Peninggalan Kesultanan Deli..

Ini salah satu pengalaman seru saya. Walaupun tidak sampai 24 jam bermain di kota ini. Tapi pengalaman di kota ini, benar-benar ter-ngiang dalam memori saya. Saya perjelas pengalaman menyetir mobil di Medan, tepatnya.  Biasanya saya butuh ekstra “sabar” untuk menyebrangi lautan kendaraan di ibukota. Sedangkan di Medan, saya butuh super duper ekstra “sabar amat sangat.” Hampir tidak ada yang menaati peraturan lalu lintas, misalnya menyetir dengan kecepatan tinggi di jalanan padat sehingga kalau ngerem amat sangat tiba-tiba, tidak ada yang menggunakan lampu sen ketika berbelok bahkan lampu merah pun diterobos begitu saja. Haha. Makanya tak banyak tempat yang kami datangi di Medan. Apalagi keesokan harinya, kami harus terbang lagi dengan pesawat yang lebih kecil untuk mencapai suatu daerah di Sumatra Utara.

Kebetulan saya menginap di  hotel yang letaknya di depan Mesjid Raya Medan. Begitu sampai di kamar hotel, saya langsung mencari jendela untuk melihat mesjid tersebut. Hah, sayangnya dari jendela kamar saya tidak bisa melihatnya. Tidak habis akal, saya pun mencari lift ke rooftop. Yap, saya berhasil menemukannya. Hehe. Tidak sembarangan orang bisa meng-akses daerah rooftop loh. Beruntung sekali, ketika itu saya tidak bertemu dengan satu pun pelayan hotel. Aman deh.

Dari atas, saya dapat melihat kota Medan dengan sudut 360 derajat, termasuk Mesjid Raya tersebut. Saya melihat berbagai bentuk atap rumah-rumah penduduk. Tidak banyak gedung bertingkat tinggi yang dapat saya temukan. Karena begitu teriknya matahari, saya pun segera mengambil beberapa foto dan bergegas turun ke bawah. Melihat jam masih menandakan hari masih siang dan kebetulan ada pinjaman mobil yang bisa digunakan. Kami pun segera berkeliling kota.

Tujuan pertama adalah Istana Maimun, letaknya di Jalan Brigjen Katamso. Dibangun pada tahun 1888 oleh Sultan Deli, Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Bangunan yang didominasi dengan warna kuning ini mempunyai interior yang khas dan klasik. Semua perabotan yang terdapat di dalamnya benar-benar terawat dengan baik walau tanpa terbungkus oleh kotak (frame) kaca. Baik bangunan maupun perabotan di dalamnya sangat kental dengan nuansa Melayu. Untuk masuk kesini tidak dipungut biaya tertentu, hanya sumbangan sekedarnya saja.

Selesai dari sini, kami pun memutuskan untuk kembali ke Mesjid Raya, takut hari keburu sore. Mesjid yang bernama lengkap Masjid Raya Al Ma’sun Medan juga merupakan peninggalan dari Kesultanan Deli, Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Mesjid ini terletak di Jalan Sisingamangraja. Diperkirakan mesjid ini dibangun pada tahun 1906 M.

Kami pun berkeliling kompleks mesjid tersebut, yang ternyata berbentuk segi delapan. Bangunan yang kaya ornamen di sekelilingnya, memiliki kubah yang berjumlah 5 buah, dengan kubah paling besar berada diatas bangunan utama dan 4 kubah lainnya di setiap bagian sayapnya. Walaupun usianya lebih muda sedikit dari Istana Maimun, namun bangunannya masih sama kokohnya.

Keduanya bangunan ini merupakan bangunan yang mempunyai umur seabad lebih. Namun kondisinya terawat dengan baik, sehingga kita anak cucu bangsa ini masih tetap dapat belajar dan menikmati peninggalan terdahulu. Ini adalah salah sekian dari segelintir peninggalan sejarah yang kondisinya sangat baik di negeri ini, menurut saya. Semoga aset bangsa yang lain pun dapat kita jaga dengan baik. [Oct ’08]

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

One Response to Peninggalan Kesultanan Deli..
  1. ferdy says:

    woww.. nais..
    lanjutin jelajah sumatera dnk mbak, ama wilayah timur, ato minta share pengalaman aja ama kontributor yg pernah ke indonesia timur ataupun sumatera 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*