Kampung Naga di Indonesia..

Kampung Naga merupakan sebuah kampung wisata tradisional yang terletak di desa Neglasari, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Luasnya kurang lebih sekitar 4 ha. Pasti banyak yang berpikir kalau lokasinya susah diakses. Jangan salah, letaknya sangat mudah dijangkau, karena berbatasan dengan ruas jalan Tasikmalaya-Garut. Di dalam kawasan ini juga telah difasilitasi dengan area parkir, jadi jangan takut untuk yang membawa kendaraan pribadi. Begitu melihat papan bertuliskan Kampung Naga, segera menepikan kendaraan, terus masuk ke parkiran dan sampai deh. Kawasan ini telah dikelola sedemikian rupa sebagai salah satu destinasi wisata Tasikmalaya, jadi jangan berpikir kalau ini adalah sebuah kampung di antah berantah ya. Haha.

Sayangnya ketika kami datang, cuaca kurang bersahabat, sedikit gerimis telah membasahi kepala. Menunggu di dalam mobil rasanya percuma juga, dengan bermodal payung kami pun memutuskan untuk berkeliling. Setiap pengunjung yang ingin memasuki Kampung Naga harus didampingi oleh seorang guide, yang kebanyakkan adalah penduduk asli Kampung Naga itu sendiri. Untuk ongkos para guide, tidak dipatok dalam suatu kisaran harga tertentu, besar bayarannya terserah keikhlasan pengunjung.

Untuk memasuki perkampungan itu, kami harus menuruni anak tangga dengan kemiringan sekitar 45 derajat, dengan jumlah ratusan lebih (saya sendiri tidak menghitungnya, karena sibuk berkonsentrasi agar tidak terpeleset karena hujan). Ketika sedang menuruni anak tangga, guide kami menawarkan untuk mengambil foto dari salah satu spot. “Cuma dari sini bisa mengambil foto keseluruhan Kampung Naga,” ujar bapak guide. Dari situ terlihat kumpulan atap rumah yang tertutupi oleh ijuk. Suasana tradisional dan asri terpancar dari perkampungan tersebut, karena Kampung Naga  dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leluhumya. Setelah selesai dengan beberapa jepretan. Kami pun melanjutkan perjalanan menyusuri tepian Sungai Ciwulan.

Nah sekarang, kami telah berada di antara rumah-rumah penghuni Kampung Naga. Bentuk bangunan di sini dibangun seragam, yaitu dinding dari anyaman bambu, pintu yang terbuat dari rotan, atapnya dari rumbia yang dilapisi ijuk dan arah bangunan yang berorientasi ke utara maupun selatan. Inilah yang menjadi daya tarik dari Kampung Naga.

Selain arsitektur bangunannya, upacara-upacara adat pada Kampung Naga juga menjadi daya tarik tersendiri, seperti upacara adat dan upacara hari-hari besar Islam. Pengunjung dapat menyaksikan upacara-upacara tersebut dengan syarat mau mematuhi peraturan yang berlaku saat pelaksanaannya

Perkampungan ini juga menolak adanya listrik dalam bangunan mereka. Mereka memiliki beberapa alasan kuat mengapa menolaknya. Penduduk khawatir listrik dapat menyebabkan kebakaran, karena hampir seluruh rumah penduduk terbuat dari kayu dan bambu. Listrik juga dirasa dapat menimbulkan kesenjangan sosial di antara penduduk, karena dapat menyebabkan terjadinya perlombaan membeli perabotan elektronik di antara warganya. Alasan lainnya, mereka sangat men-tabu-kan televisi dan radio, karena acara yang disajikan media elektronik tersebut dapat mempengaruhi psikologis anak-anak mereka.

Lalu mengapa desa ini disebut Kampung Naga? Menurut suatu cerita yang sumbernya tidak dapat saya pastikan kebenarannya (saya hanya mencoba menceritakan hal yang saya ketahui loh), ceritanya bermula pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, menugaskan seorang abdinya yang bernama Singaparana untuk menyebarkan agama Islam ke arah Barat. Ia pun sampai ke daerah Neglasari. Di tempat tersebut, Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem Singaparana. Suatu hari “Sa Naga” yaitu Eyang Singaparana mendapat petunjuk untuk bersemedi. Dalam persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga. [Nov ’09]

Additional information

– Biaya parkir : Rp 6.000,-/car

– Jasa guide lokal biasanya kisaran Rp 50.000an

© kelilingbumi.com. All rights reserved. Do not duplicate without permission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*