Kapal Pesiar dan Komodo..

Sekitar awal tahun 2009, kapal pesiar asing tempat saya bekerja, Holland America Lines, turun sauh di perairan laut Flores. Saya, kru kapal, serta ratusan tamu dari berbagai belahan dunia mengunjungi salah satu tempat yang menjadi salah satu nominasi 7 Keajaiban Dunia, Komodo. Hewan buas itu hidup sejak beratus-ratus tahun lalu dan hidup dalam populasi yang seimbang di habitatnya di Kepulauan Komodo, Flores Timur Indonesia. Sudah ratusan bahkan mungkin ribuan orang mengunjungi kepulauan itu. Baik dengan menggunakan media kapal pesiar, ikut paket tur “sailing trip,” atau menyewa kapal pribadi.

Tentu saja setiap paket tur yang kamu pilih mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing. Itu semua bisa disesuaikan dengan budget finansial dan waktu liburan yang tersedia serta jenis liburan seperti apa yang ingin kamu rasakan.

Dua dari tiga cara di atas sudah pernah saya lakukan; ikut tur dari kapal pesiar dan ikut paket tur “sailing trip.” Keduanya punya nilai cerita yang berbeda-beda. Tetapi ada satu hal yang mengganggu pikiran saya hingga saat ini.

FS - Thofan - Komodo

Ketika saya mengambil paket tur “sailing trip,” salah seorang kru bercerita tentang persentase jumlah wisdom (wisatawan domestik) dan wisman (wisatawan mancanegara) yang berkunjung ke Kepulauan Komodo. Hingga saat tulisan ini diketik, jumlah wisdom hanya sekitar 800-an kepala, sedangkan wisman mencapai 19.200-an kepala. Padahal letak Flores tepat berada di Indonesia bagian tengah, sehingga secara letak geografis cukup memudahan masyarakat Indonesia berkunjung ke pulau itu. Lantas ke mana sisa masyarakatnya?

Ada banyak faktor dan alasan pribadi yang menyebabkan masyarakat kita kurang peduli. Faktor finansial tentu menjadi alasan utama bagi kebanyakan orang, ditambah dengan faktor waktu dan juga yang tidak boleh ketinggalan disebut adalah faktor gengsi. Pulau Komodo, Flores. Seberapa terkenalnya kah tempat itu di mata dunia dan masyarakat setempat? Membayar mahal dan menghabiskan waktu berhari-hari, berpanas-panasan dll, dsb, hanya sekedar untuk melihat binatang reptil buas? Di kebun binatang juga bisa. Lebih murah dan tidak membuang waktu banyak, bahkan lebih aman dan nyaman. Kenapa harus bersusah payah? Jujur, jika kalimat itu keluar dari seseorang yang sudah berumur di atas 50-an dan sakit-sakitan, tidak mendapatkan dana pensiun cukup dari pemerintah, sedang ditinggal oleh semua keluarga dan bisnis sampingannya mengalami gulung tikar dan sedang dalam rehabilitasi kecanduan alkohol, saya akan jauh lebih menghargainya. Tapi, jika itu keluar dari mulut mereka yang masih berumur muda, bahkan lebih muda dari saya. Dengan penghasilan perbulannya bisa mencapai beberapa juta, bahkan puluhan, dan sehat walafiat dengan gaya hidup yang dahsyat, wah,  secara pribadi saya tidak habis pikir.

Saya ingat sekali, dari sekitar 200-an pekerja Indonesia yang bekerja di kapal saat itu, termasuk saya, bersedia menyisihkan US $10 dan waktu istirahatnya yang bisa dihitung jari untuk melihat dan memberi kontribusi ke Pulau Komodo. Selebihnya dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal menolak untuk mengunjungi Pulau Komodo tersebut. Lantas bagaimana dengan mall-mall besar di Singapura, Hongkong, Sydney, Eropa, USA, Hard Rock café, casino dkk? Waktu 2 jam terasa sangat cepat berlalu kan? Bahkan bila perlu, ganti shift atau mencuri waktu agar bisa keluar sebentar dan berfoto demi mendapatkan profile picture; Starbucks New York. Padahal untuk ke sana, bukan hanya waktu dan tenaga, dana lebih juga harus disiapkan. Karena agar bisa menghemat waktu harus menggunakan jasa taxi.

Sungguh menyedihkan, ketika beratus-ratus tamu yang rata-rata berumur di atas 50, ketika makan malam dengan asyiknya bercerita tentang keunikan dan keelokan Komodo, para waiter dan pekerja lainnya sibuk merencanakan di kota atau negara mana sebaiknya membeli pakaian ini atau elektronik itu. Dan ketika tamunya bertanya tentang sebuah kota di negaranya (kebetulan di perusahaan saya, semua waiter di restauran utama adalah dari Indonesia) mereka hanya bisa menjawab “I have never been there, but I heard it’s good. You should go there, Sir, Madam!” sekian dan terima kasih. Ironis…

Padahal dengan pernah mengunjungi daerah tersebut, bkan hanya menambah informasi dan pengalaman, melainkan juga memberi kontribusi ke bidang pariwisata dan perekonomian masyarakat sekitarnya. Terbukti masih banyak di antara kita yang lebih peduli memberi dan menerima semua itu dari / ke negara / bangsa lain. Rumput tetangga memang terlihat lebih hijau, tetapi haruskah kamu terus menyiram dan memupuknya juga sedangkan rumputmu sendiri tidak terawat? Padahal jika benar “rumput tetangga terlihat lebih hijau” berarti dengan kata lain kiasan itu dapat diterjemahkan secara bebas menjadi, “rumputku terlihat lebih hijau, gumam tetanggaku!”

Mulailah mencintai dan menghargai yang kita miliki, yang diberi Tuhan kepada kita. Cobalah sesekali untuk berpikir dan melihat dengan cara keluar dari “kotak”mu (out of the box). Dengan demikian kamu bisa melihat dan berpikir lebih objektif dan jelas. Pada saat itu, kamu akan setuju dengan kiasan lucu bahwa Tuhan sedang tersenyum ketika Dia menciptakan Indonesia. Puji Tuhan, sebagian dari kita sudah membuktikan dan jutaan turis mancanegara juga menyetujui bahwa Indonesia merupakan salah satu surga dunia yang sangat layak untuk dikunjungi. Hanya orang-orang merugi yang tidak mau merasakan surga, bukan?

Thofan Meninao (www.meninao.tumblr.com)

Seorang kru Holland America Lines, yang telah mengunjungi banyak negara-negara di dunia. Walau kaya akan dengan pengalaman traveling di luar, dia pun tidak berhenti untuk ber-traveling di negaranya sendiri, Indonesia. Setiap kembali ke Indonesia, dia selalu menghabiskan waktunya untuk mengeksplor pelosok nusantara. Menurutnya, banyak hal indah di Indonesia yang belum pernah ditemuinya di negara lain.

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

2 Responses to Kapal Pesiar dan Komodo..
  1. thofan says:

    hahaha… saya nongol di kelilingbumi bangga euy!!! :))))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*