dari namanya “kompleks perumahan 100”, “200” dan “300”, nampaknya setiap kompleks berisikan 100 rumah saja, menurut pendapat saya loh.

Di sana pun, saya mendengarkan kabar bahwa sebuah gedung pertemuan baru saja diresmikan. Yang bikin penasaran adalah nama gedungnya adalah “Gedung Pari”. Bentuknya benar-benar mengadaptasi bentuk ikan pari. Dan yang bikin saya heran, karena letak gedung itu kan di atas bukit, jadinya bagian “ekor”nya merupakan anak tangga dari atas hingga ke bawah dengan jumlah lebih 100 anak tangga. Gak kebayang, kalau setiap ada rapat atau pertemuan harus naik tangga sepanjang itu dulu. Saya gak ngerti apa gunanya tangga sepanjang ini, udah buang-buang duit, bikin orang ngos-ngosan, dan bentuk “ekor ikan pari”nya juga gak terlalu terlihat. Haduh, saya benar-benar tidak mengerti. Mungkin pemerintah setempat punya alasan lain kali ya. Saya mah sebagai turis cuma bisa komentar aja. Toh, udah terbangun juga bangunannya. Hehe.

Setelah puas cuci mata melihat “kota,” penasaran dengan pesona alamnya nih. Ada apa ya? Ide pertama setiap orang yang ke sini pasti pengen ke pantai, secara Raja Ampat gitu loh. Tapi jujur yah, hal itu ternyata salah besar. Jangan harap ke Raja Ampat bisa menemukan pantai dengan mudah seperti wisata pulau lain di Indonesia. Biasanya kalau ada pulau, pasti ada pantai kan? Tetapi kebanyakkan pulau di Raja Ampat merupakan pulau karang yang jarang ada pantainya.

Menurut kabar yang saya dengar, akhirnya pemerintah setempat membuatkan sebuah pantai reklamasi/buatan untuk masyarakat Waisai. Pantainya sendiri tidak luas dan pasirnya berwarna hitam. Walau begitu, pantai ini tetap ramai loh. Tepat disebelahnya, terdapat sebuah pelataran/anjungan dengan tulisan “Pantai WTC.” Pasti bingung kan dengan nama pantainya? Singkatan WTC ternyata adalah kependekkan dari kata Waisai Tercinta. Haha.

Harapan saya, apapun yang akan dibangun di Waisai nantinya, semoga tidak akan merusak lingkungan ya. Dan Raja Ampat tetap menjadi salah satu kebanggaan kita yang tiada duanya. [Apr ’11]

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

One Response to Ibukota Raja Ampat..
  1. sylvia manpioper says:

    Saya tinggal di waisai,tinggal di perumahan 100 sekarang pantai wtc menjadi luas dan nama wtc menjadi waisai totang cinta bukan lagi waisai tercinta:-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*