Di Ujung Selatan Jawa Timur..

Saat menginjakkan kaki di Sendang Biru. Hm, aroma lautnya begitu kental. Warna birunya langit dan laut pun sangat cantik. Jejeran kapal nelayan yang berwarna warni baris di pinggir pantai menambah sentuhan indahnya. Begitu melihat Sendang Biru, kata “wow” yang langsung keluar dari mulut saya. Dengan kamera di tangan, saya pun segera berjalan-jalan di sepanjang pantainya.

Di antara sisi kapal, saya melihat anak-anak yang asik bermain lompat-lompatan dari kapal. Iri rasanya melihat masa kecil penduduk pantai. Oops. Berjalan lagi, saya melihat banyak aktifitas para nelayan, ada yang sedang membersihkan kapal, memperbaiki kapalnya yang rusak dan ada yang sedang menurunkan hasil tangkapannnya. Yang terakhir itu, bagian paling seru. Beberapa orang bolak balik sambil membawa ikan di tangannya. Yang bikin saya bengong, ikannya tuh besar banget. Melihat saya yang terbengong-bengong, salah satu awal kapal itu pun berteriak kepada saya, “itu mah belum seberapa, mba. Ini nih yang lebih gede.” Dengan bangganya, dia langsung minta difoto sambil berpose dengan ikan tangkapan kebanggaannya. Haha.

Sebenarnya, bukan Sendang Birulah yang menjadi tujuan utama kami, melainkan pulau yang terletak persis di seberangnya. Namanya Pulau Sempu, atau kadang disebut Pulau Semut. Pulaunya deket banget, dari sini rasanya berenang pun sampai. Tapi gak mugkin berenang juga kan, barang-barangnya gimana dong? Kami pun menyewa kapal plus porternya. Porternya buat apa coba? Selain untuk menuntun jalan masuk menuju tengah Pulau Sempu, si porter itu juga membawa bahan makanan kami yang telah kami pesan untuk bercamping di pulau. Bahan makanannya apalagi coba selain ikan tangkapan nelayan Sendang Biru. Haha.

Yah, akhirnya kapal kami pun siap berangkat. Kapalnya tidak terlalu besar, hanya mampu mengangkut 8-10 penumpang saja. Sangkin deketnya, penyebrangan kami pun hanya 15 menit saja. Pertama kali sampai, saya hanya melihat bakau di sekeliling. “Hah, gak ada pantainya, bakaunya rapat gini kiri kanan,” ujar saya dalam hati. Tiba-tiba seseorang berkata, “trekking pun dimulai!” Hah, ini masih harus trekking ya? Oh, saya pikir cuma sampai sini saja, ternyata lanjut lagi. Hehe.

Iyaaa, adegan terobos hutan pun dimulai. Kami berjalan diantara pohon besar, beneran serasa naik gunung. Medannya pun tidak semuanya datar, tapi ada juga naik turunnya. Huff, perlu stamina yang fit lah. Berkali-kali kami berhenti untuk beristirahat. Ya ampun cape banget rasanya. Ini kapan sampainya sih? Sepanjang jalan kami hanya melihat pohon dan pohon, pohonnya besar-besar lagi. Hm, ini mau ke hutan atau ke pantai ya? Pantai kan di pinggir pulau, kok kami malah ke tengah hutan sih. Akhirnya, setelah berjalan lumayan lama dan cape banget. Deburan ombak pun terdengar. “Pantaiiiiiiiiiiiiiiiiii..” teriak kami. Begitu dengar bunyi ombak, kami pun segera mempercepat langkah kami. Hup hup.

Kalau tadi di Sendang Biru, saya bilang “wow.” Kalau di sini, saya berteriak “wooooooww!!” Ya ampun keren banget. Terbayarlah 1-1,5 jam trekking kami. Ini benar-benar private beach. Cuma ada kami di pantai ini. Wih, mantap! Yang bikin tambah “private” lagi, karena pantainya ada di tengah pulau. Saya jamin ini air laut bukan danau, karena airnya asin kok malah di dalamnya ada terumbu karang. Biar gak bingung, jelasin pelan-pelan ya. Pulau ini dikeliling oleh tembok karang. Namun di tengah tembok karang itu, ternyata ada yang bolong karena terjangan ombak. Nah, melalui lubang besar itulah air laut pun masuk ke dalam pulau. Air yang masuk itu yang sekarang menjadi “private beach” yang kami maksud. Kalau kata orang sih, pantai ini disebut Karang Bolong atau sering juga disebut Segara Anakan. Entah mana yang benar?

Pengalaman di sini benar-benar beda deh, terasa aman main di “laut,” soalnya gak akan terbawa arus ke tengah. Dari segala pantai dengan sebutan “private beach” mulai dari Sumatra sampai Papua, menurut saya ini yang paling oke. Serasa punya kolam air asin pribadi. Kalau di hotel mewah, kita harus bayar mahal untuk nyobain kolam air asinnya (pantai yang ditembok untuk dijadikan kolam renang). Kalau di sini, tanpa perlu merusak alam, kita sudah dapat fasilitas exclusive tersebut.

Nah, kelemahannya di sini, karena bener-bener di alam, jadi hanya mendapatkan fasilitas alam. Kalau mau tidur yah harus bikin tenda dulu, kalau mau makan yah harus bikin api unggun dulu, kalau mau ke kamar kecil yah pergi ke semak-semak, kalau mau mandi air tawar yah jangan harap. Hahaha.

Begitu malam, api unggun pun segera dinyalakan. Kalau gak bisa nyalain api, jangan khawatir si mas porter siap membantu. Loh, porternya masih ada toh? Yaiyalah, bahkan si mas porter itu selalu ada, sampai kami pulang nanti. Yang lucunya, si mas porter selalu menghilang, tapi kalau dipanggil pasti nonggol. Hii, pada merinding yah. Haha. Gak kok, dia masih manusia beneran. Cuma karena takut ganggu kali yah, jadi si mas itu suka istirahat di atas pohon. Bahkan malam ini pun, si mas poster tidurnya di pohon.

Kami juga gak mau kalah dong. Dari 5 tenda yang dipasang, gak ada satu pun yang mau tidur di dalam. Semuanya lebih memilih tidur di luar, di atas pasir. Hayo, kenapa? Karena semuanya pada mau “make a wish!” Haha. Kalau melihat ke arah langit, bintangnya banyak banget. Bintang jatuhnya pun juga banyak banget-nget. Setiap setengah menit bisa ada 2-5 bintang jatuh. Sampai bingung milihnya. Begitu saya lihat bintang jatuh, dalam hati pun langsung komat kamit. Eh, belum selesai nyebutin permintaan, udah keburu hilang bintangnya. Ah, gak perlu bingung. Permintaannya bisa disambung ke bintang jatuh berikutnya.

Selain hal menyenangkan tersebut, poin penting ketika liburan di sini adalah menjaga kebersihan lingkungan. Karena ini beneran di alam, jadi kalau bawa sampah harap dibawa pulang kembali. Nanti begitu sampai di tempat yang ada tong sampahnya, baru dibuang di situ. Jangan sampai akibat kemalasan kita cuma buat nyimpen sampah kita sendiri, jadi bikin alam rusak. Saya pernah dengar Pulau Sempu ditutup beberapa minggu, karena pulau tersebut banyak sampahnya. Heran yah, sampah diri sendiri ajah, pada males bertanggung jawab. Yah, kalau kalian malas nyimpen sampah kalian sendiri, yaudah gak usah bawa makanan yang bungkusnya bisa jadi sampah. Jangan sampai kita mau enaknya ajah, bawa snack ini itu, makan ini itu, tapi giliran sampah ini itu nya dibiarin di situ.

Sudah cukup saya mendengar image Pulau Tidung sebagai pulau sampah, sesudahnya saya dengar Pulau Sempu yang ditutup karena sampah. Berikutnya, mau pulau yang mana lagi?! Ayo, tujuan utama kita ke sana buat liburan kan, bukan buat buang sampah di sana. Nah, jadilah wisatawan yang baik, apalagi untuk negara kita sendiri. [Jun ’08]

Additional information 

– Sewa kapal PP (Sendang Biru – Sempu) dengan porter : Rp 125.000,-

Untuk penginapan : harus tenda kalau di Pulau Sempu, tapi ada beberapa rumah penduduk yang menyewakan kamar kalau mau menginap di Sendang Biru

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*