Ke Selatan Tanah Toraja..

Yuk lanjutin cerita sebelumnya ya.

Setelah selesai mengeksplor daerah utara, kami kembali ke kota untuk makan siang dan melanjutkan jelajah wisata di bagian selatan. Ya ampun, pas lagi mau pulang motor kami jatuh dong. Malah di kirinya adalah dinding tebing dan kanannya jurang lagi. Kami terlempar ke arah dinding tebing, untung saja gak nabrak tebingnya. Sedangkan motornya terpeleset ke arah jurang, untung gak terjun bebas ke bawah tuh motor. Ya ampun! Syukurlah kami gak kenapa-kenapa, lecet pun cuma sedikit. Kami pun langsung panik, “motornya rusak gak nih?” Hah, untung cuma lecet saja, setirnya gak bengkok dan masi bisa jalan normal. Cuma lecetnya putih-putih kelihatan gitu, waduh gimana nih? Bimsalabim! Untung saya bawa spidol permanen warna hitam, dan kami segera mewarnai lecetnya si motor. Walaupun gak mulus banget, setidaknya lecetnya jadi samarlah. Hehe.

Lalu objek pertama di selatan yang kami datangi ialah Buntu Pune. Di sana terdiri 2 rumah dan 6 lumbung padi, di belakangnya terdapat sebuah benteng pertahanan di mana kami dapat melihat pemandangan dari situ. Entah mengapa di sini, tidak ada loket tiket seperti pada objek wisata lainnya. Jadi, kami tidak membayar apa-apa di Buntu Pune.

Kemudian kami berlanjut ke Londa, objek wisata yang paling terkenal di Tanah Toraja. Ini adalah sebuah tempat pekuburan dinding berbatu dengan patung-patung yang disebut tau-tau di depannya. Tau-tau adalah patung dibuat semirip mungkin dengan jenazah diletakkan di kuburan baru ini. Namun tidak semua jenazah dibuatkan patungnya, hanya orang-orang tertentu saja. Di dalamnya terdapat lubang pintu masuk, tempat meletakkan peti-peti jenazah di dalamnya. Setiap pengunjung diwajibkan menggunakan jasa guide, karena tempat ini dianggap sakral. Pengunjung tidak boleh berkata sembarangan atau pun memindahkan segala sesuatu yang terdapat di sini. Untuk jasa guide-nya sebenarnya tidak ada harga tetap, namun ketika itu kami membayar sebesar Rp 30.000,-

Lalu berpindah ke Ke’te’ Kesu, di sana terdapat beberapa tongkonan, lumbung padi, dan batu-batu besar yang disusun di antara persawahan. Ke’te’ Kesu’ terkenal dengan pahatannya yang bagus dan bernilai tinggi serta merupakan tempat yang bagus untuk membeli souvenir. HTM : Rp 5.000,-

Hah, inilah tempat yang paling susah dan ekstrem untuk dijangkau, yaitu Pala’ Tokke. Kami benar-benar tertipu dengan brosur. Dalam brosur, gambar objek wisata Pala’ Tokke yang disajikan benar-benar menarik dan berbeda dengan kenyataannya. Kira-kira gambaran dalam brosurnya menunjukkan sederetan tengkorak di atas batu dengan latarbelakang rerumputan. Yah, antara horror sama penasaran sih? Namun karena masih siang, kami memberanikan diri ke sana. “Sudah kepalang di Toraja kan, lagipula matahari masih terang benderang gini,” ujar dalam hati untuk memberanikan diri. Memang sih, dalam brosur tertulis jelas-jelas bahwa Pala’ Tokke merupakan pekuburan gantung, tapi gambar di brosur sama sekali tidak menunjukkan seperti apa kuburan gantung yang dimaksud.

Ketika sampai di tempat, ya ampun apa yang kami lihat kayaknya gak sebanding dengan perjuangan kami sampai ke sana. Yah walau saya akui, ada beberapa tengkorak yang berderet, tapi begitu saja tanpa ada yang spesial. Udah malah paling jauh, papan petunjuk ke sini gak jelas (cuma ini loh yang bikin kami nyasar), melewati jalan setapak di tengah sawah (pake motor lagi), naik turun jalan tanah dan sampai harus berjalan kaki sambil mengiring motor karena medannya sulit kalau sambil naik motor. Benar-benar cape banget lah. Mungkin karena alasan medan yang sulit itu membuat jarangnya pengunjung sehingga tidak terdapat loket tiket di sini.

Setidaknya kami berhasil mengunjungi 90% dari objek yang terdapat di brosur. Yah, sisa 10% nya gak begitu menarik gitu, sama saja kayak yang sebelumnya, tongkonan atau kuburan batu lag. Tapi itu udah termasuk hebat loh. Bahkan mulai dari pelayan hotel, orang di restoran ataupun orang yang tidak sengaja ketemu di jalan pada kagum sama kami. Ketika mereka bertanya “kalian udah ke sini belum?” atau “kalau di sana atau yang ini?” atau “terus yang utara atau selatan itu?” Kami menjawab dengan semangat “sudah dong!” Haha.

Kenapa kami bisa begitu dikagumi? Karena setiap turis yang datang ke sana, biasanya menghabiskan Toraja minimal 2 hari. Hari pertama ke utara dan hari kedua baru ke selatan atau sebaliknya. Tapi kami menghabiskan utara hingga selatan dalam satu hari. Keren kan.

Mungkin ini juga dikarenakan hampir seluruh objek wisata di Toraja, mempunyai petunjuk jalan yang jelas. Sangat mudah sekali mencari tempat di brosur tersebut. Setiap berapa meter pasti ada petunjuk jalan berikutnya. Kemungkinan untuk nyasar kecil banget rasanya. Kalaupun sampai nyasar, tinggal tanya penduduk saja, pasti ditunjukin arah yang benar.

Karena sudah menghabisi hampir semuanya, akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan Toraja malamnya. Bayangkan di Toraja tidak sampai 24 jam, tapi kami sudah bisa dikatakan menamatkan Toraja. Puas banget lah. [Jan ’10]

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>