Explore Weh Island..

Hm, Pulau Weh, Aceh tenyata benar-benar surga atas bawah. Pesona eloknya dimulai dari daratan yang kaya akan pantai menawan, segarnya air terjun, peninggalan bangunan sejarahnya, hingga alam bawah lautnya yang benar-benar indah dan unik banget. Tidak heran pulau ini menjadi salah satu destinasi wisata yang banyak diminati oleh para turis. Hal ini terbukti dari banyaknya turis yang saya temui di pulau ini, yang kebanyakkan adalah turis asing. Kalau orang-orang asing itu banyak yang berbondong-bondong ke Pulau Weh, kita sebagai orang Indonesia gak boleh kalah dong. Yah gak!

Nah, sebenarnya Pulau Weh ini terkenal sekali dengan keindahan pantainya. Hampir sepanjang sisi timurnya dikelilingi dengan pantai pasir putih, misalnya Pantai Sumur Tiga, Pantai Kasih, Pantai Gapang dan Pantai Iboih. Hm, karena hampir semua pantainya berkarakter sama, saya ceritakan yang paling seru aja ya, yaitu Pantai Iboih. Jadi, di Iboih ini ada satu kegiatan yang tidak bisa dilakukan di pantai lainnya yaitu main ke pulau yang berada di seberangnya, namanya Pulau Rubiah. Nah untuk dapat bermain ke sana, kita dapat menyewa kapal di sekitar pantai Iboih. Di Pantai Iboih sendiri, selain pasir putihnya yang menghampar luas, gradasi warna hijau kebiruannya sangat menggoda sekali. Rasanya pengen cepet-cepet nyemplung ajah. Terus buat yang diver nih, di sini ada dive operator yang siap melayani kalian buat mengeskplor keindahan bawah laut Pulau Weh.

Selain pantai pasir putih yang saya sudah sebutkan tadi, ada satu pantai unik lagi nih. Bedanya, pantainya tidak berpasir putih melainkan pasir hitam, makanya dinamai Pantai Anoi Itam. Di sini ombaknya lumayan kenceng kawan, jadi hati-hati ya kalau main di pantai ini. Terus buat yang suka kuliner bisa cobain “rujak aceh” di sini. Bahan-bahan rujaknya sih mirip kayak rujak kebanyakkan, cuma ditambah 1 jenis buah khas Aceh, yaitu buah rubiah. Buat info ya, buah rubiah ini pas saya makan rasanya sepet banget, rasanya mulut ini nempel semua, cuci mulut pake air pun gak ilang rasanya. Tapi begitu buah rubiah ini dicampur jadi satu dengan buah lain alias dijadiin rujak, pahitnya jadi gak kerasa. Yang ada rasa rujaknya jadi unik sendiri dan enak segar rasanya. Wajib dicoba nih.

Lalu gak jauh dari Anoi Itam ini, ada sebuah bangunan peninggalan sejarah berupa bungker yang dulunya digunakan oleh tentara Jepang. Bungker Jepang ini sendiri letaknya di atas bukit. Karena sekarang dijadikan sebagai lokasi wisata, maka sekarang disediakan anak tangga untuk memudahkan para turis. Dari atas sinilah, para tentara Jepang dulunya mengawasi kapal-kapal yang datang dari luar. Di bungker ini juga terdapat meriam yang mungkin dulunya digunakan untuk menembak kapal asing yang dianggap musuh mereka. Dari atas bukit, kami bisa melihat pantai Anoi Itam yang tadi kami datangi. Pantai yang tadinya terlihat biasa saja, namun ketika dilihat dari atas, warnanya cantik banget. Gradasi hijau birunya pun terlihat sangat jelas. Gak nyangka pantai yang tadinya biasa aja buat kami, ternyata terlihat begitu menawan bila dilihat dari sudut pandang yang lain. Benar-benar membuat decak kagum.

Puas main di air asin, kami pun lanjut main ke air tawar. Setelah bosan main di pantai, kami segera menuju Air Terjun Pria Laot. Hm, nampaknya air terjun ini belum siap untuk dijadikan sebagai lokasi wisata, karena untuk mencapai lokasi air terjun sendiri, kami harus masuk-masuk hutan terlebih dahulu. Awalnya sih dari jalan utama telah disediakan jalan setapak, namun entah mengapa jalan tersebut putus di tengah. Kami pun melanjutkan perjalanan dengan melewati bebatuan besar dan menyebrangi beberapa sungai kecil. Bukan jalannya putus yang kami permasalahkan, tapi tidak adanya petunjuk arah disini yang bikin masalah. Dari awal, kami hanya mengikuti jalan setapak itu saja untuk sampai ke tujuan, terus kalau tiba-tiba jalannya putus, kami harus kemana dong? Malah ditengah hutan lagi. Untung aja, kami dari awal diarahkan untuk mengikuti sepanjang pinggir sungai, karena air yang mengalir di sungai berasal dari air terjun Pria Laot itu.

Setelah berjalan hampir 30 menitan, akhirnya sampai juga di air terjunnya. Hm, yah walau air terjunnya termasuk rendah bagi kami, tapi lumayanlah untuk main loncat-loncatan air. Awalnya saya pikir pasti jarang orang yang ke sini deh, namun ternyata pendapat saya salah. Gak lama setelah kami datang, mulai ramai orang berdatangan, mulai rombongan keluarga hingga bule lagi.

Ngomong-ngomong soal air tawar, di Pulau Weh ada sebuah danau besar yang menjadi satu-satunya sumber air tawar bagi penduduk pulau. Danau itu sendiri bernama Danau Aneuk Laot. Katanya, danau ini juga sering digunakan untuk rekreasi. Namun saat itu kami sendiri tidak mampir ke danau itu, kami hanya melihat dari seberang jalan utama.

Bangunan terakhir yang kami kunjungi ialah Monumen Nol Kilometer Indonesia. Ini merupakan titik paling ujung barat Indonesia. Rasanya bangga sekali telah berhasil menginjakkan kaki di titik barat ini, mimpi berikutnya adalah titik timur Indonesia : Merauke. Amin! Oiya, kalau kesini jangan lupa minta sertifikatnya yah. Sertifikat ini membuktikan kalau kamu udah pernah sampai ke titik nol kilometer Indonesia.

Berikutnya tunggu cerita kami jalan-jalan di Banda Aceh ya, kawan. [Jul ’11]

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*