Explore Bau-Bau, Buton Island..

Berbekal brosur yang kami dapatkan dari Dinas Pariwisata Bau Bau, kami pun segera menuju pantai yang menjadi jagoan pulau ini yaitu Pantai Nirwana. Ternyata, pantai ini cukup ramai dikunjungi oleh pengunjung yang merupakan masyarakat setempat. Banyak anak-anak dan keluarga yang berenang di pantai ketika itu. Walau pulau mereka dikelilingi pantai, namun pantai ini tetap menjadi favorit untuk bermain air. Yang disayangkan adalah banyaknya sampah yang berserakkan di sepanjang pantai. Jikalau masyarakat setempat sendiri tidak mau menjaga kebersihan pantai tersebut, ntah bagaimana nasib pantai ini ke depannya.

Di Bau Bau, ada satu restoran yang cukup terkenal di kalangan penduduk. Rasa penasaran pun mengantarkan kami ke sana. Restoran ini terletak di pinggir pantai yang namanya dijadikan nama restoran, Lakeba Beach Resto. Menu yang disajikan ternyata berbagai macam, ada sajian western maupun lokal. Namun jika ditanya harga, kurang lebih harganya sama dengan café di kota. Kami pun memilih duduk di pinggir pantai, dimana deretan tempat duduk telah tersusun rapi. Ini termasuk fasilitas yang modern untuk pulau sekecil ini. Bahkan ada sebuah dermaga yang dapat digunakan untuk bernasis foto ria.

Sebuah pengalaman lucu pun terjadi, ketika kami sedang duduk sambil menunggu makanan. Awalnya kami bisa melihat beberapa pulau di seberang sana, namun semakin lama satu persatu pulau itu pun mulai menghilang dari pandangan. Nah loh, kemana pulau-pulau itu? Tiba-tiba terlihat ada kabut tebal yang mulai mendekati ke arah kami. Beberapa saat kemudian semua pulau di seberang pun menghilang dari pandangan. Yang terlihat hanyalah kabut tebal saja di sekitar. Kekhawatiran kami pun mulai disambut dengan tetesan hujan. “Badaiiii!!” teriak kami. Kami pun segera berlari masuk ke dalam restoran. Fiuh! Dari jendela restoran, kami melihat pohon-pohon kelapa di pinggir pantai bergerak tanpa aturan akibat kencangnya angin. Doa pun segera dipanjatkan dalam hati, “semoga kami tidak apa-apa, ya Tuhan”. Syukurlah, tak lama kemudian hujan pun berhenti dan kami langsung mengebut kembali ke hotel di kota. Takuttt.

Oh ya, kelebihan lain dari pulau Bau Bau adalah adanya ruang publik yang tertata sangat baik. Bayangkan di tengah pulau, kita menemukan area terbuka publik dimana kita dapat bersantai dan mengunyah jajanan di pinggir Pantai Kamali. Banyak pulau-pulau besar kehilangan tanah untuk ruang publiknya, tetapi tidak dengan pulau kecil yang satu ini. Jalanannya pun tertata dengan baik sekali, benar-benar membuat kagum untuk skala pulau kecil. Apalagi dengan latar belakang birunya langit yang belum terkontaminasi oleh polusi, menambah kecantikan dan keindahan pulau ini.

Pulau ini sebenarnya terkenal dengan beberapa diving spot-nya. Sayangnya, potensi ini nampaknya belum benar-benar dikelola oleh pemerintah setempat. Hanya ada sebuah kelompok klub (komunitas) diving bernama Wasage yang mengurusi hal ini. Namun, klub ini pun nampaknya belum berjalan dengan baik. Kami pun yang ingin diving di sini dibuat kerepotan mencari klub diving ini. Kami menghubungi beberapa nomor handphone dari anggota klub, namun tidak ada yang berhasil. Kemudian, kami pun mencari langsung ke basecamp mereka. Tidak mudah mencari alamat di tempat asing dengan petunjuk yang sangat minim, kami pun tidak berhasil menemukan basecamp mereka. Hah, niat diving pun gagal, karena belum terorganisir dengan baiknya pengelolaan wisata diving di sini. Benar-benar sangat disayangkan. Andaikata, kami punya kesempatan kembali ke pulau ini, semoga dapat mencicipi alam bawah lautnya tanpa harus berepot-repot kembali ya. [Jan ’10]

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*