Ubud : Gua Purbakala dan Istana Presiden..

Ubud sangat terkenal dengan suasana pegunungannya yang asri nan sejuk. Ternyata tidak hanya keasrian alamnya yang menarik banyak wisatawan untuk berkunjung, namun banyak objek menarik lainnya seperti Pura maupun Istana Presiden.

Dimulai dari gua purbakala yang dikenal dengan Gua Gajah. Berada pada jalur wisata Denpasar-Tampak Siring-Danau Batur-Kintamani, membuat objek wisata ini sangat mudah dicapai. Loh, katanya mau bercerita tentang pura, kenapa jadi gua?

Gua Gajah sebenarnya lebih tepat disebut sebagai pura. Diperkirakan dibangun pada abad kesebelas dan merupakan peninggalan Kerajaan Bali Kuna. Namun karena bentuknya yang seperti gua, maka dikenal dengan sebutan Gua Gajah. Pintu masuk ke dalam pura tersebut merupakan bagian ‘mulut’ yang terbuka dari sebuah ukiran raksasa besar. Gua-nya sendiri merupakan gua batu dengan dua patung penjaga di kiri kanan pintu masuknya. Gua ini hanya bisa dimasuki oleh satu orang, sehingga bila ingin masuk ke dalamnya harus bergantian. Bagian dalamnya berbentuk huruf T, dengan kiri kanan lorongnya terdapat 15 ceruk, yang dulu dipercaya sebagai tempat untuk bertapa atau semedi. Di salah satu lorong terdapat arca (patung) Ganesha sedangkan di sisi lorong satunya lagi terdapat Trilingga.

Di dalam kompleks Gua Gajah juga terdapat kolam kuno dengan tujuh patung widyadara dan widyadari yang sedang memegang air suci. Konon, ketujuh patung ini merupakan simbol dari 7 sungai suci di India, yang merupakan tempat kelahiran agama Hindu.

Setiap pengunjung harus menggunakan kain yang disediakan pada pintu masuknya. Bagi yang menggunakan celana/rok pendek, kain tersebut digunakan untuk menutupi pinggang hingga kaki, seperti memakai kain sarung. Sedangkan bagi yang memakai celana/rok panjang, kain hanya diikatkan pada pinggang. Kain tersebut dapat dikembalikan ketika akan meninggalkan kompleks ini.

Tidak jauh dari Gua Gajah, terdapat sebuah pura lain bernama Pura Tampak Siring atau dikenal juga dengan nama Pura Tirta Empul. Tampak Siring berasal dari bahasa Bali, yang mempunyai arti telapak miring. Konon, nama itu berasal dari bekas tapak seorang raja yang bernama Mayadenawa. Raja tersebut sangat sakti, namun sayanganya dia sangat sombong. Dia menganggap dirinya sebagai dewa dan menyuruh rakyat untuk menyembahnya. Hal ini membuat Batara Indra marah dan mengirimkan pasukan untuk menangkapnya. Mayadenawa pun melarikan diri ke hutan. Ia berjalan dengan memiringkan telapak kakinya, untuk mengelabui para pasukan agar tidak mengenali jejak kakinya. Walaupun demikian, ia tetap tertangkap juga. Mayadenawa pun sengaja menciptakan mata air yang beracun sebagai jebakan. Dia berharap agar para pasukan tersebut kehausan dan meminumnya, sehingga mereka akan tewas keracunan. Namun Batara Indra kemudian menciptakan mata air lain yang berfungsi sebagai penawar racun, yang sekarang disebut Tirta Empul (air suci). Karena alasan inilah sehingga pura ini juga disebut Pura Tirta Empul.

Pura Tirta Empul adalah salah satu dari enam pura penting di Bali seperti Pura Besakih dan Pura Uluwatu. Para pengunjung pun hanya diijinkan masuk hingga halaman pura-nya saja. Sama dengan peraturan di Gua Gajah, karena kami menggunakan celana pendek, maka kami harus menggunakan kain panjang yang telah disediakan. Di pura ini terdapat sumber mata air suci yang sangat disakralkan. Para umat biasanya melakukan meditasi dan mandi di sini. Mata air suci ini dipercaya dapat menyembuhkan penyakit.

Sedangkan Istana Presiden yang dimaksud berada tepat di sebelah Pura Tirta Empul, bahkan seperti terletak dalam satu kompleks kawasan yang sama. Dari kompleks Pura Tirta Empul, kita dapat memasuki istana ini hanya dengan menaiki anak tangga saja. Maka tidak heran istana ini disebut juga dengan nama Istana Tampak Siring.

Disinilah, atas prakarsa Presiden Soekarno untuk membangun kediaman peristirahatan bagi keluarga dan tamu-tamu negara. Istana ini merupakan istana pertama yang dibangun setelah Indonesia merdeka, yaitu pada tahun 1954.

Kompleks istana ini dibangun secara bertahap dengan arsiteknya adalah R.M Soedarsono. Terdiri atas empat gedung utama yaitu Wisma Merdeka, Wisma Yudisthira, Wisma Negara dan Wisma Bima. Namun sayangnya, kami tidak sempat masuk ke dalam kompleks istana ini.

Di sini saya, dapat melihat keunikan antara perpaduan peninggalan kerajaan terdahulu dengan sejarah bangsa. Rasanya seperti baru saja mendapatkan pelajaran sejarah zaman kerajaan langsung disambung dengan sejarah pasca kemerdekaan. Benar-benar dua cerita dengan rentang waktu yang sangat jauh namun menarik, bukan? [Oct ’07]

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

2 Responses to Ubud : Gua Purbakala dan Istana Presiden..
  1. vike says:

    ga sempat masuk apa ga boleh ya?
    soalnya waktu saya ke tampak siring dulu emang katanya ga boleh masuk ke komplek presidennya…

    • kelilingbumi says:

      Gak sempet masuk, soalnya keburu ujan
      Tapi wktu itu gak nanya juga, boleh atau gak nya, haha

      Kelihatannya gak boleh sembarangan masuk juga sih
      Soalnya, itu kan tempat peristirahatan keluarga presiden =)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*